Selamat Datang Dewan Ekonomi Masjid Indonesia

0
887
Ustad Valentino Dinsi saat menjelaskan konsep Dewan Ekonomi Masjid Indonesia (DEMI)

Nusantara.news, Jakarta – Sebagai hadiah tambahan dari gerakan 212, pekan lalu telah hadir Dewan Ekonomi Masjid Indonesia (DEMI). DEMI hadir dengan tekad memfungsikan masjid di seluruh Indonesia sebagai episentrum gerakan ekonomi ummat Islam.

Menurut Valentino Dinsi, Ketua Umum DEMI, kehadiran DEMI semata-mata sebagai kelanjutan dari gerakan 212. Selain telah melahirkan Koperasi Syariah 212 yang melahirkan banyak 212Mart, juga Kita Mart, spirit lanjutan gerakan 212 juga melahirkan DEMI.

“Kami baru hadir seminggu, tekad kami ingin menjadikan masjid sebagai episentrum gerakan ekonomi umat. Seperti sering dinasihati oleh Kang Eep Saefulloh Fatah, bahwa energi kerumunan (gerakan 212) harus segera diubah menjadi energi kinetik. Salah satunya menghimpun energi umat Islam menjadi gerakan ekonomi nyata,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Selain Valentino Dinsi sebagai Ketua Umum DEMI, duduk sebagai Sekretaris Jenderal Haekal Hasan, dan Wakil Sekretaris Jenderal Ridwan Mukti. DEMI berbeda dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang dipimpin Jusuf Kalla. Kalau DMI lebih fokus pada manajemen masjid, maka DEMI fokus pada upaya menggerakkan ekonomi masjid.

Valentino mengungkapkan sekarang ini ada ratusan ribu masjid menunggu untuk diberdayakan ekonominya. Karena itu DEMI sedang menyusun kepengurusan di tingkat pusat dan merekrut kepengurusan untuk tingkat wilayah, hingga daerah.

DEMI akan membantu menghubungkan masjid-masjid di seluruh Indonesia dengan akses mermodalan dan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) lokal dan nasional. DEMI bekerjasama dengan Relawan Keuangan Masjid, Dompet Duafa, Rumah Zakat, PKPU, BAZNAS, IZZI dan lembaga ZISWAF lainnya. Lembaga ZISWAF itu akan membantu pengelolaan keuangan masjid dan ZISWAF masjid sehingga lebih transparan dan profesional.

Untuk tetap menjaga spirit 212 serta menjaga spirit berjamaah di kalangan umat Islam, DEMI bertekad menciptakan jaringan 50 juta pengusaha berbasis masjid. DEMI akan membantu bagaimana mengetahui potensi bisnis dan peluang usaha yang dapat di jalankan di masjid serta bagaimana menumbuhkan dan membesarkan usaha baik milik jama’ah maupun usaha milik masjid.

Masjid-masjid akan mendapat pembinaan dari DEMI sehingga masjid dapat mengembangkan unit ekonomi di masjid. Sehingga DEMI mengusahakan menjadikan masjid mandiri dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar masjid. Masjid-masjid akan berfungsi sebagaimana fungsi masjid di zaman Rasulullah SAW.

“Masjid Anda akan terhubung dengan ratusan ribu masjid lainnya di seluruh Indonesia sehingga terjadi sinergi yang kuat,” jelasnya.

DEMI akan melakukan riset tentang pembangunan dan pengembangan ekonomi umat berbasis masjid.

Ratusan ribu masjid di tanah air akan mendapatkan banyak pelatihan seperti one masjid one journalist, digital marketing untuk remaja masjid, cantik  dan trampil, islamic art & culture, dan masih banyak lagi program pelatihan lainnya dari relawan dan pakar yang ada.

Selain dapat mengakses potensi keuangan umat di lembaga ZISWAF yang ada, DEMI juga akan melatih pengurus masjid menghimpun dana (fund rising) bagi kegiatan dan pembangunan masjid di seluruh Indonesia.

Masjid-masjid juga akan terhubung dengan ribuan masjid lainnya sehingga memiliki jaringan dakwah dan bisnis baik skala nasional dan internasional

Lantas bagaimana cara bergabung dengan DEMI? Para pengurus masjid dapat mengisi formulir yang tersedia di website www.mtw.or.id. Masing-masing masjid dapat membentuk kepengurusan DEMI di level masjid. Mulai dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, Divisi Pengembangan Usaha, Divisi Pendidikan dan Pelatihan, serta Humas.

Dengan demikian gerak masjid lebih melangkah dalam koridor gerakan ekonomi yang massif dan berjamaah.

Tantangan ke depan

Tak bisa dipungkiri, sebagai gerakan umat yang didasari pada semangat berjamaah, tantangan utamanya adalah godaan untuk berpecah belah. Soliditas itu memang paling mahal untuk setiap gerakan umat yang ada.

Tantangan lainnya adalah, manajemen keuangan masjid. Terutama pilihan-pilihan prioritas apa yang harus didahulukan. Apakah akan menggarap toko ritel lebih dahulu, toko biasa, sembako, atau unit bisnis lain yang menjadi alternatif pilihan yang ada.

Tantangan yang tak kalah sering muncul adalah, bentuk badan hukum apa yang ideal untuk memfasilitasi gerakan ekonomi yang ada. Apakah PT, koperasi, atau yayasan. Tantangan terberat terutama membuat badan hukum sebagai basis legal unit bisnis yang akan digarap.

Karena itu perlu ditentukan model bisnis ideal yang fokus diperkuat di masjid-masjid. Seperti toko ritel modern berbasis koperasi, masjid yang sudah berhasil menggarap toko ritel modern dapat menularkan cerita suksesnya kepada masjid-masjid lain yang baru akan memulai, dan menyemangati yang belum memulai.

Terutama dalam hal membimbing bagaimana cara mengumpulkan dana, membangun toko modern, mengurus perizinan koperasi, sampai bagaimana mengoperasikan toko. Tapi yang lebih penting toko modern yang sudah ada dapat bersaing dengan toko-toko modern konglomerasi yang sudah ada.

Di sinilah pentingnya peran DEMI, menjahit berbagai potensi umat dan menularkannya lewat mediasi masjid-masjid yang ada.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here