‘Selamat Datang IMF’

0
183
Managing Director IMF, Christine Lagarde bertandang ke Indonesia menjelang Annual Meeting IMF-World Bank di Bali, memberi isyarat kuat bahwa Indonesia akan membuka keran utang baru.

Nusantara.news, Jakarta – Keledai tak akan pernah jatuh pada lubang yang sama, pepatah itu diyakini kuat oleh orang-orang tua kita dahulu. Tapi  Indonesia yang pernah terjerembab krisis dan diampu oleh Dana Moneter Internasional (IMF) sehingga krisisnya makin parah, akan kah diulang kembali?

Hari ini, Managing Director IMF Christine Lagarde dijamu besar-besaran oleh Presiden Jokowi dan kabinet. Disambut meriah dan hangat di Istana Negara. Bahkan Presiden Jokowi dengan bangga mengajak Lagarde ke Rumah Sakit Pertamina, blusukan ke Tanah Abang untuk melihat produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKM).

Secara firmil Presiden memang meminta masukan kepada Managing Director IMF itu terkait upaya pemberdayaan para pelaku UMKM. Mungkin juga ada sedikit koordinasi mengenai kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah Annual Meeting IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018.

Masih segar dalam ingatan, kalau kata IMF dipadankan dengan kata lain, yang paling pantas adalah kata ‘utang’. Seperti iklan komersial ‘ingat beras ingat Cosmos’, akan kah kunjungan Lagarde ke Indonesia berbuah utang?

Puja-puji IMF

Masih segar dalam ingatan, pada 1998, ketika Managing Director IMF Michale Camdessus memuji-muji ekonomi Indonesia di  bawah kepemimpinan Soeharto. Ujung-ujungnya, Indonesia harus berutang kepada IMF. Dengan gaya tangan bersedakep, sementara Presiden Soeharto sibuk menandatangani letter of intent, maka masuk lah Indonesia dalam perangkap utang yang maha besar

Tentu saja Lagarde berusaha meniru Camdessus dengan memuji-muji kekuatan ekonomi Indonesia. Ia juga memuji sistem jaminan kesehatan Indonesia, tak kurang Lagarde juga memuji industri tekstil dan kekuatan UMKM Indonesia.

Sebelumnya IMF juga memuji Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedelapan di dunia, di mana menguasai lebih dari setengah angkatan kerja di Asean. Dengan penciptaan peluang investasi dan perdagangan yang lebih besar, Indonesia diyakini akan mendapatkan keuntungan besar untuk bisa tumbuh paling cepat di dunia.

Ketika negara-negara lain di kawasan menghadapi permasalahan tenaga kerja yang semakin menua, Lagarde menilai Indonesia justru kebalikannya. Jumlah tenaga muda produktif di Indonesia cukup melimpah, di mana pada 2030 diperkirakan jumlahnya  mencapai 180 juta orang atau 70% dari total populasi penduduk.

Lagarde bahkan sebelumnya menekankan lima resep penting yang perlu dilakukan negara-negara di kawasan Asia dalam menghadapi gejolak ekonomi global, termasuk Indonesia.

Kelima resep yang ditawarkan Bos IMF ini adalah memperkuat ketahanan anggaran pemerintah melalui kebijakan fiskal yang matang, mengendalikan pertumbuhan kredit agar tidak berlebihan, mengupayakan nilai tukar bertindak sebagai penyerap guncangan (shock absorber), menjaga kecukupan cadangan devisa, serta membangun pengawasan dan pengaturan sektor keuangan.

Khusus buat Indonesia, Lagarde memberi resep  untuk memperkuat ketahanan anggaran pemerintah melalui kebijakan fiskal yang matang. Lalu mengendalikan pertumbuhan kredit agar tidak berlebihan. Pemerintah juga harus menjaga kecukupan cadangan devisa, serta membangun pengawasan dan pengaturan sektor keuangan.

Dia yakin Indonesia lebih siap dari sebelumnya untuk menghadapi badai ekonomi global saat ini. “Indonesia memiliki alat yang tepat untuk bereaksi terhadap gejolak ekonomi global, karena posisi keuangan negara yang memadai dan defisit yang relatif kecil,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Pujian dan resep itu berdasarkan pengalaman bukan tanpa maksud.

Oleh karenanya para wartawan memburu kepada Presiden, apakah ujung dari kunjungan Lagarde ini adalah Indonesia harus berutang kembali pada IMF?

“Belum sampai ke sana (kerja sama),” ujar Jokowi di RSPP, Jakarta Selatan. Lagarde juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada kesepakatan soal bentuk kerja sama IMF dan Indonesia.

Bahkan pada 2015, saat kunjungan pertama Lagarde ke Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan pemerintah Republik Indonesia tak bakal meminta pinjaman uang kepada IMF.

“Kami tidak minta (utang), tapi membahas seputar kondisi ekonomi dunia secara lebih luas. Sekarang ekonomi global sedang susah,” kata Kalla.

Jokowi dan Lagarde, ujar Kalla, akan fokus bicara soal melemahnya perekonomian dunia dan kelesuan sektor ekonomi. “IMF hendak melihat kondisi ekonomi Asia, termasuk Indonesia,” kata Kalla.

Kalla menegaskan, Indonesia saat ini merupakan negara yang bebas dari jerat utang IMF. Utang Indonesia pada IMF pada krisis moneter 1998 sebesar US$25 miliar telah lunas tahun 2006.

Sekadar reminder, sejak Indonesia menjadi pasien IMF pada 1998, Indonesia masuk dalam negara yang krisisnya paling lama dengan biaya paling dalam. Ekonom Anwar Nasution punya istilah yang lucu buat IMF, ”Kerjanya seperti dukun. Apapun penyakitnya disembur air putih.”

Yang dimaksud Anwar, negara manapun yang menjadi pasien IMF resepnya hanya satu, tight money policy (TMP). Mirip-mirip dukun di kampung, apapun penyakit pasiennya, obatnya disembur air putih.

Akhir kebijakan anti siklikal

Walaupun Presiden dan Wakil Presiden dengan bahasa verbal yang tegas menampik dugaan bahwa  Indonesia akan berutang lagi kepada IMF, namun demikian, kita hanya bisa menangkap tanda-tanda zaman bahwa pada akhirnya kita akan pinjam pada IMF.

Pertama, program infrasrtuktur Presiden Jokowi senilai Rp5.500 triliun sepertinya tak lagi mampu dibiayai Anggara Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), swasta, BUMN, bahkan upaya mengundang investor asing tidak maksimal. Maka salah satu cara mempermudah memperlancar proyek infrastruktur adalah lewat pinjaman China atau IMF.

Kehadiran Lagarde kali ini seperti memberi isyarat kuat ke arah itu.

Kedua, kebijakan yang ditempuh IMF saat membantu Indonesia pada 1998 adalah model kebijakan siklikal. Suku bunga dinaikkan (tight money policy–TMP), bank-bank direstrukturisasi, diambil alih danditutup, dan aturan diperketat.

Semasa Muliaman D. Hadad menjadi Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berusaha membalik dengan kebijakan anti siklikal. Bank-bank sakit dengan kredit macet dibiarkan dulu dan peraturan kredit di-off-kan sambil menunggu situasi membaik baru dihidupkan kembali.

Dengan berhentinya peran Muliaman, maka selamat datang kebijakan siklikal IMF.

Ketiga, selain telah memiliki kaki yang kokoh yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang dianggap sebagai anak kandung Neo Liberalisme, IMF juga bakal punya tambahan kaki lainnya yang kuat.

Presiden Jokowi telah menunjuk calon tunggal Gubernur Bank Indonesia 2019-2023 yakni Perry Warjiyo yang dikenal sangat pro pasar, pro IMF. Sehingga kaki-kaki IMF begitu kokoh kembali di Indonesia lewat personal maupun institusi resmi. Dengan demikian, ketika pada watkunya, Indonesia harus membuka keran utang kembali, akan mulus jalannya.

Inilah suasana kebatinan Indonesia hari ini, dimana rakyat sangat khawatir kita kembali menjadi pasien IMF, tapi pemerintah sibuk menjadi tuang rumah Annual Meeting IMF-World Bank. Pertemuan Presiden Jokowi dengan mantan Menteir Keuangan Prancis Christine Lagarde itu memang belum sampai pada kesimpulan Indonesia berutang kembali.

Tapi aromanya begitu kuat dan baunya begitu menyengat bahwa kita kembali berutang kepada IMF. Jika demikian, ‘Selamat datang IMF!’[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here