Selama Berkuasa Soeharto Hindari Misteri Mitos Kediri

2
1917
Pak Harto dikenal sebagai pemimpin sekaligus spiritualis Jawa yang sangat paham dengan tiap-tiap kultur masyarakatnya.

Nusantara.news, Kediri – Mantan Presiden Soeharto tidak pernah menginjakkan kaki ke Kediri. Padahal beliau telah berkuasa selama 32 tahun. Kediri tampaknya bukan kota yang “remeh” bagi Soeharto. Sebagai pemimpin sekaligus spiritualis Jawa, Soeharto tentu sangat paham dengan tiap-tiap kultur masyarakatnya.

Dan wilayah Kediri adalah pantangan bagi beliau untuk dikunjungi. Demikian mitosnya. Soeharto percaya, jika seorang presiden datang ke Kediri, maka tahtanya bakal lengser.

Mitos ini memang sudah melekat sejak lama di bumi Nusantara. Mitos didefinisikan sebagai cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah-kisah lama berisi penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya. Bagi sebagian masyarakat, terutama para penuturnya, mitos ini dianggap benar-benar terjadi.

Setidaknya ada dua wilayah kabupaten yang menjadi mitos kesakralan masyarakat Jawa. Selain Kediri, ada Bojonegoro yang menjadi pantangan bagi presiden RI untuk dikunjungi.

Entah kebetulan atau tidak, tapi beberapa presiden yang berkunjung ke Kediri, selalu lengser. Presiden Soekarno, mendadak lengser setelah tak lama berkunjung ke kota tahu tersebut.

Yang masih lekat dalam ingatan, tiga hari usai melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lengser dari jabatannya. Begitu juga dengan Presiden BJ Habibie yang lengser setelah tak lebih dari tiga bulan datang ke Kediri.

Dalam riwayat Babat Kadhiri, konon terdapat kutukan pada kerajaan Kediri tatkala terlibat dalam peperangan dengan musuh. Bunyinya, “Jika pasukan Kediri menyerang musuh di daerah lawan lebih dulu akan selalu memenangkan pertempuran, akan tetapi sebaliknya jika musuh langsung menyerang ke pusat kerajaan Kediri lebih dulu maka musuh itu akan selalu berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang.”

Barangkali karena kutukan itulah konon para presiden RI selalu menghindari untuk singgah ke kota Kediri dalam setiap perjalanan di wilayah Jawa Timur. Ada yang menafsirkan, tatkala presiden berani singgah ke Kediri, maka posisi mereka bakal mudah diserang oleh musuh atau lawan politiknya.

Namun, kisah tutur masyarakat setempat mengaitkan kutukan itu dengan tempat, misalnya Simpang Lima Gumul di Kediri, yang dipercaya sebagai pusat Kerajaan Kediri. Sementara kisah lain mengaitkan mitos dengan kutukan Sungai Brantas yang menjadi tapal batas Kerajaan Kediri, yakni bila ada raja, kini disebut presiden, masuk ke Kediri melewati Sungai Berantas maka akan lengser.

Sementara versi lain menyebutkan, kewingitan Kediri disebabkan kutukan Kartikea Singha suami Ratu Shima yang juga penguasa Kerajaan Kalingga (pra Mataram Hindu abad ke-6) di Keling Kepung Kabupaten Kediri.

“Kutukannya cukup jelas, siapa kepala negara yang tidak suci benar masuk wilayah Kota Kediri maka dia akan jatuh,” jelas Kiai Ngabehi Agus Sunyoto, budayawan penulis buku Atlas Walisongo.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Mas Agus itu, pada masa pemerintahan Kartikea Singha, sebagai kepala negara dia menyusun kitab tentang hukum pidana pertama di Nusantara yang diberi nama Kalingga Darmasastra yang terdiri dari 119 pasal.

“Ini sangat tergantung kepada keyakinan sebenarnya untuk masuk wilayah Daha (Kota Kediri), namun sebagian besar tidak berani masuk wilayah Kota Kediri,” tambahnya.

Ditanya lokasi Kerajaan Kalingga yang sebenarnya, sebab ada yang menyebut Kalingga berada di wilayah Jepara Jawa Tengah, Agus menjelaskan bahwa Ratu Shima memang berasal dari Jepara atau yang dikenal dengan nama Kalingga Utara.

Sedangkan suaminya Kartikea Singha berasal dari Keling Kepung Kediri atau yang dikenal dengan Kalingga Selatan.

Dalam sejarah Nusantara di daerah Keling Kepung ini pernah kembali berjaya pada periode akhir Majapahit, tatkala kerajaan itu mengalami disintegrasi, rupanya penguasa Kediri bangkit kembali dan pada tahun 1474 berhasil menumbangkan hegemoni majapahit.

Jawa dalam keadaan pecah belah itu kekuasaannya sampai tahun 1527, bergeser kembali ke Kediri (Daha) dengan pusat kekuasaan di Keling (Kepung-Kediri) di bawah Dinasti Girindrawardhana. Dalam Prasasti Jiu disebutkan bahwa pada tahun 1486 M, nama kerajaannya: Wilwatikta Daha Jenggala Kadiri.

Dan kerajaan ini pun berakhir akibat perluasan Islam, oleh intervensi Giri yang menganggap dinasti yang berkuasa bukanlah kelanjutan dinasti yang memerintah Majapahit terdahulu.

Dari catatan sejarah bangsa Indonesia, di saat kita sudah merdeka dari penjajahan pada tahun 1945, selain Soekarno, Habibie dan Gus Dur yang berani masuk wilayah Kota Kediri, lainnya rata-rata hanya diwakilkan kepada wakil presidennya.

Informasi intelejen TNI maupun Polri juga memberikan keterangan yang sama yakni rata-rata Presiden RI tidak berani masuk wilayah Kota Kediri.

“Kalaupun berani mereka masuk wilayah pinggiran Kediri tetapi tidak berani masuk jantung pemerintahan. Rata-rata selalu was-was mereka,” kata seorang sumber dari intel TNI dan Polri.

Ini Candi Jago, yang asal muasalnya berdiri pada 1268, Wisnuwardana meninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Budhha Armogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa

Ki Tuwu salah seorang pengamat sejarah Kota Kediri yang sekaligus seorang paranormal, menyatakan bahwa Kediri ini adalah kota wingit dan semua pihak mengakuinya.

“Sabdo-nya Kartikea Singha itu masih berlaku di Kediri. Begitu pun jika ada pejabat di Kota Kediri yang berani membawa harta dari Kota Kediri dengan cara yang tidak halal maka dia akan keluar dari Kota Kediri dengan tidak punya apa-apa,” ungkapnya.

Dari tiga presiden yang tersebut di atas, setidaknya hanya Presiden Soesilo Bambang yudhoyono (SBY) yang dianggap paling berani melawan pantangan. SBY tentu saja pernah mendengar cerita itu. Buktinya, sebelum menemui korban letusan Gunung Kelud pada 2007, dia mendapat banyak teguran dari orang-orang terdekatnya.

“Kemarin saya mau ke Kediri, sms masuk luar biasa, Pak SBY jangan ke Kediri nanti Anda jatuh,” demikian curhat Presiden SBY waktu itu.

Tidak hanya lewat pesan pendek, larangan ke Kediri juga disampaikan langsung, lewat telepon dan surat. Intinya, meminta SBY tidak berkunjung ke Kediri. Mitos tersebut tidak mengubah niatnya datang melihat langsung pengungsi Gunung Kelud.

“Tidak mungkin saya berhipotesa tentang kekuasaan sementara rakyat saya di Blitar dan Kediri mengalami ancaman letusan Gunung Kelud. Saya harus datang dibandingkan risiko yang harus didapat, kalau yang dimitoskan itu benar terjadi,” tutur SBY.

Nyatanya, SBY pun dibuat keder dengan kewingitan Kediri. Beralasan untuk menghormati mitos, pada erupsi Gunung Kelud tahun 2007 itu, Presiden SBY yang berangkat dari Surabaya memilih memutar lewat Blitar untuk menuju ke lokasi pengungsian di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Tujuannya agar tidak menyeberangi Kali Brantas.

SBY sebenarnya menyadari tidak ada pemimpin yang langgeng berkuasa. Karena itu sebelum bertolak, dia sholat terlebih dahulu sebagai penolak mitos tersebut. Dia juga berpendapat dalam menjalankan pemerintahan harus berpedoman pada sikap yang rasional. Terbukti, trik SBY dengan memilih “jalur memutar” tak mengalami satu hal apapun setelah kunjungan itu. Bahkan dia kembali menjadi Presiden RI untuk kali kedua periode 2009-2014.

Dewi Prajnaparamita – Arca perwujudan Ken Dedes, istri Raja Ken Arok.

Apakah SBY sakti? Tidak juga. Dia dinilai sebagian pihak mahir dalam bermain “siasat”. Kesaktian yang dimiliki SBY adalah nalar dan akal. Barangkali, akal itulah wujud kesaktian Presiden SBY dalam melawan mitos. Dengan bermain siasat, presiden kelima RI ini mampu mengalahkan ‘kutukan’ yang berucap bahwa pemimpin yang menyeberangi sungai Brantas akan jatuh dari kekuasaannya.

Ya, bila di tahun 2007 siasat SBY menghindari sungai Brantas dengan memutar lewat Blitar. Untuk kali kedua, mantan Kaster ABRI tahun 1999 tersebut memiliki cara lain yang lebih berani, yaitu menyeberang aliran kali Brantas.

Kabag Media dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Jawa Timur Anom Surahno, menyampaikan dalam perjalanannya menuju posko pengungsi korban letusan Gunung Kelud di Posko Badan SAR Nasional, Wates Kediri, rombongan Presiden SBY kala itu langsung meluncur dari Madiun menuju Kediri melalui jalan provinsi Kertosono, Nganjuk.

“Rombongan lewat jalur umum. Dari Madiun menuju Kediri lewat Kertosono,” ungkapnya.

Keputusan rombongan presiden menyeberang Kali Brantas ini sempat menimbulkan kekhawatiran banyak pihak yang percaya terhadap mitos. Namun nalar kembali menjadi pemenang. SBY diyakini selamat tidak lengser dari tahta sebelum massa kepemimpinannya habis sebab aliran kali Brantas yang diseberanginya berada di luar wilayah Kediri. Presiden SBY pun tiba di posko pengungsi kedua yang dikunjunginya di Kediri Jawa Timur dalam keadaan selamat, segar bugar dan tidak lengser hingga masa jabatannya berakhir.

Indonesia memang negeri yang kaya akan budaya dan sejarah, termasuk juga berbagai mitos yang mungkin dirasa tidak masuk akal di era globalisasi seperti sekarang ini. Salah satunya adalah terkait dengan beberapa wilayah yang ‘haram’ untuk dikunjungi oleh para pemimpin.

Pak Harto bahkan sudah mewanti-wanti “penerusnya” untuk tidak menginjakkan kakinya ke wilayah yang haram untuk dikunjungi para pemimpin. Namun mitos itu berhasil dipatahkan SBY, tentunya dengan menggunakan siasat. Lalu bagaimana dengan presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi)? Tercatat sejak menjabat presiden, Jokowi belum pernah melakukan kunjungan kerja resmi ke Kediri. Beranikah Jokowi melakukan keberanian seperti yang ditunjukkan pendahulunya? Patut disimak.[]

 

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here