Satu Depresiasi, Aneka Apologi dan Narasi

0
98
Rupiah bersama mata uang utama dunia melemah terhadap dolar AS. Pemerintah punya banyak narasi uuntuk menjelaskan mengapa rupiah melemah. Manakah narasi yang masuk akal?

Nusantara.news, Jakarta – Depresiasi yang melanda nilai tukar rupiah semakin dalam, sementara narasi pemerintah dalam membuat alasan mengapa rupiah terdepresiasi pun beragam. Mengindikasikan sebenarnya faktor internal yang dominan dan konsisten membuat rupiah tersebut melemah.

Selama ini Tim Ekonomi Jokowi selalu mengalaskan mengapa rupiah melemah karena faktor global. Apalagi yang melemah tak hanya rupiah, tapi juga mata uang negara utama di dunia juga ikut melemah. Sampai disini kita bisa menerima argumentasi tersebut.

Namun ketika alasan global itu detilnya berubah-ubah, mengindikasikan adanya kekhawatiran bahwa sesungguhnya yang rapuh adalah fundamental ekonomi kita sendiri.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah hari ini di pasar spot ditutup melemah 20 poin atau 0,13% di level Rp15.238 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif pada level Rp15.222 hingga Rp15.284 per dolar AS.

Kali ini alasan pelemahan lantaran terjadi pemanasan lagi hubungan dagang antara AS dan China, sehingga membuat pasar tertekan terhadap dolar AS. Tapi jika dicermati sebenarnya banyak sekali alasan yang sering diutarakan Tim Ekonomi Jokowi, termasuk alasan yang diungkap oleh para pengamat.

Sama sekali Tim Ekonomi Jokowi lebih membangun narasi bahwa fundamental ekonomi kita kuat dan kokoh, sehingga penyebab rupiah semata-mata lantaran faktor eksternal. Benarkah?

Adapun narasi yang pernah dibangun Tim Ekonomi Pemerintah adalah sebagai berikut. Pertama,  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pelemahan rupiah lantaran efek naiknya yield obligasi Amerika, sehingga dolar pulang kandang dan investor yang memiliki motif profit berbondong-bondong membeli dolar AS. Maka mata uang utama dunia pun melemah terhadap dolar AS, termasuk rupiah

Kedua, Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa kembali melemahnya rupiah terhadap dolar AS ke level Rp14.710 pada Agustus 2018 lalu lantaran permasalahan yang terjadi di Argentina. Semua kurs mata uang di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand biasanya hampir tidak tertekan, tapi di akhir Agustus 2018 juga ikut melemah.

Darmin menambahkan, apa yang terjadi di Argentina cukup memberikan kejutan bagi ekonomi dunia. Pasalnya, belum lama ini negara Amerika Latin tersebut mendapatkan bantuan senilai US$50 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF). Orang menganggap Argentina mestinya akan survive, akan selamat dengan bantuan itu. Tetapi, ternyata gerakan capital outflow-nya (arus modal keluar) masih kuat dan makanya Argentina menaikkan tingkat bunga enggak tanggung-tanggung sampai 60%.

Ketiga, pernah juga pengamat ekonomi dari Institute Development for Economics and Finance (Indef) Eko Listianto memberi analisa yang pada dasarnya hal itu dikarenakan ketergantungan Indonesia bertransaksi menggunakan dolar AS. Sehingga ketika ekonomi AS melemah pada medio Maret 2018, rupiah ikut melemah.

Selama dolar masih jadi mata uang paling utama di dunia ini, sejauh itu pula segala yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi AS itu pasti akan berpengaruh, sebetulnya terhadap nilai dolarnya itu sendiri yang kemudian di kita berpengaruh terhadap mata uang rupiah.

Keempat, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo pada Juli 2018 pernah menilai krisis semenanjung Korea antara Korea Utara dengan Korea Selatan beserta sekutunya Amerika Serikat dan Jepang yang semakin memanas turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Alasan ini pernah disampaikan

Sebagaimana informasi, Korea Utara (Korut) mengklaim sukses menggelar uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM), yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat (AS). Peluncuran ini membuat gerah AS karena seiring dengan perayaan hari kemerdekaan AS.

Kelima, mantan Menko Perekonomian Sofyan Djalil pada Januari 2015 pernah mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat itu dipengaruhi oleh persoalan eksternal. Nilai tukar rupiah melemah karena dipengaruhi oleh faktor global, yakni keluarnya Yunani dari Zona Eropa.

Keenam, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada A. Tony Prasetiantono mengatakan, ekonomi Jerman yang terancam krisis membuat dolar AS semakin perkasa. Jika dolar makin kuat, mata uang negara-negara lainnya akan semakin tertinggal. Rupiah akan semakin melemah.

Kurs rupiah akan semakin sulit menguat terhadap dolar AS seiring melemahnya perekonomian Jerman. Negara yang dipimpin Kanselir Angela Merkel tersebut merupakan jangkar bagi perekonomian di kawasan Euro.

Ketujuh, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan hal ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar lira, mata uang Turki yang mencapai sekitar 80% dan berhasil memicu penguatan dolar. Hal ini pada gilirannya membuat mata uang utama dunia, termasuk rupiah.

Adapun lira Turki melemah karena terjadi kerentanan terhadap ekonomi domestik, persepsi negatif terhadap kebijakan otoritas, dan meningkatnya ketegangan hubungan antara Turki dengan AS.

Kedelapan, mantan Menkeu Bambang PS Brodjonegoro juga pernah menyalahkan AS dan Rusia sebagai penyebab melemahnya rupiah pada Desember 2014. Dampak dari kebijakan tappering-off  Federal Reserve membuat dolar AS menguat, terutama terhadap Rusia dan efek lanjutannya ke Indonesia.

Itulah alasan-alasan yang dijadikan narasi para Menteri Ekonomi dan para pengamat terhadap melemahnya rupiah. Mungkin ada benarnya sesuai time frame para menteri dan pengamat itu berbicara, sehingga narasi-narasi di atas dapat dibenarkan.

Masalahnya pembenaran narasi di atas juga diikuti oleh realitas bahwa ternyata rupiah kita gampang jatuh dan sangat rentan terhadap gejolak global. Terkadang memang tidak masuk akal sekalipun, namun selama efeknya jika dolar menguat, maka rupiah pun terus melemah.

Lima penyebab

Hal inilah yang membuka mata kita bahwa sesungguhnya rupiah melemah ada kontribusi kuat terkait dengan lemahnya fundamental ekonomi. Faktor internal juga tak kalah memberi kontribusi terhadap melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

Itu sebabnya, sedikitnya ada lima faktor yang secara riil menyebabkan rupiah melemah secara konsisten terhadap dolar AS.

Pertamaimbas penguatan tajam dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak empat kali dalam tahun 2018. Selain itu menguatnya dolar AS juga karena dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) surat berharga AS (treasury bill-T Bill).

Kedua, dampak perang dagang AS dengan China yang berimbas pada kekhawatiran pasar, sehingga pasar lebih merasa tenang dalam situasi seperti itu dengan menggenggam dolar AS.

Ketiga, komplikasi defisit perdagangan yang terus melebar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit perdagangan pada Agustus 2018 terjadi karena nilai ekspor hanya sebesar US$15,82 miliar atau turun 2,9% dari bulan sebelumnya. Sedangkan impor lebih tinggi dari ekspor, yaitu senilai US$16,84 miliar, Meski nilainya sudah merosot 7,97% dibandingkan Juli 2018.

Begitu pula secara kumulatif Januari-Agustus 2018, nilai ekspor naik dari US$108,79 miliar menjadi US$120,1 miliar. Sementara itu, impor naik lebih tinggi mencapai 24,52% dari Januari-Agustus 2017 senilai US$99,73 miliar menjadi US$124,18 miliar di 2018. Sehingga Indonesia mengalami kumulatif defisit perdagangan sebesar US$4,08 miliar atau ekuivalen Rp60,79 triliun.

Keempat, kenaikan harga minyak dunia yang sempat menembus level US$80 per barel sedikit banyak menjadi pemicu pelemahan rupiah. Karena harga minyak acuan dalam APBN 2018 ditetapkan sebesar US$48 per barel, artinya terjadi defisit US$28 per barel antara target dengan realisasi.

Sementara Indonesia dalam posisi net importir minyak mentah sebesar 1,4 juta barel per hari, sementara kebutuhannya 2,2 juta barel per hari, mengingat produksi  Indonesia  per  hari hanya 800.000 barel per hari. Ini yang menjelaskan mengapa pertamax dan pertamina dex belakangan naik karena memang mengikuti pergerakan pasar.

Kelima, ada kebutuhan dolar AS yang besar untuk melunasi utang pokok dan bunga atas utang valas baik dari pemerintah, BUMN dan korporat swasta. Pemerintah sendiri tahun ini diperkirakan melunasi utang dan bunga yang jatuh tempo sebesar Rp396 triliun.

Perbandingan pelemahan mata uang utama dunia terhadap dolar AS (Sumber: XE Currency).

Jika menengok fluktuasi mata uang utama dunia terhadap dolar AS sejak Januari hingga Oktober 2018, maka sebenarnya rupiah termasuk yang terlemah keempat (12,30%), setelah lira Turki (74,67%), real Brazilia (25,08%), dan rubel Rusia (18,21%). Sementara yen Jepang justru menguat 1,26% terhadap dolar AS.

Di sini dapat disimpulkan bahwa aneka alasan global yang disampaikan sebagai penyebab rupiah melemah bisa dipahami, tapi lemahnya faktor internal juga memberi kontribusi yang membuat rupiah melemah tetap ada.

Tinggal bagaimana respon kebijakan pemerintah dan BI untuk membuat rupiah menguat kembali. Karena kalau Jepang saja mampu, seharusnya Pemerintah  Indonesia juga bisa mengikuti jejak ‘kakak tua’ yang bijak tersebut. Yakni kebijakan moneter yang prudent dan aspiratif serta tetap menjaga kedaulatan yen sebagai mata uang Jepang.

Sementara Menkeu Sri Mulyani justru memberi isyarat bahwa pelemahan rupiah belum menyentuh bottom line, artinya rupiah masih akan melemah ke level yang lebih rendah. Itu sebabnya, aneka narasi penyebab rupiah melemah sudah saatnya ditepikan, dan perlu dikemukakan bagaimana upaya memperkuat nilai tukar rupiah lewat kebijakan fiskal dan moneter yang kredibel.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here