Sejak Teror di Mako Brimob Sudah 43 Tewas

0
175

Nusantara.news, Jakarta -Sejak teror di Markas Komando (Mako) Brimob, Depok, Jawa Barat, Densus 88 memburu terduga teroris di sejumlah daerah. Jumlah korban dari pihak teroris bertambah. Sejak teror di mako Brimob, Selasa (8/5/2018) sampai Rabu (16/5/2018) total tewas sudah 43 orang. Dari 43 orang itu, 6 di antaranya anggota kepolisian, 19 teroris dan 18 lainnya anggota  masyarakat. Sementara korban luka mencapai 54 orang terdiri dari 5 anggota kepolisian dan 49 lainnya masyarakat. Teroris yang ditahan mencapai 33 orang (anak dan dewasa) dan teroris yang sudah nyaris terciduk tetapi berhasil melarikan diri mencapai 5 orang.

Densus Buru Teroris

Sebanyak 43 korban tewas itu tidak hanya terjadi dalam aksi teror, tetapi juga dalam aksi perburuan terhadap para teroris di sejumlah daerah. Jumlah korban tewas dalam aksi teror  memang besar mencapai mencapai 35 orang dan 8 lainnya terjadi dalam aksi perburuan oleh Densus 88. Delapan orang ini tewas ditebus timah panas karena melawan saat disergab.

Sebanyak 35 korban meninggal dalam aksi teror, terdiri 18 (anggota masyarakat) tewas dalam aksi teror di tiga gereja di Surabaya, 5 (polisi) tewas dalam aksi teror di Mako Brimob, dan aksi teror di Polda Riau,  5 (teroris) dtewas dalam aksi di tiga gereja di Surabaya, 3 (teroris) tewas dalam aksi teror di Poltabes Surabaya, 3 (teroris) tewas dalam aksi di Rumah Susun di Sidoardjo.

Sementara 8 teroris yang tewas dalam aksi perburuan oleh Densus 88, 4 orang tewas  dalam aksi perburuan di Cianjur Jawa Barat, satu tewas dalam aksi perburuan di Tanjungbalai Sumatera Utara, dan 3 tewas dalam aksi perburuan di Surabaya.

Titik perburuan Densus 88 masih minim, meliputi Surabaya Jawa Timur, Sidoardjo Jawa Timur, Tengerang Banten, Grogol Jakarta, Tanjung Balai Sumatera Utara, Medan Sumatera Utara, Pekan Baru Riau, Cianjur Jawa Barat dan Palembang Sumatera Selatan.

Perburuan teroris di Cianjur terjadi di Terminal Pasirhayam, Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat. Peristiwanya terjadi pada Minggu (13/5/2018) dini hari, atau hanya beberapa saat sebelum bom meledak yang hampir bersamaan di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018) pagi.

Empat orang terduga teroris Cianjur yang merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), pimpinan Aman Abdurrahman ini mengedarai roda empat. Mereka hendak  menuju Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Densus 88 yang terus membuntuti. Mengetahui dibuntuti, para terduga teroris  berusaha melarikan diri dengan membelokkan kendaraan masuk ke dalam Terminal Pasirhayam. Saat dihentikan mereka melawan dengan senjata api yang mereka bawa.

“Mereka terpaksa ditembak petugas karena melakukan perlawanan saat akan dilakukan penangkapan,” kata Kapolres Cianjur AKBP Soliyah SIK MH. Keempat terduga teroris tewas diterjang timah panas.

Petugas mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga akan digunakan untuk aksi teror, berupa satu unit mobil, dua pucuk senjata api rakitan jenis revolver, tiga buah tas yang diduga berisi bahan peledak, dua buah pelindung kepala (helm), satu lembar kertas bergambar sketsa rakitan senjata api dan beberapa barang bukti lainnya.

Beberapa saat setelah teror di 3 gereja, tepatnya tanggal 13 Mei 2018 malam, polisi memburu terduga teroris di Surabaya dan Sidoardjo. Dalam perburuan ini polisi menangkap 7 orang. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur  Komisaris Besar Polisi Frans Barung Mangera mengemukakan, tujuh orang itu sudah merencanakan penyerangan terhadap beberapa sasaran.

“Kami tidak ingin membuka sasaran itu karena dapat membawa dampak dari psikologi,” ujar Mangera kepada wartawan.

Frans Barung Mangera tidak menjelaskan di daerah mana 7 orang itu ditangkap. Namun Mangera membenarkan, 2 diantara 7 terduga teroris yang tewas ditembak karena melawan.

Frans Barung Mangera membenarkan bahwa Densus 88 juga terlibat baku tembak dengan teroris di daerah Manukan Surabaya pada 15 Mei 2018 pukul 17.00.  “Ada perlawanan. Makanya ditembak. Mati. Usianya antara 39-41 tahun,” ujarnya. Dalam baku tembak ini 1 orang terduga teroris tewas.

Perburuan terhadap terduga teroris juga terjadi di beberapa titik lokasi di Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Selasa (15/5/2018).

Dalam perburuan ini satu terduga teroris bernama Dodi diringkus tanpa perlawanan di Sungai Apung, Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan saat mempersiapkan gerobak berjualan.

Berdasarkan keterangan Dodi, polisi bergerak ke alamat teroris lain. Sekitar pukul 12.00 WIB pada hari yang sama, polisi kembali melakukan penangkapan terhadap Agus Setiawan Sirait di Jalan Yos Sudarso, Pulau Buaya, Teluk Nibung, Tanjungbalai.

Satu jam kemudian tim membekuk seorang terduga teroris atas nama Hendra di rumah makan, depan RSUD Tanjungbalai, Jalan Dr Mansyur, Tanjungbalai Selatan.

Sekitar pukul 16.53 WIB, tim kembali membekuk dua orang terduga teroris di Jalan Besar Teluk Nibung. Namun di sini ada perlawanan polisi memuntahkan timah panas. Satu orang meninggal atas nama Saiful serta satu lagi belum diketahui identitasnya.

Perburuan terhadap terduga teroris di Medan Sumatera Utara pada Selasa (15/5/2018) malam.  Dua terduga teroris diamankan yakni, MYR (28) warga Medan Tembung dan SL (38) penduduk Pecut Seituan, Deliserdang, sementara W (38) lolos dalam penyergapan.

MYR sehari-hari bekerja sebagai penarik ojek online ditangkap saat mengendarai sepeda motor di Jalan Sekip, Medan Petisah. Sementara SL diringkus saat mengendarai sepeda motor di lahan garapan Desa Sampali, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang

Perburuan juga terjadi Palembang. Kapolda Sumsel, Irjen Pol. Zulkarnain Adinegara mengemukakan, dua terduga teroris diciduk. Saat ini penyidik masih mengembangkan informasi dari kedua terduga teroris. Termasuk mencari oknum dosen dan pegawai BUMN yang diduga akan membiayai keberangkatan keduanya bersama lima rekannya ke Jakarta untuk melakukan aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Polisi juga menangkap terduga teroris di Klaster Ubud 2 Perumahan Duta Bintaro, Kota Tangerang, Rabu (16/5/2018).  Dua terduga teroris berhasil ditangkap.

Pada rabu (16/5/2018) juga ditahan seorang berinisial HS (57 tahun). Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, HS menyatroni Masjid Al Amanah di Kantor Satpas SIM Polda Metro Jaya sekira pukul 18.30 WIB. Polisi mencurigai tas yang dibawa HS. Saat petugas hendak melakukan pemeriksaan, HS malah melemparkan senjata tajam jenis pisau badik. Polisi kini mengamankan HS, termasuk barang bukti senjata tajam yang ditemukan di area Masjid Al Amanah.

Gerakan ISIS

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu yang mengungkapkan, ada upaya kelompok radikal ISIS memindahkan basisnya di Asia Tenggara dari Marawi di Filipina ke Indonesia.

“Pemindahan itu sudah disiapkan dengan matang oleh para simpatisan ISIS di Indonesia. Pemindahan tersebut adalah perintah dari pimpinan ISIS di Kabul, Afghanistan,” kata Menhan saat memberikan pernyataan kepada pers di Jakarta, Senin (14/5/2018).

Ini tentu saja akan berbahaya, sebab aksi teror di mako Brimob dan Surabaya tidak tertutup kemungkinan merupakan rangkaian dari langkah ISIS masuk, menguasai dan menjadi Indonesia atau salah satu daerah di indonesia menjadi basis gerakan pengganti Raqqa.

Menjadikan Indonesia sebagai basis baru ISIS seperti dikemukakan Menhan Ryamizard Ryacudu cukup masuk akal. Sebab, Indonesia bukan negara asing bagi ISIS. Tiga warga negara Indonesia (WNI) disebut-sebut menduduki posisi cukup tinggi di hierarki kelompok ISIS yang berbasis di Suriah, yakni Abu Jandal, Bahrun Syah, dan Bahrun Naim.

Bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo, Bahrun Naim disebut-sebut otak serangan di Sarinah. Menurut Direktur Global Terrorism Research Centre Monash University, Greg Barton, Bahrun mendapat perintah langsung dari bos ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi untuk melakukan serangan apapun di Indonesia

Bahrumsyah juga dikenal sebagai komandan ISIS asal Indonesia yang berbasis di Suriah. Bahrumsyah yang merupakan pemimpin kelompok militan Indonesia – Malaysia Katibah Nusantara yang dibentuk 2014 lalu, juga dianggap memiliki kuasa untuk memerintahkan eksekusi serangan di Indonesia.

Kemudian Abu Jandal. Media asing menamainya Abu Jandal al Yemeni al Indonesi atau Salim Mubarok Attamimi dikenal sebagai kepala rekrut militan di Indonesia. Ulama asal Malang itu pernah mengeluarkan pernyataan dalam sebuah video, yang mengancam akan berperang dengan militer Indonesia demi membentuk negara Islam.

Selain itu, jumlah anggota ISIS di Indonesia cukup banyak. Menurut pengamat teroris Al-Chaidar, jumlahnya mencapai 2 juta orang.

Masyarakat Indonesia yang toleran sesungguhnya bukan tempat yang baik jadi basis baru ISIS sebagaimana dikemukakan Menhan Ryamizard Ryacudu. Namun upaya itu tetap harus diwaspadai karena bisa saja dipaksakan. Ibarat kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Setelah terdesak di Raqqa Suriah dan ditumpas di Marawi Filiphina, maka Indonesia jadi pilihan.

Pelibatan anak-anak dan wanita dalam teror di tiga gereja, di Poltabes Surabaya dan Rumah Susun di Sidoardjo, dapat dibaca sebagai keseriusan ISIS masuk ke Indonesia. Pelibatan anak anak itu mengindikasikan ISIS akan mengerahkan seluruh kekuatan di Indonesia.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengemukakan, ratusan teroris dari sejumlah daerah masuk Jakarta pasca teror di Mako Brimob. Dari Jawa Barat diperkirakan 57 orang. Dari Jawa Tengah informasinya ada 106 orang. Kemudian dari Jawa Timur ada 23 orang, Madura 6 orang.  Para teoris yang masuk ke Jakarta tersebut berasal dari kelompok JAD di bawah kepemimpinan Aman Abdurrahman.

Mereka-mereka ini tidak tertutup kemungkinan dijadikan sebagai pasukan pemukul di garis depan untuk menciptakan kekacauan di Jakarta.

Dalam perspektif ini, janji DPR mengesahkan revisi UU Teroris pada bulan Mei 2018 ini juga, cukup melegakan. Sebab, beberapa klausul dalam revisi UU Teroris memberikan keleluasaan bagi polisi menangkap terduga teroris. Polisi sudah bisa melakukan penangkapan sebelum teroris melakukan aksi. Polisi tridak lagi sekadar mendeteksi  dan mendeteksi, tetapi cukup dengan memiliki dua alat bukti permulaan seperti merakit bom atau merencanakan aksi, polisi sudah bisa menciduk terduga teroris.

Pengesahan revisi UU Teroris ini diharapkan dapat menjadi amunisi baru bagi kepolisian untuk memburu seluruh teroris yang menurut sejumlah kalangan, kekuatannya sudah sangat menurun nyaris bangkrut setelah terdesak di Raqqa, Suriah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here