Satu Kata Melawan Terorisme

0
132

TERORISME mengganggu ketenangan kita lagi. Korban berjatuhan. Belasan nyawa melayang, dan puluhan terluka. Dan, yang juga memprihatinkan, kita jadi saling menaruh syak wasangka sesama kita. Lelaki dengan busana tertentu atau Muslimah yang bercadar dipandang dengan sorot mata curiga. “Sekarang ada semacam keresahan atau bahkan kercurigaan terhadap wanita yang menggunakan cadar,” ungkap Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kegaduhan, ketakutan, atau kebencian yang mendadak muncul ini, apa boleh buat, ada di tengah kita. Inilah yang harus segera disingkirkan. Sebab, jika kita dicekam ketakutan dan saling curiga, kondisi  itulah yang diinginkan teroris. Tujuan teror adalah menciptakan ketakutan. Jika ketakutan merebak di masyarakat, teroris akan merayakannya sebagai keberhasilan.

Kita setuju sepenuhnya pada penegasan Presiden Joko Widodo, bahwa negara dan seluruh rakyat Indonesia tidak akan pernah takut terhadap terorisme. “Perlu saya tegaskan, kita tidak akan pernah memberikan ruang sedikit pun kepada terorisme dan upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara,” ujar Presiden di Istana Bogor, 10 Mei 2018.

Tapi negara dengan seluruh perangkat keamanannya tidak bisa bergerak sendiri. Sebab, terorisme yang menyerang nyaris serentak di Jakarta, Surabaya, Medan dan Pekanbaru, adalah sebuah tindakan perang terhadap negara. Dalam keadaan berperang, negara saja tidak cukup dan tidak akan mampu menghadapinya. Seluruh bangsa mesti terlibat secara semesta. Kekuatan negara ada di tangan rakyat.

Kondisi ini mensyaratkan kebersamaan. Dan kebersamaan mensyaratkan pula kesepakatan. Kita harus satu kata terlebih dahulu bahwa terorisme adalah musuh yang akan menghancurkan negara. Setelah itu baru melawan dengan kebersamaan.

Tetapi, dalam hal ini kita harus prihatin. Setiap terjadi aksi terorisme –atau aksi apa pun—yang membahayakan negara, kita justru makin menjauh dari kebersamaan, dan bahkan terjerumus pada saling menyalahkan. Kerusakan akibat aksi terorisme bukannya menimbulkan solidaritas bersama untuk melawannya, tetapi justru selalu menimbulkan aneka rupa kontroversi.

Orang sibuk memikirkan dan memperdebatkan kenapa ada tuduhan teroris terhadap suatu kelompok. Orang beramai-ramai mendiskusikan terorisme yang muncul karena sebab ini dan itu. Ada sekalangan orang yang menyebutkan aksi teror terjadi karena pemerintahan yang lemah, intelijen yang kecolongan, polisi yang abai, atau fasilitas penegakan hukum yang tak memadai.

Terorisme boleh saja lahir akibat praktek ketidakadilan, penindasan terhadap satu kelompok oleh kelompok yang lainnya. Terorisme mungkin terjadi lantaran ketahanan negara kita rapuh. Tetapi substansi kejahatannya tidak lantas menyusut. Latar belakang sebuah aksi teror bisa saja berbeda, namun akibat yang ditimbulkan tetap sama: Darah, tangis, dan kesengsaraan.

Padahal apa pun sebabnya, siapa pun pelakunya, teror tetap saja teror, darah sudah tumpah, nyawa sudah melayang dan kita dihantui kecemasan. Apa pun pesan yang dibawanya, dan apa pun motivasinya, terorisme tetaplah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan (crime againts humanity).

Momentum serangan teroris ini (yang harus dibaca sebagai serangan terhadap negara) mesti segera digunakan untuk membangun soliditas dan solidaritas bangsa. Ini bukan saat yang tepat untuk mencari kambing hitam, saling menyalahkan atau justru membela diri.

Singkirkan sikap-sikap kontraproduktif. DPR misalnya. Harus dikatakan bahwa DPR terlalu lamban membahas RUU untuk mengubah UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Padahal Pemerintah telah menyerahkan draf revisi sejak awal 2016 lalu. Namun hingga detik ini tak kunjung rampung, dan baru dijanjikan selesai akhir bulan ini.

Begitu pula elemen masyarakat lain, mestinya juga tidak menjebakkan diri ke dalam perangkap perdebatan yang tidak perlu. Politisi, mahasiswa, buruh, atau kelompok mana pun, hendaknya paham tugas dan arena masing-masing. Kalau tidak begitu, perdebatan hanya akan menambah kusut, dan pihak yang bertangggungjawab bisa memperoleh alasan untuk tidak serius bekerja. Itu artinya memberi kemenangan kepada teroris.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here