Saudi Buka Lebar-lebar Keran Investasi dari Cina

0
83
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Cina Zhang Gaoli, di Jeddah, 24 Agustus 2017. Foto: REUTERS

Nusantara.news, Jeddah – Arab Saudi tampaknya sudah tidak bisa lagi mengandalkan minyak fosil sebagai penopang ekonomi utamanya. Negeri yang dulu terkenal dengan petro dolar itu mulai menyadari bahwa cadangan minyak fosilnya makin lama semakin menipis, selain juga harga minyak dunia yang terus merosot. Saudi, sebagaimana visi 2030-nya, bertekad membangun ekonomi di berbagai sektor sebagai diversifikasi di luar andalannya, ekspor minyak, yang kian tak bisa diandalkan lagi.

Tak ada cara lain, Arab Saudi harus berkembang sebagaimana tetangga kecilnya Qatar, dengan menarik sebanyak-banyak investasi masuk ke negaranya. Sebab itu, Saudi juga tak lagi mengandalkan dolar Amerika sebagai bentuk investasi dari luar, tapi mulai melirik kekuatan ekonomi yang lain untuk berinvestasi, yaitu Cina dengan Yuan. Dengan investasi dari Cina Saudi berharap dapat mengembangkan industri baru, seperti manufaktur dan pariwisata.

“Arab Saudi telah bersedia untuk mempertimbangkan sebagian pendanaan dari yuan Cina,” kata seorang pejabat senior di Saudi, Kamis (24/8) sebagaimana dilansir Reuters. Ini juga sekaligus menjadi sinyal untuk meningkatkan kemungkinan hubungan keuangan yang lebih erat antara kedua negara.

Tahun lalu pemerintah Saudi memang telah mulai meminjam puluhan miliar dolar ke luar negeri untuk menutupi defisit anggarannya yang besar disebabkan rendahnya harga minyak, namun pinjaman luar negeri itu telah didenominasi seluruhnya dalam mata uang AS.

Penerimaan investasi ke Arab Saudi dalam mata uang yuan Cina bukan hanya dapat memberikan Arab Saudi fleksibilitas finansial yang lebih, tapi sekaligus juga menandai kesuksesan Cina, pasar terbesar untuk minyak Saudi, dalam upaya menjadikan yuan sebagai mata uang internasional tertinggi.

“Salah satu tujuan utama kami adalah mendiversifikasi basis pendanaan Arab Saudi,” kata Wakil Menteri Perekonomian dan Perencanaan Mohammed al-Tuwaijri dalam sebuah konferensi Saudi-Cina di Jeddah, Kamis (24/8).

“Kami akan melakukannya melalui akses ke investor atau badan likuiditas di pasar Cina. Kami juga akan mengakses pasar teknis lainnya dalam hal peluang pendanaan, penempatan pribadi, Obligasi Panda dan lainnya,” beber al-Tuwaijri.

Tuwaijri juga menambahkan, “Kami akan sangat bersedia mempertimbangkan pendanaan di renminbi dan produk Cina lainnya, serta Industrial and Commercial Bank of China dan divisi lainnya yang telah menunjukkan ketertarikan untuk melakukan hal itu.”

Obligasi Panda adalah obligasi berdenominasi yuan dari emiten non-Cina yang dijual di Cina. Liyan, chief executive ICBC International, bank terbesar Cina, mengatakan dalam konferensi pers tersebut bahwa banknya bersedia mensponsori penerbitan Obligasi Panda (Panda Bonds) Saudi.

Tuwaijri mengatakan, Arab Saudi tertarik untuk mengumpulkan uang di luar negeri tidak hanya untuk menutupi defisit anggaran, tetapi juga lebih penting lagi, untuk membiayai proyek investasi besar yang akan memperluas ekonominya dan menciptakan lapangan kerja.

Sementara itu, Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih juga mengatakan, Arab Saudi dan Cina telah merencanakan untuk membentuk USD 20 miliar Invesment Fund dengan basis 50:50.

“Ini tahap awal tapi komitmen sudah ada,” kata Falih. Dia mengatakan, dana tersebut akan diinvestasikan di sektor-sektor seperti infrastruktur, energi, pertambangan dan material.

Cina memang telah  mengumumkan rencana untuk membangun dana investasi bersama di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir sebagai cara untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral. Pada bulan Desember 2015 Beijing mengatakan akan membentuk Investmen Fund USD 10 miliar dengan Uni Emirat Arab, dan Oktober lalu sebuah rencana Investmen Fund  dengan Prancis terungkap.

Keterbukaan Arab Saudi terhadap investasi dari Cina merupakan kelanjutan dari kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis Al Saud ke Beijing pada bulan Maret lalu, dimana sebanyak USD 65 miliar transaksi bisnis ditandatangani di berbagai sektor termasuk untuk proyek kerja sama penyulingan minyak, petrokimia, manufaktur ringan dan elektronik.

Falih juga mengatakan, pihaknya memperkirakan 11 transaksi bisnis senilai sekitar USD 20 miliar akan ditandatangani dengan Cina minggu ini. Beberapa kesepakatan kemungkinan merupakan kelanjutan yang lebih rinci dari kesepakatan yang telah dicapai di Beijing dalam rangkaian tur Asia Raja Salman.

Masuknya investasi Cina ke Arab Saudi bukanlah sesuatu yang baru, sebelumnya Cina sudah banyak berinvestasi dan bekerja di negara yang masih merupakan sekutu utama Amerika itu. Tapi dengan dibukanya keran pendanaan dengan yuan (selama ini dengan US Dollar), tentu semakin memuluskan Cina mendominasi ekonomi dunia, sebagaimana tertuang dalam “cetak biru” One Belt One Road yang menjadi tekad Cina di masa mendatang.

Lalu, apakah berikutnya Cina akan menggeser dominasi Amerika di Timur Tengah? Mungkin saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here