Selama Ada Iran, Suriah Tak Akan Damai, Kata Israel

0
200
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu di Moskow, Rusia, 9 Maret 2017. (Foto: Reuters)

Nusantara.news, Jerusalem – Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Moskow, Rusia, Kamis (9/3). PM Israel Netanyahu mengatakan kepada Putin, Suriah tidak akan pernah bisa damai selama ada Iran di sana.

“Kami membahas panjang lebar soal Iran, tujuan dan niat di Suriah, dan saya menjelaskan bahwa tidak mungkin ada kesepakatan damai di Suriah ketika Iran ada di sana dan menyatakan niatnya untuk menghancurkan Israel,” kata Netanyahu setelah pertemuan, sebagaimana dilansir Reuters (10/3).

Netanyahu menunjukkan dukungannya pada rezim Bashar al-Assad dan selama ini mendorong pendukung setia Iran yang juga musuh Israel diperangi oleh Assad.

“(Iran) dan pasukannya mempersenjatai diri melawan Israel termasuk di wilayah Suriah dan  pada kenyataannya, mendapat pijakan untuk terus memerangi Israel,” katanya Netanyahu.

“Tidak bisa ada perdamaian ketika mereka terus berperang dan karena itu mereka (Iran) harus ‘diusir’,” lanjut PM Israel itu.

Oleh Israel, Rusia yang juga sekutu Assad dipandang sebagai pemegang keseimbangan kekuasaan dalam mencapai kesepakatan damai di Suriah. Di Jenewa pekan lalu, dipimpin oleh PBB Suriah melakukan pembicaraan damai yang pertama kali tahun ini, namun berakhir tanpa solusi.

Para pemimpin Israel menuding Teheran terus meningkatkan pengaruhnya di Suriah selama konflik yang berlangsung enam tahun belakangan, baik melalui pasukan Pengawal Revolusi ataupun Syiah, terutama Hizbullah.

Tahun lalu, Avi Dichter, ketua urusan luar negeri dan komite pertahanan Israel mengatakan, Iran beberapa kali mencoba memindahkan pasukan ke Golan Heights di Suriah, di samping wilayah yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967.

Israel khawatirkan Hizbullah melakukan operasi darat di Golan Heights, dimana Tel Aviv menganggapnya sebagai ancaman keamanan yang besar.

Tudingan Israel ini serius, buktinya dalam beberapa pekan terakhir menurut The Times of Israel tanggal 8 Januari lalu, Israel melakukan berbagai serangan udara terhadap sel Hizbullah di Golan Heights.

Enam militan Hizbullah dan seorang brigadir dari Garda Revolusi Iran tewas, kata laporan itu. Iran dikatakan telah membantu Hizbullah mengembangkan kekuatan operasional mereka di daerah. Israel juga dilaporkan telah dilakukan serangan udara terhadap konvoi senjata menuju Lebanon. Sejak itu, ada beberapa bentrokan antara pasukan Israel dan Hizbullah.

Menurut Netanyahu Israel telah melakukan puluhan serangan untuk mencegah penyelundupan senjata kepada kelompok Lebanon yang didukung Hizbullah Iran melalui Suriah.

Dua tahun lalu, Israel dan Rusia sepakat mengkoordinasikan tindakan militer atas Suriah untuk menghindari perdagangan senjata api.

Suriah adalah kunci

Menurut petinggi penasehat keamanan Chagai Tzuriel, situasi di Suriah dan konsekuensinya adalah sangat penting untuk Israel.

“Suriah adalah wilayah kunci, karena merupakan mikrokosmos segala sesuatu dari kekuatan dunia seperti Rusia dan AS, dan bagi aktor regional seperti Iran dan Turki. Selain itu, ada kelompok-kelompok seteru di dalam negeri sendiri, Rezim Assad, oposisi, Kurdi dan Negara Islam,” kata penasehat keamanan Israel Chagai Tzuriel sebagaimana dikutip DW (9/3).

Menurutnya, apa yang terjadi di Suriah akan berpengaruh besar pada seluruh wilayah. Kehadiran Iran dan Hizbullah di Suriah akan menjadi faktor destabilisasi yang konstan di wilayah ini, dan hal itu ingin dicegah Israel.

Jika Iran dan Hizbullah eksis di Suriah, Israel akan memiliki dua musuh terbesar langsung di wilayah perbatasan. Iran mungkin telah terlibat dalam sejumlah serangan verbal terhadap Israel, tapi Israel dan Hizbullah memiliki sejarah konflik bersenjata, terutama dalam perang di Lebanon tahun 2006 dengan korban jiwa sekitar 1.100 orang dari Lebanon dan Israel kehilangan sekitar 160 orang

Wartawan dan analis Timur Tengah Khaled Yacoub Oweis mengatakan, di Moskow, Netanyahu  mencoba menemukan cara untuk membendung Syiah. Iran dalam beberapa tahun terakhir ini memang telah berhasil meningkatkan posisinya sebagai kekuatan regional, namun Iran berutang soal pembangunan militer dan keuangan terhadap Rusia.

“Itulah sebabnya mengapa Iran sangat tergantung dengan Rusia,” kata Oweis.

Beberapa hari lalu, Iran pamer kekuatan militer dengan melakukan uji coba rudal yang dibeli dari Rusia. Rudal berjenis S-300 itu meupakan hasil kerja sama militer antara Iran dan Rusia. Meski diakui bahwa rudal Rusia itu adalah senjata mematikan, namun Iran mengklaim memiliki rudal yang lebih canggih dari itu yang dijuluki Bavar 373, sistem buatan dalam negeri tersebut akan segera diuji (Baca:Iran Uji Rudal Buatan Rusia, Ledek Amerika?)

Selain dengan Netanyahu, Putin juga dijadwalkan bertemu Erdogan dan diperkirakan juga akan membahas konflik Suriah, selain keja sama bilateral kedua negara terkait pembangunan pipa gas Streaming Turki dan Listrik Tenaga Nuklir Akkuyu, kata pihak Kremlin. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here