Segera Temui Presiden, Khofifah Minta Pendukungnya Bersabar

0
46
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sedang memberikan keterangan pers di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Surabaya (Foto: Tudji Martudji)

Nusantara.news, Surabaya – Khofifah Indar Parawansa mengatakan dirinya segera menghadap Presiden RI Joko Widodo, itu dilakukan guna meminta izin sekaligus memohon restu untuk pencalonan dirinya maju di Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang akan dilaksanakan tahun 2018.

Menteri Sosial RI itu juga menegaskan terkait rencana tersebut, semua persiapan yang dilakukan telah final. Dan, meski tidak menyebut partai mana saja yang akan menyokongnya kesiapan yang terus dilakukan telah cukup matang. Selangkah lagi sambil menunggu saat yang tepat, semua yang dilakukan segera menuju tahapan selanjutnya.

“Tapi itu kan masih lama, pendaftaran calon Pilkada Jatim masih bulan Januari mendatang, sabar, nanti akan tiba saatnya,” ujar Khofifah menjawab pertanyaan wartawan sesaat setelah turun dari mobil menuju Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Surabaya, Selasa (15/8/2017), malam.

Kemudian, saat tampil sebagai pembicara tunggal di acara “Halaqah Kebangsaan” yang mengangkat tema “Bersama Mewujudkan Jawa Timur 2018 Berdaya dan Berkeunggulan” di Kantor PW Muhammadiyah Jawa Timur di Jalan Kertomenanggal Surabaya, Khofifah menegaskan kalau persiapannya sejauh ini masih terus dilakukan dengan saling bersilaturahmi dan membangun komunikasi dengan sejumlah partai politik dan tokoh-tokoh di Jawa Timur.

Ditambahkan, dirinya memang belum mengambil formulir pendaftaran di partai politik, dan itu akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang akan ditentukan kemudian.

“Tunggu saja, pendaftaran di beberapa partai politik yang telah membuka pendaftaran calon Pilkada Jatim saja belum,” ucapnya.

Kemudian menjawab desakan sejumlah pertanyaan wartawan, kapan itu dilakukan, sambil senyum dirinya melontarkan kalimat, ditunggu saja.

Dia juga menegaskan telah ada sedikitnya empat partai politik yang telah intens berkomunikasi untuk mengusung dirinya sebagai calon Gubernur Jawa Timur. Namun, dia belum mengatakan partai politik mana saja yang dipastikan mendukung seperti yang diucapkan tersebut.

“Saya tidak ingin dengan partai-partai politik yang sudah seirama dan berseiring untuk membangun Jawa Timur ini nantinya hanya sekadar menjadi kendaraan semata. Khususnya bagi saya, bukan sekadar sebagai pintu masuk untuk menuju pencalonan di Pilkada Jatim 2018, tetapi untuk Jatim yang lebih baik,” ucapnya.

Untuk itu, sampai sekarang, lanjut Ketua PP Muslimat NU itu bersama para pimpinan dan elit partai-partai politik terus dilakukan komunikasi untuk mencari format bersama terkait pembangunan Jawa Timur ke depan.

“Pada akhirnya kalau misalnya sudah ketemu titik di mana kita siap untuk turun, ya, nanti akan turun bersama dengan partai-partai politik pendukung ini,” terangnya.

Khofifah juga meyakinkan, setelah ada dukungan dari partai-partai politik untuk pencalonannya untuk maju di Pilgub Jawa Timur 2018, langkah pertama yang dilakukannya adalah menghadap Presiden Joko Widodo untuk meminta restu.

“Apapun keputusan Presiden nantinya, tentu saya akan mengikutinya. Karena bagaimanapun saya masih sedang membawa mandatnya Presiden sebagai Menteri Sosial,” katanya.

Dukungan dari ulama terus mengalir

Kepastian dirinya untuk maju sebagai Gubernur Jawa Timur di Pilkada Serentak pada 2018, juga telah terbangun komunikasinya dengan para ulama. Termasuk dengan para kiai sepuh di Jawa Timur, seperti salah satunya dengan KH Solahuddin Wahid.

“Menurut sampeyan Gus Sholah itu kiai opo ora…? Kiai Asep itu kiai opo ora..? Jadi, saya mohon maaf janganlah kita kemudian membelah-belah para kiai. Saya sangat menghormati statemen kiai A, kiai B dan lainnya. Jangan memaksakan semua itu harus sewarna. Ingat, kata Rasulullah SAW, perbedaan di antara umatku adalah rahmat (Ikhtilafu Ummatii Rohmatun),” urai Khofifah kepada wartawan yang sempat melontarkan seberapa besar dukungan para kiai terhadap dirinya.

Khofifah kemudian menjelaskan, kalau dirinya saat ini masih terus melakukan proses komunikasi politik dengan sejumlah kiai serta partai politik.

“Artinya, ini proses masih berjalan. Selesai proses kalau misalnya saya dengan tim disuruh ayo mbak go (berangkat), baru saya menghadap Presiden,” tuturnya.

Khofifah menegaskan, sebelum meminta izin ke Presiden, pihaknya akan melakukan silaturrahim dulu dengan berbagai partai dan tetap berjalan melakukan silahturahmi kepada para kiai, tokoh-tokoh, partai politik hingga saat ini.

Hingga akhirnya, lanjut dia semuanya akan berjalan bareng menuju satu titik. Menurutnya partai politik tidak hanya sebagai pintu masuk atau kendaraan saja untuk kepentingan jabatan.

“Saatnya nanti kita akan turun bareng, bersama-sama membangun Jawa Timur,” tegasnya.

Dari yang disampaikan oleh Khofifah tegas, kesiapan dirinya untuk maju sebagai calon Gubernur Jawa Timur melalui pemilihan kepala daerah yang digelar serentak di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia, disiapkan dengan matang.

Tak ingin jalan sendiri, semua elemen digandeng. Partai politik tentu karena sebagai syarat pertama, para kiai, tokoh dan pemuka masyarakat serta berbagai elemen tak ketinggalan juga diajak bicara.

Sementara, saat berbicara di depan pimpinan dan kader Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Arek Suroboyo yang juga pernah menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid itu menguraikan sejumlah hal, termasuk kondisi Jawa Timur. Berbagai persoalannya, tantangan ke depan serta sejumlah strategi untuk menuju provinsi yang lebih baik.

“Maaf, tadi saat masuk ke sini (Aula Gedung PW Muhammadiyah Jawa Timur, di lantai 3) sejumlah data yang telah saya siapkan terpaksa saya deleded. Karena, saya tidak ingin ini disebut paparan visi-misi saya untuk Pilgub Jatim,” ujar Khofifah sambil senyum.

Di depan undangan, Khofifah salah satunya menyitir data Kemensos dan BPS, yang menyebut kemiskinan pedesaan tertinggi untuk nasional, adalah Jawa Timur. Angka gugat cerai dan perselisihan keluarga di Jawa Timur juga tergolong tinggi.

“Ini yang tidak boleh kita sembarangan melakukan penilaian. Harus diketahui bahwa berbagai persoalan tersebut saling terkait dengan faktor-faktor lain, juga harus ada penanganan yang tepat,”katanya.

Selain persoalan di atas, Khofifah juga membeber fakta lain tentang berbagai hal yang memerlukan penanganan dengan baik. Namun, kembali mengulangi kalimatnya, yang disampaikan tidak ingin dinilai sebagai penyampaian visi-misi atau langkah awal sebelum maju di Pilgub Jawa Timur, wanita berusia 52 tahun itu lagi-lagi membatasi materi yang disampaikan.

Termasuk saat menyebut di Jawa Timur ini angka gugat cerai, sengketa dan perselisihan rumah tangga cukup tinggi. Tetapi, mereka masih dengan mudah tersenyum. “Apakah karena seringnya istighotsah ya…,” ucapnya.

Kembali soal jelang Pilgub Jawa Timur, Khofifah sebagai staf atau pembantu Presiden Joko Widodo di Kabinet Kerja, tentu tak mengabaikan etika dan ketentuan. Dirinya akan lebih dulu menemui Presiden, meminta izin sekaligus restu dan dukungan untuk pengabdiannya di tempat yang baru, yakni melayani dan mengabdikan diri untuk masyarakat di Provinsi Jawa Timur. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here