Sejak Dulu, Cina Perangi Indonesia dengan Narkoba

0
451
Kaki tangan mafia Cina penyelundup sabu 1 ton ke Indonesia.

Nusantara.news, Jakarta – Ketika sabu sebanyak satu ton tertangkap di Anyer, Banten, pertengahan bulan lalu, banyak yang memuji. Tapi Kepala BNN Komjen Pol. Budi Waseso justru tak bahagia.  “Satu ton itu nggak buat saya bahagia, karena yang lolos lebih dari itu,” katanya.

Budi Waseso mengungkapkan, saat ini  ada 250 ton sabu di pasar Indonesia. “80 persen dari Cina,” kata Buwas.

Kemesraan hubungan pemerintah Indonesia dengan Cina melalui berbagai kerjasama ekonomi, rupanya dimanfaatkan oleh mafia narkoba untuk menyelipkan aksinya.

Dalam pertemuan dengan National Narcotics Control Commission (NNCC, BNN-nya Cina) Budi Waseso pernah meminta agar mereka lebih serius menghentikan produksi narkoba yang dilakukan mafia di negaranya. Alangkah terperanjatnya Buwas mendengar jawaban pejabat NNCC, bahwa mereka tak bisa menyetop produksi narkoba.

“Mereka mengaku bikin narkoba dan bahan narkoba yang masuk ke Indonesia.Tapi di sana tidak dilarang berbuat apa saja, kecuali kejahatan,” sebut Buwas.

Yang membuat Buwas hampir mati terkejut adalah data yang diserahkan NNCC kepadanya, bahwa selama ini mafia Cina sudah mengirim 1.092 ton sabu ke Indonesia. “Itu baru yang tercatat, apalagi yang tidak diketahui,” ujarnya.

United Nation Office on Drugs Control (UNODC), badan PBB yang menangani pengawasan narkoba, sudah lama menempatkan Indonesia pada posisi kuning untuk masalah narkotika, dan posisi warna merah untuk masalah psikotropika. Warna kuning menunjukkan kondisi suatu negara yang berbahaya. Sedangkan merah adalah posisi bahaya tertinggi.

Mafia Cina yang memasok narkoba ke Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Candu, narkotika tertua itu, sudah masuk ke Nusantara sejak ratusan tahun silam. Sebelum masa VOC, perdagangan candu  skala  besar sudah terjadi di Nusantara, terutama di Pulau Jawa. Candu dibawa masuk melalui Pelabuhan Sunda Kelapa oleh para pedagang Cina.

Ketika VOC mulai menguasai perdagangan, mereka mengenakan pajak candu yang tinggi di seluruh daerah. VOC bekerjasama dengan orang-orang Cina yang menjadi pedagang candu untuk memungut pajak itu.

Konglomerat Cina pertama di Nusantara,  Oei Tiong Ham, adalah pedagang candu terbesar di masa itu. VOC memberinya hak monopoli perdagangan candu untuk wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sekarang. Dari perdagangan candu saja, Oei Tiong Ham mendapat keuntungan sampai 18 juta gulden.

Selain Oie, juga ada bandar lain seperti Ho Lam Ho, Tan Hong Ban, Be Ing Tjioe, dan di samping sejumlah kapiten Cina lainnya.

Nilai keuntungan yang diperoleh Oei Tiong Ham ini bisa memberikan gambaran tentang besarnya nilai perdagangan candu ketika itu. Diperkirakan dari masa Jan Pieter Zoon Coen berkuasa pada 1619 hingga masa berakhirnya VOC pada tahun 1799,  tiap tahun VOC memasok rata-rata 56 ton candu ke Jawa.

Korban candu di Jawa masa lalu.

Ini suatu jumlah yang fantastis, apalagi dibandingkan dengan jumlah penduduk. Jumlah penduduk Jawa dan Madura pada masa itu masih kecil. Pada tahun 1781, menurut taksiran Radermacher, seperti ditulis dalam halaman 92 buku Sejarah Nasional Indonesia, jilid IV, (Sartono Kartodirdjo, et.al., terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975) penduduk Jawa dan Madura baru 2.029.915 jiwa. Sedangkan pada 1795, menurut taksiran Nederburgh, berjumlah 3,5 juta jiwa.

Di Batavia masa itu, bahkan ada tempat-tempat khusus di kawasan Pecinan untuk jual beli dan mengisap candu. Masyarakat menyebutnya dengan nama Gang Madat dan Gang Madat Besar. Kini nama jalan itu diganti dengan Jalan Kesejahteraan dan Jalan Keselamatan. Letaknya di sebelah kiri Jalan Gajah Mada, di daerah Jakarta Kota sekarang.

Saking banyaknya korban candu yang dibawa mafia Cina masa itu, pada 1927 pemerintah kolonial menerbitkan Verdovende Middelen Ordonantie (Staatsblad Nomor 278 Juncto 536), UU yang mengawasi peredaran dan penggunaan candu.

Kebebasan mengisap candu ini berakhir bersamaan dengan angkat kakinya kolonialisme Belanda dari Indonesia. Pemerintah Jepang menghapuskan ordonansi itu dan melarang pemakaian candu.

Setelah kemerdekaan, Pemerintah membuat perundang-undangan yang menyangkut produksi, penggunaan dan distribusi dari obat-obat berbahaya dimana wewenang diberikan kepada Menteri Kesehatan untuk pengaturannya (Lembaran Negara  Nomor 419 Tahun 1949).

Baru tahun 1970, masalah narkotika menjadi masalah besar dan nasional sifatnya. Pada waktu perang Vietnam sedang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, hampir di semua negeri, terutama di Amerika Serikat penyalahgunaan narkotika sangat meningkat. Nampaknya gejala itu berpengaruh pula di Indonesia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Menyadari hal itu, Presiden Soeharto mengeluarkan Inpres No.6/1971 dengan membentuk Bakolak Inpres, yang mengkoordinasikan kegiatan penanggulangan terhadap berbagai kejahatan yang mengancam keamanan negara, yaitu pemalsuan uang, penyelundupan, bahaya narkotika, kenakalan remaja, kegiatan subversif dan pengawasan terhadap orang-orang asing.

Jika dulu masuknya narkoba ke Nusantara lebih karena kepentingan dagang, kini konteksnya berbeda. Seperti diingatkan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo tentang bahaya proxy war atau perang tanpa bentuk di Indonesia yang dilancarkan dengan beberapa cara, termasuk narkoba. “Bisnis yang paling besar di negeri ini adalah bisnis narkoba,” ujar Gatot.

Pernyataan ini dibenarkan oleh Budi Waseso. Saat ini ada 72 jaringan internasional narkotika yang menggerayangi di Indonesia. Salah satu jaringan nilai transaksinya ada yang mencapai Rp 3,6 triliun pertahun. “Kalau rata-rata Rp1 triliun saja setiap jaringan, berarti ada Rp 72 triliun belanja narkoba setiap tahunnya,” katanya.

Menurut sumber Nusantara.news di Direktorat Narkoba Polri, maraknya jaringan mafia narkoba Cina di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari organisasi mafia di negeri asalnya, yakni Triad.

Triad adalah geng yang menakutkan. Ini adalah mafia tertua dan terbesar di dunia. Cikal-bakalnya sudah terbentuk sejak zaman Dinasti Ching, 300 tahun lalu. Markas besarnya berada di Taiwan dan Hongkong. Tidak ada yang tahu berapa jumlah pasti anggota Triad. Tetapi berdasarkan perkiraan FBI, 3 persen dari penduduk Hongkong adalah anggota Triad. Belum lagi anggota yang tersebar luar di seluruh penjuru dunia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here