Satu Zakat Banyak Manfaat

0
74

Nusantara.news, Jakarta – Terminologi zakat sering dikait-kaitkan dengan turunannya, yakni infaq dan shodaqoh. Padahal ketiganya memiliki karakter dan manajemen yang berbeda, namun pada dasarnya bersumber dari niatan yang sama yakni menyisihkan sebagian harta pribadi untuk kemaslahatan orang lain.

Ketiganya sering dirangkumkan dalam satu kata yang maknanya lebih luas, yakni shodaqoh.

Sejarah zakat telah dimulai ketika Rasulullah saw mewajibkan zakat pada tahun 2 Hijriah (572 M). Saat itu para sahabat yang rerata adalah pedagang, pengusaha, pebisnis, langsung menerapkan tanpa tedeng aling-aling. Seperti halnya syahadat, shalat, puasa, dan haji, zakat telah menjadi rukun Islam yang lima.

Zakat secara terminologi berasal dari kata zakka, yuzakku, zakatan, yang berarti suci, tumbuh dan berkembang. Zakat akan mensucikan harta bagi para pelakunya, muzakki. Zakat jika dikelola secara produktif dia akan tumbuh menjadi investasi yang luas. Sementara zakat juga bila dikelola secara profesional akan berkembang menjadi potensi sumber dana ummat yang luar biasa besar.

Hanya saja zakat memiliki ketentuan nishab, yakni nilai terkecil yang harus dikeluarkan bagi para muzakki. Nishab masing-masing harta muzakki juga besarnya berbeda-beda, antara yang berasal dari harta produktif dan non produktif.

Zakat juga terikat dengan waktu, yaitu haul. Batas waktu biasanya satu tahun sebuah harta mengendap pada para muzakki. Batasan jumlah dan waktu inilah yang membuat zakat terkesan sempit dan terbatas.

Sementara infaq berasal dari kata anfaqo, yunfiqu, infaaq, artinya membelanjakan atau membiayai. Syarat mengeluarkan infaq diambil dari sebagian harta untuk kebutuhan tertentu. Berbeda dengan zakat yang dibatasi nishab dan haul, infaq hanya dibatasi oleh tarif, misalnya 2,5%. Sementara waktu pemberian infaq relatif bebas, kapan saja.

Sedangkan shodaqoh lebih fleksibel lagi, tidak terikat nishab dan haul, bahkan juga tidak terikat pada materi. Itu sebabnya Nabi sering mengatakan, senyum yang engkau berikan kepada saudaramu adalah shodaqoh.

Ketiga terminologi, zakat, infaq dan shodaqoh, dimasa Abubakar Shiddiq dikelola sangat baik. Bahkan Abubakar merampas harta orang kaya lantaran tidak mau berzakat sebagai amanat surat At Taubah ayat 103, khudz min amwalihim shodaqotan tuthohhiruhum watuzaqqiihim bihaa.

Ayat itu membolehkan khalifah untuk mengambil zakat dari sebagian harta orang kaya untuk disalurkan kepada orang miskin. Namun jika orang-orang kaya itu membangkang dan tak mau membayar zakat, khalifah dibolehkan merampas hak orang miskin itu dari orang kaya.

Begitulah zakat dikelola, ada humanisme, ada ketegasan dan ada distribusi kekayaan.

Jika melihat konteks hari ini, potensi zakat (zakat ansich) Indonesia sebagaimana diprediksi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mencapai Rp400 triliun. Asumsinya, dari 258 juta penduduk Indonesia, lebih dari 85% atau 219,3 juta adalah ummat Islam. Katakanlah yang produktif dan menghasilkan 100 juta, jika masing-masing berzakat Rp4 juta per tahun, maka dapatlah angka potensi zakat di Indonesia sebesar Rp400 triliun dalam setahun.

Namun demikian, tahun 2016, total perolehan zakat yang terkumpul hanyalah Rp5 triliun. Sementara pada 2017 Baznas memproyeksikan dapat menghimpun dana zakat sebesar Rp6 triliun hingga Rp7 triliun. Jumlah itu hanya 1,5% hingga 1,75%. Tentu terlalu sedikit, itu sebabnya perlu ada upaya extra effort agar jumlah dana zakat yang diterima Baznas bisa lebih besar.

Sebagai tambahan informasi, prosentase perolehan dana zakat terhadap GDP di Indonesia baru mencapai 0,89%. Angka ini lebih rendah dengan Malaysia yang mencapai 1,09%, Iran 1,79%, dan Mesir 1,9%.

Itu sebabnya Baznas juga perlu juga menghimpun potensi infaq dan shodaqoh yang pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Azis mampu mengentaskan kemiskinan. Memang tidak ada literatur yang mengatakan berapa besar hasil penghimpunan zakat pada masa Umar bin Abdul Azis, namun digambarkan dalam sejarah pada saat itu pemerintahannya mampu menguasai 2/3 dunia. Dengan manajemen baitul maal, beliau berhasil mengentaskan kemiskinan.

Saat itu digambarkan tak ada lagi mustahiq yang yang berhak menerima zakat, infaq dan shodaqoh. Sehingga hasil penghimpunan zakat, infaq dan shodaqoh benar-benar digunakan untuk sesuatu yang produktif. Jadi Umar bin Abdul Azis adalah sosok pemimpin yang berhasil dalam menghimpun dana ummat tapi juga berhasil mengeluarkan ummat dari kemiskinan.

Melihat potensi Indonesia yang begitu besar, dengan jumlah ummat Islam yang mayoritas, sepertinya Baznas perlu meningkatkan pola-pola penghimpunan zakat. Sebagaimana Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang aktif melakukan intensifikasi maupun ekstensifikasi pajak, maka Baznas pun perlu melakukan hal yang sama.

Bedanya memang, dalam UU No. 28/2008 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), DJP diberikan kewenangan untuk melakukan tindakan memaksa. Sementara dalam UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, Baznas tidak memiliki kekuatan memaksa, melainkan sebatas moralsuasion atau sebatas menghimbau.

Hal lain yang perlu dikritisi, Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang berhak menghimpun zakat adalah lembaga di luar pemerintahan, sehingga kelompok manapun bisa menjadi LAZ, asalkan mendaftarkan diri dan disetujui oleh Baznas. Namun demikian, walaupun terpadu, namun realitasnya tetap terpisah-pisah.

Karena itu ke depan, Baznas harus menjadi lembaga negara yang kuat dengan jaringan kerja dari pusat hingga ke daerah. Tugasnya, mengorganisir penerimaan dan penyaluran zakat, infaq dan shodaqoh terpadu. Di luar Baznas, tak boleh memungut zakat, infaq dan shodaqoh. Kalaupun ada lembaga semisal Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, ACT dan lainnya, haruslah menjadi perpanjangan kaki tangan Baznas.

Lantas, kemana zakat yang terkumpul itu akan disalurkan? Berdasarkan surat At Taubah ayat 60, sedikitnya ada 8 yang berhak menerima zakat (asnaf), yaitu: fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharimin, fii sabilillah dan ibnu sabil. Adapun rinciannya adalah:

1. Fakir (al Fuqara) – adalah orang yang tiada harta pendapatan yang mencukupi untuknya dan keperluannya. Tidak mempunyai keluarga untuk mencukupkan nafkahnya seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.
2. Miskin (al-Masakin) – mempunyai kemampuan usaha untuk mendapatkan keperluan hidupnya akan tetapi tidak mencukupi sepenuhnya
3. Amil – orang yang dilantik untuk memungut dan mengagih wang zakat.
4. Muallaf – seseorang yang baru memeluk agama Islam.
5. Riqab – seseorang yang terbelenggu dan tiada kebebasan diri.
6. Gharimin – penghutang muslim yang tidak mempunyai sumber untuk menjelaskan hutang yang diharuskan oleh syarak pada perkara asasi untuk diri dan tanggungjawab yang wajib ke atasnya.
7. Fisabilillah – orang yang berjuang, berusaha dan melakukan aktiviti untuk menegakkan dan meninggikan agama Allah.
8. Ibnus Sabil – musafir yang kehabisan bekalan dalam perjalanan atau semasa memulakan perjalanan dari negaranya yang mendatangkan pulangan yang baik kepada Islam dan umatnya atau orang Islam yang tiada perbekalan di jalanan.

Adalah tugas Baznas nantinya menyalurkan dana yang diperoleh dari zakat tersebut secara konsisten dan berkesinambungan kepada 8 asnaf tersebut. Walaupun saat ini Baznas belum terfokus pada 8 asnaf, ke depan sudah saatnya diprioritaskan sebagai bentuk pengamalan ayat ke-60 surat At Taubah.

Dalam penyaluran tersebut tentu diperlukan satu manajemen zakat yang terpadu dan terstruktur dari pusat hingga ke daerah. Dengan demikian infrastruktur pemungutan dan penyaluran zakat, infaq dan shodaqoh oleh Baznas menjadi sangat rapih.

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here