Sebut Limbah B3 Ada 170 Juta Ton, Gus Ipul Sebar Hoax?

0
257

Sutikno Wongso Diharjo

Nusantara.news, Mojokerto– Permasalahan pabrik pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Lakardowo, Mojokerto, dapat perhatian Wakil Gubenur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, serta  menyebut ada 170 juta ton limbah B3 di Jatim. pernyataan ini kuat dugaan hoax.

Menurut Wagub Jatim, Saifullah Yusuf, limbah B3 di Jawa timur kebanyakan berasal dari Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto. Jumlahnya ada 170 juta ton. ”39 persen yang pada tempatnya. Seperti dikirim ke Cilengsi, Bogor. Sehingga Jatim masih membutuhkan sekitar 3 pabrik pengolahan limbah B3 lagi,” kata Saifulloh Yusuf di Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto Jumat (12/05/2017)

Karena limbah tersebut harus dikelola secara khusus bukan pabrik sembarangan, salah satunya PT PRIA. PT PRIA merupakan salah satu pabrik pengelolahan limbah B3 yang diberi izin pemerintah. “Sehingga diperlukan dua hingga tiga pabrik pengolahan limbah B3 seperti PT PRIA ini, ini masih dalam pembahasan. Sekarang di PT PRIA ada persoalan dengan warga, sehingga kita akan coba cari solusi dan karena menyangkut limbah B3 yang berbahaya, semua harus sesuai prosedur. PT PRIA harus bekerja seauai prosesur, sesuai ketentuan perizinan yang diberikan,” ujar Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Direktur Pengkajian dan Penelitian  Damar Wulan Institut (DWI), Januar S Kaimudin menjelaskan bahwa pernyataan Gus Ipul terkait jumlah limbah B3 sebayak 170 juta ton sangat menarik untuk dikaji. Pusat dan daerah memiliki kewenangan sendiri-sendiri terkait Limbah B3. Terdapat 6 hal yang berkaitan dengan limbah B3 yakni pengangkutan, penyimpanan, pengumpulan, penimbunan, pengolahan  dan pemanfaatan.  “Propinsi hanya memiliki kewenangan pemberian izin terhadap pengumpulan limbah, sementara penyimpanan kewenangan bupati dan lainnya menjadi kewenangan pusat, ” ujar Januar kepada Nusantara.news, senin (15/05/2017)

DWI memiliki beberapa catatan atas pernyataan Wagub, Berikut ini catatannya,

  1. Dengan 170 juta ton, dengan berat jenis limbah bervariasi tergantung bahan-bahan penyususunnya, dengan nilai antara 200-300 kg/meterkubik maka volume limbahnya mencapai 565 juta meterkubik setara dengan 1,6 kali volume waduk Karang Kates, sebuah jumlah yang teramat besar.
  1. Dijatim tercatat ada 174 perusahaan yang dipantau, diawasi dan dibina oleh kementerian Lingkungan Hidup. Mereka adalah perusahaan yang telah memiliki izin-izin yang diperlukan seperti HO, Amdal dan lainnya. Jika hasil limbah B3- nya seperti yang dinyatakan oleh Gus Ipul maka setiap pabrik rata-rata mengeluarkan limbah sebanyak 977 ribu ton/tahun. Sehari sebesar 2,67 ribu ton.

Produksi ini jelas tidak wajar, mengapa? Berat jenis limbah bervariasi tergantung bahan-bahan penyusunnya, dengan nilai antara 200-300 kg/meterkubik. Maka setiap perusahaan rata-rata memiliki volume limbah sehari sebanyak sebanyak 8,9 ribu meterkubik/per perusahaan.

Sehingga setahun keseluruhan limbah B3 memiliki volume 565 juta meterkubik setara dengan ketinggian atau ketebalan 10 meter dibutuhkan serta waktu penyimpanan sementara 14 hari maka dibutuhkan lahan seluas 1,2 hektar.

Kementrian lingkuan hidup melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) mencatat di tahun 2015 jumlah limbah B3 dari 1800-an perusahaan yang di nilai hanya 50 juta ton/tahun. Dan Jatim hanya memiliki limbah B3 tidak sampai 19 juta ton/tahun, dengan Gresik memproduksi 1,3 juta ton, yang disuplai oleh PT Smelting milik freeport.

  1. Pengangkutan limbah diatur oleh kementerian perhubungan melalui Dirjen Perhubungan darat yang mensyaratkan bahwa kapasitas angkut angkutan sebanyak 3850 kg, jika 170 ton maka dibutuhkan 44,15 juta rit angkutan, sehari 120 ribu lebih. Jika sehari di sekitar pabrik ada 120 ribu lebih truk pengangkut lalu lalang, maka ada kemacetan luar biasa di jalan-jalan dari dan ke kawasan industri yang tersebar di Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan. Faktanya hanya kemacetan biasa.
  1. Biaya angkutan untuk limbah untuk satu angkutan setiap kilo meter sebesar 60 ribu, dengan 44,15 juta rit/tahun maka untuk satu kilometer saja dibutuhkan biaya sebesar Rp2,69 triliun. Sementara jarak tempat penghasil dengan pengolahan limbah bisa dibilang lebih dari 10 kilometer, tentu biayanya lebih besar lagi.  Sedangkan PDRB Jatim tahun 2016 sektor air, pengolahan limbah dan daur ulang hanya Rp1,7 triliun.

Dari catatan Damar Wulan Institut maka bisa dipastikan pernyataan Gus ipul bahwa Jatim memiliki 170 juta ton limbah B3 tidak memiliki dasar atau hoax. Lantas darimana Gus Ipul dapat angka itu? Mengingat Badan Lingkungan Hidup Jatim mencatat di tahun 2016 limbah B3 hanya 19 juta ton.

Lebih jauh Januar menyatakan, bila pernyataan itu sebuah kesalahan maka sebaiknya Wagub meminta maaf dan mengkoreksi pernyataannya. Lebih berbahaya jika Wagub tidak mendapat advis dari bawahannya. “Ini bisa ada tudingan ada disharmoni antara Wagub dan bawahannya, terlebih Wagub disebut-sebut ingin maju sebagai Gubernur Jatim periode mendatang,“ tegasnya.

Semoga hanya kesalahan sebut saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here