Saudi Ancam Iran Negaranya Bisa Membuat Bom Nuklir

0
168
Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat wawancara program televisi di CBS News, Kamis (15/3) kemarin.

Nusantara,news, Jakarta – Paska dipecatnya Rex Tillerson dari jabatan Menteri Luar Negeri ketegangan kembali meningkat di Timur Tengah. Arab Saudi merasa di atas angin dalam menghadapi musuh bebuyutannya Iran. Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman mengancam akan mengembangkan senjata nuklir apabila Iran tidak melucuti persenjataannya.

Selama ini Tillerson membangkang perintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencabut kesepakatan 2015 tentang pembatasan pengembangan nuklir di Iran. Pengganti Tillerson – Mike Pompei – yang dikenal di komunitas intelijen sebagai “pembisik” Trump tampaknya akan menjalankan perintah ini.

Pertikaian Lama

Ali Khamenei Vs Mohammed bin Salman

Pernyataan Pangeran Mahkota yang mengancam Iran itu disampaikan dalam wawancara selama 60 menit di televisi CBS News. Awalnya  Mohammed bin Salman menjelaskan, negaranya tidak ingin mengembangkan senjata nuklir.

“Tapi tanpa diragukan lagi, jika Iran mengembangkan bom nuklir, kami akan mengikutinya sesegera mungkin,” tandas pewaris tahta Raja Salman yang juga menjabat Menteri Pertahanan itu.

Iran memang membatasi program nuklirnya di bawah kesepakatan 2015 dengan beberapa kekuatan dunia – termasuk AS ketika itu. Namun kesepakatan yang juga ditandatangani Presiden AS Barrack Obama itu terancam dicabut di bawah pemerintahan Trump. Dunia memuji Obama yang berhasil membuat kesepakatan dengan Iran, tapi Trump membully tindakan Obama itu sebagai keputusan paling buruk yang pernah dibuat Presdien AS.

Perseteruan Arab Saudi – Iran sudah berlangsung lama di semenanjung Timur Tengah. Kedua negara sesama muslim dengan mazhab berbeda – Suni dan Syiah – itu secara historis dikenal saling membela kekuatan yang berlawanan dalam konflik regional. Terlebih saat Iran mendesak dunia muslim lainnya agar kota suci Mekah dan Madinah diserahkan pengelolaannya kepada komunitas dunia muslim – atau setidak-tidaknya dibuat seperti Vatican di Italia.

Dalam satu dekade terakhir muncul ketegangan yang tensinya terus meningkat di Suriah dan Yaman. Di Suriah yang dikuasai oleh  Bashir al-Assad, Arab Saudi dan sekutunya Amerika Serikat yang mendukung kelompok oposisi kalah. Bashir al-Assad didukung Iran dan Rusia.

Sedangkan di Yaman setelah tiga tahun hingga sekarang Arab Saudi belum bisa memenangkan peperangan dengan pertaruhan yang sangat mahal. Qatar yang dituding bermain mata dengan Iran dikucilkan oleh Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

Hitler Baru

Dalam wawancaranya dengan CBS News itu, Pangeran Mohammed bin Salman juga kembali mengingatkan, sejak November tahun lalu dirinya menjuluki pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai “Hitler baru di Timur Tengah”. Mohammed juga mengingatkan Ali Khamenei membangun kekuatan sendiri di Timur Tengah, sangat mirip dengan Hitler yang ingin mencaplok seluruh Eropa.

“Banyak negara di dunia dan di Eropa tidak menyadari betapa bahayanya Hitler sampai apa yang terjadi (Perang Dunia II). Saya tidak ingin melihat kejadian yang sama di Timur Tengah,” ujarnya.

Perbandingan kekuatan militer Iran dan Arab Saudi

Arab Saudi – sekutu penting Amerika Serikat di Timur Tengah setelah Israel – telah menjadi penandatangan Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir sejak 1988. Artinya, Arab Saudi memang tidak boleh mengembangkan program nuklir. Namun dengan memanfaatkan hubungan khusus dengan Trump dan Jared Kushner – tanpa penghalang lagi setelah Tillerson didepak dari Departemen Luar Negeri – segala sesuatunya kini bisa mungkin dilakukan.

Memang, Arab Saudi tidak terlihat sedang mengembangkan persenjataan nuklir di negaranya. Namun ada laoran intelijen “Mossad” Israel yang menyebut Arab Saudi menginvestasikan proyek senjata nuklir Pakistan.

Tahun 2013, Amos Yadlin – mantan kepala intelijen militer Israel – mengatakan dalam sebuah konverensi pers :”Jika Iran membuat bom nuklir, orang-orang Saudi tidak akan menunggu satu bulan. Mereka sudah membayar bom itu, mereka tinggal pergi ke Pakistan dan mengangkut bom yang telah dipesannya.”

Sebenarnya Iran juga menandatangani perjanjian non-proliferasi. Namun Iran selalu berdalih pengembangan nuklir di negaranya hanya untuk tujuan damai. Dan tahun 2015 Iran yang sebelumnya mendapatkan sanksi ekonomi dari sejumlah negara bersedia menanda-tangani pembatasan program nuklir.

Kesepakatan yang ditanda-tangani Iran antara lain dengan membatasi pengayaan uranium, produksi plutonium dan membuka akses pengawasan internasional terhadap instalasi nuklirnya. Kesepakatan itu dicatat sebagai kemenangan besar Presiden AS Barrack Obama namun dilecehkan Trump sebagai “yang terburuk yang pernah ada”.

Mantan Menlu AS Rex Tillerson yang dipecat Trump tampaknya mendukung kesepakatan itu. Tapi penggantinya yang mantan Direktur Central Intelligent of America (CIA) Mike Pompei  tampaknya akan menurut apa yang dikatakan Trump. Kesepakatan itu harus dicabut.

Pemimpin Eropa – termasuk Inggris, Perancis dan Jerman – telah meminta bantuan kepada Trump intuk mempertahankan kesepakatan itu. Karena kesepakatan itu sudah sesuai dengan keinginan dunia Internasional – kecuali Israel sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah dan Arab Saudi sebagai musuh bebuyutannya di Kawasan Teluk dan Jazirah Arab.

Proxy War

Perseteruan Arab Saudi – Iran yang sudah berjalan puluhan tahun diperparah oleh perbedaan mazhab – antara Suni (Arab Saudi) dan Syi’ah (Iran). Arab Saudi sebagai daerah asal kelahiran Islam adalah sebuah negara Monarki Absolut. Namun keberadaan Arab Saudi itu ditantang oleh Revolusi Islam di Iran pada 1979 yang menghadirkan negara “Republik Teokratis” yang akan mengekspor revolusinya ke negara-negara tetangganya.

Aliansi Arab Saudi Vs Iran

Selama ini – di antara negara tetangganya – hanya Irak yang pernah terlibat perang langsung dengan Iran. Sedangkan Arab Saudi tidak pernah terlibat perang langsung dengan Iran. Namun Arab Saudi terus berusaha membendung pengaruh Iran ke sejumlah negara tetangganya.

Terlebih setelah gerakan demokratisasi di Arab (Arab Spring) membuat ketidak-stabilan kawasan yang dimanfaatkan betul oleh Iran dan Arab Saudi untuk menancapkan pengaruhnya – terutama di Suriah, Lebanon, Bahrain, Qatar dan Yaman.

Dalam perang geo-politis dan geo-strategis di jazirah Arab – acap kali Arab Saudi yang didukung oleh AS – dan diam-diam juga Israel – kalah melawan Iran. Sebut saja konflik di Suriah, Presiden Bashir al-Assad yang didukung Iran dan Rusia sulit digulingkan oleh Oposisi yang didukung oleh Arab Saudi dan AS. Tapi perang tidak langsung dengan melibatkan diri dalam pertikaian dalam negeri di sejumlah negara Arab yang terus bergolak hingga sekarang ini.

Arab Saudi juga membantu pemerintah Yaman yang kalang kabut melawan pemberontak Hoti. Tapi pemberontakan itu tidak segera tumpas setelah tiga tahun Arab Saudi masuk ke sana. Begitu juga di Lebanon – di mana Iran memiliki sekutu utama kelompok bersenjata Hezbollah – Arab Saudi berusaha masuk dengan memaksa Perdana Menteri Hariri mengundurkan diri.

Karena memang, sejak Revolusi Islam di Iran 1979, Iran dan Arab Saudi hanya terlibat perang proxy (Proxy War) yang melibatkan kekuatan-kekuatan – baik negara maupun kelompok bersenjata di masing-masing negara – yang suka maupun tidak suka menguntungkan posisi Israel dan melemahkan Palestina.

Saat proxy-proxy Iran dan Arab Saudi berperang Israel terus membangun pemukiman Yahudi di Tepi Barat (West Bank) dan Yerusalem Timur. Sehingga kekuatan negara-negara Arab dan Islam tidak pernah terkonsilidasi – minimal mendukung secara nyata berdirinya negara Palestina. Dan alangkah bodohnya orang Indonesia kalau melibatkan diri dalam perang proxy itu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here