Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

0
41
Penjualan surat utang negara yang jor-joran dalam jangka pendek memang berhasil memperkuat nilai tukar rupiah. Namun dalam jangka panjang justru akan menjadi beban rupiah, terutama pada saat utang jatuh tempo.

Nusantara.news, Jakarta – Trend penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot money, namun menyimpan bom waktu yang setiap saat bisa side back memperlemah rupiah. Ternyata mayoritas dana masuk lewat instrumen obligasi, apakah trend penguatan ini berlanjut?

Tentu saja sebagai anak bangsa siapa yang tidak senang mata uangnya menguat. Namun penguatan ini pun sebenarnya relatif semu, setelah sebelumnya sempat melemah signifikan hingga 13%. Tepatnya ini dapat dikatakan sebagai langkah bullish, kembali menguatnya rupiah setelah melemah signifikan.

Hanya saja penguatan hari ini di level Rp14.790 belumlah mencerminkan face value rupiah yang sebenarnya. Artinya penguatan rupiah hingga akhir pekan ini masih belum mengembalikan posisi rupiah yang sebenarnya, yakni di kisaran Rp13.400 per dolar AS.

Meski demikian penguatan ini patut disyukuri, walaupun masih belum stabil di level yang diharapkan. Dari posisi terlemahnya rupiah di level Rp15.260, kini sudah menguat signifikan di level Rp14.790. Faktor apa saja sebenarnya yang menyebabkan rupiah menguat?

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo aliran masuk modal asing ke Indonesia mulai bergerak naik. Ini tercermin dari masuknya dana asing ke instrumen surat berharga negara (SBN) dan pasar saham.

Jika dihitung bulan November 2018 modal asing yang masuk mencapai Rp14,4 triliun. Sehingga secara year to date (ytd) dana yang masuk secara kumulatif telah mencapai Rp42,6  triliun.

Perry menjelaskan selain SBN instrumen saham juga mulai dialiri modal asing, yakni sebesar Rp5,5 triliun. Aliran modal asing ini mencerminkan kepercayaan dari investor yang sudah mulai meningkat terhadap ekonomi Indonesia.

“Bulan ini aliran modal asing ke SBN yang semakin besar dan masuk itu memberikan confidence dari investor global terhadap perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya dari data BI periode 29 Oktober 2018 hingga 7 November 2018 ada aliran dari luar negeri ke Indonesia yang masuk ke surat berharga negara (SBN) mencapai Rp18,1 triliun. Sementara itu periode 29 Oktober 2018 hingga 5 November 2018 arus masuk modal asing ke saham mencapai Rp2,07 triliun.

Kepercayaan investor asing terhadap Indonesia mulai meningkat. Ini tercermin dari pelepasan dolar AS oleh investor dan bank. Hal ini yang menyebabkan rupiah menguat sangat cepat di tengah kondisi pasar valuta asing Indonesia yang sangat likuid.

Obligasi jor-joran

Menurut pengamat ekonomi Salamuddin Daeng, banyak spekulasi bahwa rupiah menguat dua pekan ini karena ada pemilu sela di Amerika Serikat, mungkin juga benar.  Tetapi rupiah ternyata tidak hanya memguat terhadap dolar AS, tapi juga terhadap dolar Singapura, euro, poundsterling, dan terhadap dolar Autralia.

Ternyata minggu ini ada uang masuk besar ke dalam ekonomi indonesia. Tapi jangan lupa sumbernya dari utang, penerbitan obligasi yang ugal-ugalan.

Dia merinci, pertama, diterbitkannya surat utang global bond PT Pertamina (Persero) sebesar US$11,5 miliar (ekuivalen Rp170 triliun), dari target penerbitan surat utang senilai US$10 miliar dengan bunga 6,5% atau setara Rp150 triliun.

Dengan diterbitkan surat utang sebesar US$11,5 miliar tersebut maka global bond Pertamina  sampai saat ini mencapai Rp170 triliun.

Kedua, penerbitan surat utang PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dalam denominasi dolar AS dan Euro. Perusahaan milik negara menerbitkan US$1 miliar dan 500 juta euro (US$575 juta), atau total $1,58 miliar. Obligasi dolar AS sebesar US$500 juta memiliki tenor 10 tahun dan 3 bulan dengan bunga setara dengan 5,37%.

Selain itu diterbitkan sebesar US$$500 juta dengan tenor 30 tahun dan 3 bulan dengan bunga setara dengan 6,25%. Eurobond sebesar  500 juta euro dengan jangka waktu 7 tahun dengan bunga setara dengan 2,875%.

Dengan tambahan surat utang tersdbut ditambah utang global sampai 2017 sebesar US$22 miliar atau Rp330 triliun, maka surat utang yang diterbikan PLN mencapai Rp457 triliun.

Ketiga, menurut Salamudin, yang paling menggila adalah dierbitkanya surat utang  pemerintah dengan coupon rate  11.625% senilai US$2 miliar  atau setara Rp30 triliun. Ini adalah surat utang dengan  bunga terbesar dalam sejarah Indonesia dan mungkin di dunia saat ini.

Surat utang pemerintah ini mendesak diduga karena pemerintah dalam tahun 2018 dan 2019 harus bayar utang jatuh tempo Rp810 triliun, sehingga mau memasang bunga super tinggi bagi siapapun pembeli surat utang negara.

“Jika menambah utang BUMN dan utang pemerintah sebanyak-banyaknya dijadikan cara untuk memperkuat rupiah,  maka ke depan akan menjadi malapetaka untuk bangsa dan rakyat Indonesia,” sesal Salamudin.

Jika benar apa yang disampaikan Salamudin, memang wajar jika rupiah dalam dua pekan ini menguat. Tapi penguatan itu berbasis surat utang dalam jumlah besar, bunga super tinggi, dan wajar saja hot money masuk berbondong-bondong.

Pertanyaannya, sustainable-kah modus penguatan rupiah dengan cara demikian? Kita melihat adanya potensi berbahaya bom waktu utang ke depan. Dan jika itu tiba waktunya, pada akhirnya akan membuat rupiah melemah kembali, karena setiap tahun pemerintah dan BUMN harus menyediakan dolar AS dalam jumlah besar.

Bisa diduga, pada 2019 pemerintah akan membukukan defisit keseimbangan primer lagi. Padahal di 2018 keseimbangan primer sudah mulai positif. Bahkan jika tidak berlebihan, ekonomi Indonesia ke depan akan disander oleh cicilan pokok utang, bunga utang dan risiko default yang tinggi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here