Sejarah Perbudakan di Situs Pertambangan Tua Dunia

0
201
Tambang tembaga tertua di Timna National Park yang diperkirakan sudah ada sejak 4500 Sebelum Masehi

Nusantara.news, Jakarta – Jutaan orang yang berkunjung ke Taman Nasional Timna Israel terkesiap memandang formasi bebatuannya. Siapa menyangka di balik pesona itu tersimpan sejarah peradaban manusia. Bagaimana kisahnya? Berikut tulisan perjalanan Sara Toth Stub berjudul “The Israeli Park with a Valuable Secret” yang dimuat di rubrik travel BBC, Jumat (20/4) kemarin.

Di gurun Negev, Israel, jalan samping mengarah ke lembah yang dikelilingi oleh tebing merah, ungu dan cokelat. Sekarang bagian dari Taman Nasional Timna – lembah ini terkenal dengan pemandangannya bergerigi yang diukir oleh angin dan air selama berabad-abad. Turis dan peminat geologi berdatangan ke tempat ini dan terpesona oleh bebatuan purba berbentuk jamur raksasa, pilar elegan, dan lengkungan yang halus.

Pertambangan Tua

Dalam pendakian di tengah hari itu Sara merasakan terik membakar tubuhnya. Dia tergoda oleh jalan setapak di dekat formasi batu karang yang legendaris itu – dengan karang yang dikenal sebagai Arches – Sara mendaki bukit kecil yang ditempuhnya dalam waktu 10 menit dan berdiri di atas dataran tinggi. Dari sana dia melihat lembah yang keras dengan tebing di atas dan ngarai di bawahnya.

Taman Nasional Timna di Israel terkenal dengan lanskap bergerigi dan formasi bebatuan

Pemandangannya sungguh menakjubkan, tutur Sara. Cerita lengkap tentang tempat ini – dan alasan mengapa orang-orang berdatangan di gurun gersang sejak zaman pra-sejarah – hanya dapat diungkap dengan menyusuri liuk bebatuan menuju ruang bawah tanah.

Taman Nasional Timna pernah menjadi satu di antara pusat produksi logam sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Di sini ribuan terowongan terlihat jelas bagaimana nenek moyang bangsa di Timur Tengah ini memanen tembaga yang melekat di batuan itu.

Bintik butir bijih tembaga hijau dan biru menghiasi jejak yang tertutup kerikil ketika Sara mendekati ranjau tertua di taman itu – digali sekitar 4500 SM. Pegangan tangan logam membantu pengunjung memandu beberapa meter menuruni lereng curam untuk memasuki areal pertambangan – sebuah Lorong sempit dengan langit-langit begitu rendah yang memaksa Sara merangkak untuk menghindari benturan di kepala.

Pancaran cahaya bersinar ke terowongan dari celah-celah bebatuan yang muncul karena erosi, memperlihatkan coretan vertikal di dinding yang ditinggalkan oleh alat-alat batu yang digunakan untuk melubangi perut bumi.

“Penambang bekerja dalam kondisi yang sangat keras di padang pasir, tempat tanpa air dan benar-benar tanpa apa pun,” singkap Dr. Erez Ben-Yosef, profesor arkeologi di Tel Aviv University yang juga Direktur Timna Valley Project – sebuah proyek penelitian interdisipliner tentang sejarah produksi tambang di kawasan ini.

Tambang ini – dan yang lainnya di kawasan itu – mengikuti urat-urat pirus tembaga horizontal yang melintas di tanah di selatan Laut Mati, Israel dan Yordania. Ribuan tahun yang lalu para penambang memahat biji tembaga dan membawanya keluar dari areal pertambangan. Tembaga yang dikumpulkan selanjutnya dipanaskan untuk diekstrak menjadi mengkilap sebelum dijadikan beberapa produk seperti manik-manik, leontin dan barang-barang dekoratif lainnya.

Sejarah Peradaban

Ini adalah contoh paling awal bagaimana manusia mendapatkan logam dari batu, kata Ben-Yosef, dan berkat iklim yang kering – Timna adalah salah satu areal pertambangan kuno terbaik yang diwariskan dunia. “Anda bisa melihat semuanya. Anda dapat menyentuh barang-barang yang tersisa di Timna dari warisan sejarah sekitar 3000 hingga 4000 tahun yang lalu,” tambahnya.

Guratan tulisan tangan dan tanda lain yang ditinggalkan oleh penambang kuno masih terlihat di dinding batu

Selain ranjau seperti ini, beberapa alat batu dan tumpukan batu tersisa dari proses peleburan, para penambang awal ini tidak meninggalkan banyak jejak. “Kami tahu sangat sedikit tentang penambangan pertama ini,” lanjut Ben-Yosef. “Kami tidak punya nama untuk mereka. Yang kami tahu mereka adalah orang lokal yang bekerja dengan peralatan batu yang sangat sederhana.”

Gua-gua dan poros di sepanjang Taman Nasional Timna mengungkap ribuan tahun sejarah penambangan. Bukti telah ditemuakan yang menghubungkan areal pertambangan ini dengan kerajaan terbaru era Mesir kuno – berkisar antara Abad ke-16 hingga ke-11 sebelum Masehi. Tembaga di sini digunakan oleh raja Mesir Ramses yang menggunakannya untuk senjata hingga beragam perhiasan.

Namun bukti lebih lanjut menunjukkan areal pertambangan di sini mencapai puncaknya beberapa ratus tahun kemudian. Resolusi tinggi sisa-sisa radiocarbon dan bahan organic lainnya yang tersisa di kamp-kamp kerja para penambang menunjukkan tambang aktif antara Abad ke-11 hingga Abad ke-9 SM. Tembaga yang dihasilkan dari pertambangan ini mirip dengan kepingan Alkitab Raja Solomo di Yerusalem.

Selama beberapa abad, ribuan ranjau dan terowongan digali di bawah apa yang sekarang disebut Taman Nasional Timna

Hingga kini para ahli percaya pekerjaan kasar yang melelahkan itu dilakukan oleh para budak. Namun temuan arkeologi terbaru selama beberapa tahun terakhir – termasuk ditemukannya kain-kain berkualitas tinggi yang diawetkan oleh iklim kering – menunjukkan para pekerja metal lebih tepat disebut pekerja ketimbang budak. Belum lagi ditemukannya tulang domba dan kambing dan sisa minyak zaitun menunjukkan pekerja mengkonsumsi makanan orang kaya yang biasanya tidak ditemukan di padang pasir.

Kala itu orang telah belajar bagaimana membentuk tembaga yang ditemukan di areal pertambangan Timna menjadi peralatan dan senjata serta bagaimana mencampurnya dengan timah untuk menciptakan perunggu – bahan yang lebih kuat. Bukti pengerjaan logam awal ini dipajang di museum-museum di seluruh dunia. Museum Eretz Israel di Tel Aviv memiliki koleksi artefak terbesar di Timna, termasuk pahat tembaga yang digunakan untuk menambang dan seekor ular perunggu yang ditemukan di sebuah kuil lokal.

“Ketika Anda melihat hal-hal yang mereka buat, maka Anda mengerti mengapa semua ini bekerja di tambang itu sepadan,” kata Ben-Yosef yang tidak setuju pekerja pertambangan di aeral itu disebut budak.

Areal pertambangan kuno itu dapat diakses selama jam buka Taman tanpa panduan atau pengaturan yang ketat. Dan ketika udara mulai dingin Sara merasa lega untuk melanjutkan perjalanannya. Mendaki tangga kembali ke permukaan gurun.

Sara pun melanjutkan perjalanan mengintip poros tambang yang berumur 3000 tahun – melihat sekilas ceruk-ceruk yang dicetak oleh para penambang ketika mereka memanjat tebing untuk keluar dari areal pertambangan. Sedikit menjauh di sepanjang gurun pasir yang kering – pintu masuk ke pulau ranjau tampak moncong bergaris-garis pirus di sepanjang dinding berbatu.

Sarah memandang sekeliling, tampak pegunungan berwarna-warni dan saat naik beberapa lantai ke atas seolah menggapai matahari padang pasir yang berapi-api. “Lanskapnya mempesona, setidaknya, tapi tidak semenarik cerita yang ditinggalkan oleh para penambang sekitar 3000 tahun yang lalu,” tulisnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here