Sehari Kemenkeu Bisa Menerbitkan Utang Baru Rp2,26 Triliun. Benarkah?

0
139
Rencana Kementerian Keuangan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang 2019 mencapai Rp825,70 triliun atau setara Rp2,26 triliun per hari.

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa waktu lalu mantan Menko Kemaritian Rizal Ramli pernah menyindir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal getolnya membuat utang baru sebesar Rp1,24 triliun. Sindiran itu tentu membuat Kemenkeu gerah, apalagi belakangan diketahui potensi penerbitan surat utang naik menjadi Rp2,26 triliun setiap hari.

Persoalan utang ini memang menjadi persoalan dilematis yang tak terelakkan bagi pemerintah. Mengingat belanja negara meningkat, sementara penerimaan negara selalu di bawah target, sementara investasi langsung yang diharapkan masuk tidak sesuai harapan. Kondisi ini membuat defisit terus melebar.

Sementara hasil impor juga tak sesuai dengan target. Maka satu-satunya jalan paling mudah dan praktis adalah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN).

Itu sebabnya pada Januari 2019 lalu Rizal Ramli menyindir bahwa pemerintah begitu boros dalam berutang. Saking borosnya utang itu bisa mencapai Rp1,24 triliun per hari. Namun Rizal tak merinci unsur dari utang dimaksud.

"Ini pemerintah satu hari utang baru Rp1,24 triliun, satu hari loh, masih ada nih berapa bulan lagi, 100 hari lagi, kaliin aja tuh," ujarnya meyakinkan.

Bukan itu saja, Rizal juga mengritik bunga surat utang pemerintah yang 8,5%, paling tinggi di kawasan Asia-Pasifik. "Jadi, pemerintah ini prioritasnya bikin senang petani di Thailand, Vietnam, petani garam di Australia yang kasih utang ke Indonesia bunganya 8,5%, paling tinggi di kawasan Asia Pasifk, kalau negara lain yang bukin surat utang bunganya hanya 5-6%," sindir ekonom senior itu. 

Sehingga, menurut Rizal, uang negara bisa habis untuk membayar utang. Belum lagi dengan bunganya. Ia mengandaikan uang sebesar itu mestinya digunakan untuk membuat lahan baru yang bisa memperkerjakan para petani Indonesia. 

"Coba bayangkan itu prioritasnya, utang setiap hari bayar bunganya berapa, padahal kalo kita pake itu bikin sawah ladang tebu, ladang jagung jutaan rakyat kita bekerja," katanya. 

 

 

Jadwal penerbitan SBN sepanjang 2019 (Sumber: Direktorat Pengelolaan Utang Negara Kemenkeu) 

Padahal dengan Rp1 triliun saja, sebenarnya Indonesia bisa mencetak sawah baru yang besar, kalau sawah sederhana mungkin di  bawah Rp1 triliun. Bayangkan lapangan pekerjaan yang bisa dibuka dengan 1 juta sawah baru, setengah juta hektar tebu, 1 juta kebun jagung. Daripada uangnya untuk bayar utang.

Rizal menegaskan Presiden Jokowi tidak bisa menyelesaikan masalah di sektor ekonomi. Jokowi menurutnya, selalu berpidato tentang kedaulatan pangan, tapi tidak ada hasil. 

"Mas Jokowi who are you working for? Kerja buat siapa? Kerja buat petani di luar negeri. Dan mohon maaf jangan ulangi lagi slogan atau pidato soal kedaulatan pangan. Karena dalam empat tahun bapak presiden tidak mampu, justru malah sebaliknya yang terjadi. Lebih bagus nggak bikin apa-apa 3 bulan lagi," tuturnya. 

Di lain waktu Rizal menyindir Menkeu Sri Mulyani sebagai sales promotion gilr (SPG) utang, kadang Rizal menyebut Ratu Utang. Karena semua persoalan APBN ujung-ujungnya menggunakan solusi utang, padahal banyak inovasi yang harus dilakukan selain menggunakan utang. Ia menyebut Sri kurang kreatif dalam mengelola APBN.

Sedangkan calon presiden Prabowo Subianto dalam berbagai pidatonya juga kerap menyindir Sri sebagai menteri pencetak utang lantaran gemar menumpuk utang. Karena memang kebutuhan APBN didominasi oleh utang, selain penerimaan pajak. Apalagi dengan kecenderungan penerimaan pajak yang jauh dari kenyataan, sudah dapat diduga terus menggali utang.

Tentu saja sinyalemen Rizal Ramli dan Prabowo itu dilawan oleh Kementerian Keuangan. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti mengatakan total utang pemerintah di April tahun ini turun Rp38,6 triliun dari Maret 2019 yang sebesar Rp4.567,31 triliun.

Secara nominal, utang Pemerintah memang bertambah jika dihitung sejak akhir April tahun lalu, namun sebenarnya utang pemerintah dalam satu bulan terakhir sudah menurun Rp 38,6 triliun. Ini berarti dalam 1 bulan bisa turun 11% lebih dibandingkan dengan kenaikan tersebut.

Menurut Nufransa, jika utang pemerintah bertambah menjadi kesalahan Menteri Keuangan merupakan kesalahan besar. Pasalnya, jumlah utang bertambah atau tidak merupakan kesepakatan antara pemerintah dengan dewan perwakilan rakyat (DPR).

Dapat diketahui, jumlah utang pemerintah per April 2019 tembus Rp4.528,45 atau bertambah Rp347 triliun jika dihitung dari April 2018 atau selama satu tahun. Rasio utang pemerintah 29,65% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara realisasi pembayaran bunga utang pemerintah sampai dengan akhir Mei 2019 sudah mencapai Rp127,07 triliun. Total tersebut merupakan 46,06% dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, yakni Rp275,89 triliun.

Menkeu menjelaskan pertumbuhan pembayaran bunga utang sampai Mei adalah 13%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dua tahun belakang, di mana pertumbuhan pada Mei 2017 adalah 25%, sementara Mei 2018 adalah 13,8%. Jadi ada pertumbuhan menurun dalam hal pembayaran bunga.

Alokasi pembayaran bunga utang ini masuk dalam pos belanja non Kementerian/ Lembaga (K/L) yang realisasinya sampai dengan akhir Mei adalah Rp242,8 triliun. Angka tersebut lebih tinggi secara nominal dibandingkan tahun lalu, Rp226,53 triliun.

Secara persentase, belanja non K/L mengalami penurunan dari 37,32% terhadap APBN 2018 menjadi 31,14% terhadap APBN 2019. Selain realisasi pembayaran bunga utang yang menurun, kondisi tersebut disebabkan penurunan belanja subsidi.

Realisasi pembayaran bunga utang sampai akhir Mei sebesar 46,06% terhadap APBN 2019. Sedangkan, pada periode yang sama di tahun lalu, persentasenya sudah mencapai 47,17% terhadap APBN 2018.

Yang agak menarik, berdasarkan data Direktorat Pengelolaan Surat Utang Negara Kemenkeu, pada 2019 rencana pembiayaan APBN melalui penerbitan SBN mencapai Rp825,70 triliun. Tentu saja itu angka yang tidak sedikit, kalau dibagi dalam setahun 365 hari, maka dalam sehari Kemenkeu menerbitkan SBN hingga Rp2,26 triliun. Jauh lebih besar dari sinyalemen Rizal Ramli.

Rencana penerbitan SBN tersebut terdiri dari SBN netto sebesar Rp388,96 triliun, untuk kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo sepanjang 2019 sebesar Rp382,74 triliun, dan berupa SBN cash management sebesar Rp54 triliun.

Komposisi SBN tersebut nantinya akan diserap oleh investor domestik antara 8% hingga 86%, sementara untuk investor asing 14% hingga 17%. Target penerbitan SBN pada semester I-2019 mencapai 50% hingga 60% dari target gross penerbitan SBN. Sementara jumla penerbitan SBN dalam denominasi rupiah mencapai 52% dari rencana penerbitan SBN.

Tentu saja Rizal Ramli salah kalau hanya menyebut penerbitan utang baru sebesar Rp1,24 triliun, pantas saja kalau Kemenkeu mengkritik Rizal yang salah dalam mengutip data. Padahal yang direncakanan sepanjang 2019 lewat penerbitan SBN adalah Rp825,70 triliun atau per hari Rp2,26 triliun.

Tapi apa implikasinya buat rakyat Indonesia? Tentu saja beban pembayaran pokok dan bunga utang makin membesar. Dan utang yang besar itulah yang akan menjadi legacy Sri Mulyani untuk anak cucu kita nanti.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here