Seberapa Kuat Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin?

0
332
Jokowi-Ma'ruf Amin

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi akhirnya resmi mengumumkan bahwa Ketua Majelis Ulama lndonesia (MUI) Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden atau cawapres-nya di pemilihan presiden 2019. Hal tersebut diumumkan Jokowi di Restoran Plataran Menteng, Jakarta pada Kamis, 9 Agustus 2018. Pengumuman ini dihadiri oleh seluruh ketum parpol Koalisi Indonesia Kerja. Para pendukung Jokowi juga sudah berada di lokasi.

“Dengan perenungan yang mendalam dan masukan saran dari seluruh elemen masyarakat saya memutuskan dan telah mendapatkan keputusan dari koalisi Indonesia kerja yang akan mendampingi saya sebagai calon wakil presiden adalah Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin,” ujar Jokowi.

Pengumuman nama Ma’ruf menjadi cawapres Jokowi cukup mengejutkan. Mengingat awalnya cawapres Jokowi menguat kepada Mahfud Md. Mahfud juga tiba-tiba menghilang dari pertemuan Jokowi dengan ketum parpol koalisi. Padahal, ia sudah sempat mengurus surat-surat syarat pencawapresan dan mengukur seragam pasangan di istana.

Nama Mar’ruf muncul di detik-detik akhir lewat informasi Sekjen PKB Abdul Kadir Karding melalui cuitannya di twiter yang disertai foto rapat koalisi Jokowi di Plataran Menteng. Saat itu ketum parpol koalisi meneken dokumen capres-cawapres. Sinyal Ma’ruf menjadi cawapres juga sebelumnya ditunjukkan dengan kehadiran dirinya ke Istana, kemarin (8/8).

Munculnya nama KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres bermula dari usulan PPP. Menurut Ketum PPP Romy, Rais ‘Aam PBNU itu memenuhi syarat yang dibutuhkan Jokowi. Salah satunya, Kiai Ma’ruf merupakan seorang ulama yang relatif diterima ormas-ormas Islam, termasuk ormas pengeritik pemerintah. Romy juga meyakini, jika Kiai Makruf yang menjadi cawapres Jokowi, para alumni 212 akan mendukung Jokowi.

Belakangan, bahkan Ma’ruf Amin sendiri menyatakan siap jika negara memanggilnya menjadi cawapres mendampingi Jokowi. “Kalau untuk negara, kalau untuk pribadi saya sebetulnya jadi ini (kiai) saja sudah cukup. Tapi kalau negara dan bangsa memerlukan, biasa-biasa saja,” kata Ma’ruf kepada wartawan seusai acara zikir bersama di Kejaksaan Agung, Jl. Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (20/7/2018).

Bak gayung bersambut, hubungan Jokowi-Ma’ruf Amin ini kerap tampil bersama. Dalam sejumlah pertemuan dengan ulama dan pondok pesantren, Jokowi tak luput didampingi Ma’ruf Amin. Di dunia maya pun demikian, kedekatan Jokowi dan Kiai Ma’ruf terlihat dari unggahan sejumlah foto. Tak hanya kompak, akhir-akhir ini Ma’ruf Amin pun ‘rajin’ menepis komentar miring yang dialamatkan ke pemerintahan.

Para ketua partai pendukung Jokowi saat mendeklarasikan Jokowi-Ma’ruf Amin di Restoran Plataran Menteng, Jakarta pada Kamis, 9 Agustus 2018

Untung Rugi Cawapres Ma’ruf Amin

Memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapres dari luar partai pendukung memang memberikan keuntungan bagi soliditas koalisi. Ma’ruf cenderung lebih bisa diterima oleh anggota koalisi sehingga bisa mengatasi kerawanan pecah kongsi saat menentukan cawapres seperti yang diduga banyak kalangan sebelumnya. Terlebih, Ma’ruf juga tidak mendapatkan resistensi dari parpol-parpol pendukung Jokowi, sebab selama ini ia cenderung menjaga jarak dengan kelompok oposisi.

Tak hanya itu, dengan menggandeng Ma’ruf Amin, rasanya sejalan dengan syarat yang pernah diajukan PDIP. Saat itu, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah mematok kriteria bakal cawapres pendamping Jokowi. Kriteria pertama, memiliki kesepahaman dalam pemikiran. Kriteria kedua, mampu meningkatkan elektabilitas Jokowi. Ketiga, punya chemistry untuk bekerja sama dengan Jokowi.

Ditambah, Ma’ruf Amin juga tak punya kepentingan untuk 2024 sebagaimana yang disyaratkan relawan Jokowi ‘Projo’, mengingat pria kelahiran 1943 silam ini sudah sepuh (saat ini berusia 75 tahun). Dengan begitu, ini akan memberi jalan bagi Puan Maharani atau kader PDIP lain untuk “manggung” kembali di Pilpes 2024, kendali kekuasaan tentu tetap di tangan Megawati dan sekutunya.

Keuntungan lain, sosok Ma’ruf sebagai ulama senior selain bisa menepis tuduhan Jokowi sebagai sosok yang berseberangan dengan aspirasi Islam, juga menjadi kredit point tersendiri untuk menggaet pemilih dari umat muslim yang jumlahnya mayoritas. Popularitas Ma’ruf yang menanjak pasca “perseteruannya” dengan mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Aksi Bela Islam di era Pilkada 2017 lalu, diyakini bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi. Bukan tidak mungkin bisa mencuri sebagian suara basis Islam dari kelompok lawan.

Namun, kendala yang mungkin akan membebani Jokowi, yaitu usia Ma’ruf yang sudah cukup senja dan tak berpengalaman di pemerintahan. Terlebih, Jokowi sendiri berharap pendampingnya nanti bisa ikut merangkul generasi milenial yang kemungkinan akan berjumlah 52 prsen atau setara dengan 100 juta orang dari jumlah pemilih. Ia juga bukan jawaban terhadap representasi tokoh dari luar Jawa sebagaimana Jusuf Kalla.

Selain itu, meski dengan menggandeng M’aruf Amin berpeluang meraih ceruk suara NU di Jabar dan Banten, tapi ke-NU-an Ma’ruf yang berasal dari Banten tak sekuat magnet elektoralnya dibanding trah dari NU Jatim. Apalagi di dua provinsi ini Jokowi kalah dari Prabowo di Pilpres 2014.

Terakhir, pengalaman Megawati pada Pilpres 2004 yang menggandeng Ketua PBNU Hasyim Muzadi tak memberi sumbangan suara berarti sehingga kalah telak dari pasangan SBY-JK: 60,62% berbanding 39,38%.

Kini pola pasangan serupa juga tergambar dari Jokowi (PDIP)-Ma’ruf Amin (Rais ‘Am PBNU). Apakah bayang-bayang kekalahan Mega-Hasyim akan menimpa pasangan Jokowi-Ma’ruf? Atau, sebaliknya menuai kemenangan? Kita lihat saja nanti.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here