Satgas Pangan Polri, Taruhannya Jabatan Jenderal Tito

0
522
Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian (tengah), Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kedua kanan), Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (kedua kiri), Dirut Bulog Djarot Kusumayakti (kiri) dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Syarkawi Rauf (kanan) saling bertumpu tangan seusai rakor melalui "video conference" dengan jajaran polda seluruh Indonesia di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/5). Rakor tersebut membahas soal ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan dan lainnya menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 2017. ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/aww/17.

Nusantara.news, Jakarta – Untuk mencegah terjadinya kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, Mabes Polri membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pangan, bekerjasama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Pembentukan Satgas tersebut menindaklanjuti instruksi Presiden Joko Widodo  yang memerintahkan adanya stabilitas harga pangan menjelang bulan puasa sampai Idul Fitri mendatang.

“Satgas Pangan Mabes Polri dipimpin Irjen Pol Setyo Wasisto. Di tingkat polda dipimpin Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda. Mereka akan melakukan langkah preventif sampai penegakan hukum. Hasilnya akan dievaluasi setiap dua minggu,” ujar Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, usai rapat koordinasi bersama Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Dirut Bulog Djarot Kusumayakti dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Syarkawi Rauf di Mabes Polri, Jakarta, kemarin (3/5).

Kapolri mengatakan, pada prinsipnya ketersediaan pangan cukup hingga lebaran, baik yang bersumber dari produksi dalam negeri maupun impor. “Stok beras kita hingga hari ini sebanyak 2,2 juta ton,” kata Tito. Kenaikan harga pangan selama ini, ujarnya, disebabkan mata rantai distribusi yang dipermainkan spekulan yang memonopoli harga.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua KPPU Syarkawi Rauf. Ketidakstabilan harga pangan, katanya, akibat ulah spekulan yang melakukan monopoli harga pada saat rantai distribusi berjalan. “Satgas Pangan yang dipimpin kepolisian akan melakukan pemantauan rantai distribusi. Kalau di titik-titik distribusi ada yang melakukan permainan, kami bersama Polri akan menindak setegas-tegasnya,” katanya.

“Tugas Satgas Pangan itu menindak para spekulan sehingga menimbulkan efek jera,” tegas Kapolri. Khusus di tingkat polda, Tito sudah berpesan agar setiap pengungkapan kasus dilakukan ekspose sehingga memberikan efek jera kepada para spekulan. Begitu juga di tingkat Mabes Polri.

Tito bahkan mengultimatum anak buahnya untuk melakukan tindakan tegas jika menemukan penyimpangan distribusi pangan. “Saya sudah perintahkan Dirreskrimsus untuk memantau harga pangan di daerahnya. Kalau ada kenaikan harga yang tidak wajar, segera ditindak dan diekspos sebagai bentuk penjeraan,” kata Tito.

Kapolri mengancam, jika masih ada kenaikan harga di daerah, dan tidak ada penindakan oleh Polda setempat,  maka Dirreskrimsusnya akan diberhentikan dari jabatannya. “Saya akan copot Dirreskrimsusnya dalam waktu satu bulan. Saya cari pengganti yang lebih keras lagi,” katanya.

Sementara, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto mengatakan Satgas ini akan langsung bekerja. “Mudah-mudahan dalam menghadapi bulan puasa dan lebaran, harga tidak bergejolak terlalu tinggi akibat faktor supply and demand yang tidak terkontrol,” tegasnya.

Sebelumnya, tugas penegakan hukum di bidang ini dilakukan secara melekat oleh bagian reserse, baik di Bareskrim Polri maupun di struktur kewilayahan Polri. Jadi Satgas Pangan ini merupakan satuan tugas pertama yang dibentuk Polri dalam menangani distribusi di sektor riil.

Pembentukan satgas khusus ini memperlihatkan keseriusan Polri untuk membantu stabilitas harga bahan pangan. Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan ancaman Tito Karnavian yang akan mencopot Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda yang dinilai tidak melakukan penindakan terhadap pelaku spekulasi harga pangan.

Sebetulnya, pemantauan dan penindakan terhadap spekulan yang melakukan permainan harga pangan ini terbilang tugas mudah bagi Polri. Kejahatan seperti ini mudah teridentifikasi. Sebab, dengan adanya jaminan pemerintah bahwa ketersediaan pangan mencukupi untuk Ramadhan dan Idul Fitri, maka logikanya disparitas harga tidak akan terjadi di luar batas kewajaran sesuai mekanisme hukum pasar.

Ketika dalam pemantauannya Polri menemukan indikasi kenaikan harga yang tidak normal, bisa dipastikan ada permainan spekulan di balik itu. Untuk menemukan siapa pelakunya tentu tidak sulit, karena aliran distribusi bahan pangan mudah dilacak asal-usulnya. Sebab, perdagangan bahan pangan tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti perdagangan narkoba yang transaksinya sangat rahasia. Spekulan pangan juga tidak seperti teroris yang bergerak secara dadakan. Jika melacak peredaran narkoba atau terorisme saja Polri terbukti mampu, tentu kemampuan kepolisian mengusut spekulan harga pangan tidak perlu diragukan.

Bagi Jenderal Tito yang dikenal sebagai reserse jagoan dan matang dalam pemberantasan terorisme, ini tugas yang teramat mudah. Sebagai reserse, Tito tentu juga sudah menunjuk perwira reserse pilihan pula untuk menduduki jabatan Direktur  Reserse Kriminal Khusus di Polda.

Masalahnya adalah bagaimana jika harga tetap naik tak terkendali, sementara ketersediaan pangan sudah dinyatakan cukup. Risiko bagi aparat di daerah sudah jelas, yakni Direktur Reserse Kriminal Khusus di Polda setempat akan dicopot.

Namun, tentu saja, risiko tidak hanya di tangan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda. Jika kenaikan harga tak terkendali terjadi dalam skala luas, atau katakanlah terjadi di beberapa provinsi, seperti lonjakan harga daging atau cabai tempo hari, maka Kapolri pun tidak lepas dari pertanggungjawaban di strata tertinggi kepolisian.

Artinya, jika Tito berjanji akan mencopot Direktur  Reserse Kriminal Khusus Polda yang gagal menjaga stabilitas harga pangan, maka dia pun harus bersedia melepas jabatan Kapolri apabila kenaikan harga terjadi meluas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here