Selamat Jalan Ahmad Taufik Al-Jufri, Sang Wartawan Pejuang

3
718
Viral Almarhum Ahmad Taufik

Nusantara.news, Jakarta – Sayyed Ahmad Taufik Al-Jufri, wartawan pejuang yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk hak dan martabat kemanusiaan itu telah tiada. Dia wafat di RS Medistra, Jakarta, Kamis (23/3) sekitar pukul 19.30 WIB setelah satu bulan penuh berjuang melawan kanker.

Sebelumnya, Ahmad Taufik, begitu nama singkatnya yang menyebut dirinya dengan panggilan ATe, sudah sekitar satu bulan dirawat di RS Dharmais. Awalnya, terang Rinjani, aktivis 1980-an, ATe didiagnosa dokter terkena kanker radang paru-paru.

Foto Angela Agnes Josephine Sumanti.  Almarhum dijenguk kerabatnya saat dirawat di RS Dharmais

Almarhum sempat dibawa pulang ke rumah orang tuanya di Jl Pala I No79 B, Tanahabang, Jakarta Pusat. “Pagi tadi kondisinya memburuk dan dibawa ke RS Medistra. Saat dicek dokter paru-parunya berair dan ada pengerasan di hati. Diduga almarhum bukan terkena kanker paru-paru, melainkan kanker hati (sirosis),” jelas Ricky Rahmadi, politisi Partai Golkar yang juga yuniornya di Universitas Islam Bandung (Unisba).

Begitu berita kematiannya menyebar, sejumlah aktivis dan jurnalis langsung mendatangi rumah duka. Tercatat antara lain Ketua Majelis Demokrasi ProDEM Bambang Gembos dan istrinya Nia Syarifuddin yang juga aktivis kemanusiaan, Ricky Rahmadi, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Ferry Juliantono, Ging Ginanjar dan puluhan aktivis lainnya.

Foto Guntur Gatot Bimo.

Alm. Ahmad Taufik (duduk paling kanan) dalam acara Car Free Day Anti Korupsi di Jakarta, Februari 2015

Hingga tengah malam karangan bunga terus mengalir ke rumah duka yang tidak jauh dari Masjid dan lapangan futsal. Sebagian badan jalan di Jl KH Mansyur sudah dipenuhi parkiran kendaraan, baik dari kerabat, jurnalis, politisi maupun aktivis. Almarhum akan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Karet Bivak pada Jumat (24/3) ini.

“Almarhum senior saya di Universitas Islam Bandung. Dia angkatan 1984 saya 1986,” kenang politisi Partai Golkar Ricky Rahmadi yang mengaku pernah sekitar dua tahun tinggal satu kos-kosan di Bandung.

Kebiasaan hidup almarhum yang tidak pernah dia lupakan, lanjut Ricky, adalah tidur beralaskan semen. “Kebiasaan itu sudah dijalaninya bertahun-tahun, sudah itu pagi-pagi belum sarapan langsung ngopi. Kalau ada keluhan paling minyak angin cap kampak yang dioleskan ke lehernya,” ujarnya.

Sebagai jurnalis ATe yang juga satu diantara pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 7 Agustus 1994 di Wisma Tempo, Sirnagalih, Bogor, dikenal keras dalam membela prinsip. Di organisasi yang didirikannya itu ATe menjabat Ketua Presidium AJI dan Tosca Santoso Sekjen periode 1994-1995. Kini AJI memiliki cabang di sejumlah kota besar Indonesia.

Tahun 1994, setelah Majalah Tempo tempatnya bekerja dibredel pada 21 Juni 1994, almarhum ditangkap dengan tuduhan menyebarkan kebencian lewat media alternatif yang dikelolanya. Dia sempat menjalani hukuman badan sekitar 1,5 tahun.

Foto Tri Agus Susanto Siswowiharjo.

Almarhum saat dipenjara di LP Cirebon karena perjuangannya untuk kebebasan pers

Bukan itu saja, almarhum sempat berurusan dengan orang kuat di Republik ini terkait pemberitaannya tentang kebakaran pasar Tanah Abang. Namun almarhum tidak menunjukkan rasa takut. “Taufik memang nggak ada takut-takutnya,” sebut Ferry Juliantono yang juga sesama aktivis 1980-an Bandung.

Dalam catatan sebuah blog, Ahmad Taufik,SH lahir di Jakarta, 12 Juli 1965. Sejak kecil dia tinggal di Jl. Kebon Pala I/79 B, Tanahabang, Jakarta Pusat.  Di rumah ini ATe menghabiskan masa pendidikannya, sejak SDN Kebonkacang, SMPN 35 Gambir dan SMAN 24 Senayan, Jakarta Selatan.

Setelah lulus SMA Almarhum meneruskan kuliah di Fakultas Hukum Unisba. Selain di Unisba, almarhum juga kuliah di Jurusan Bahasa Arab FPBS IKIP Bandung. Selama menjadi mahasiswa, almarhum aktif membela hak-hak rakyat dalam konflik agraria Di Badega, Kabupaten Garut, Kacapiring, Kabupaten Bandung, Ligung dan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka serta Cimacan, Kabupaten Cianjur.

Sejak 1985 ATe sudah aktif menulis di berbagai media, baik di Bandung maupun Jakarta. Setelah dua tahun bekerja di Tabloid Eksponen (1986-1989) ATe bergabung ke Majalah Berita Mingguan Tempo sejak 1989 hingga dibredel pada 1994. Setelah Tempo dibredel ATe sempat menjadi kontributor CBS TV – based Tokyo, Media Indonesia, Suara Ummah, U-Mag (majalah Life-Style), On Stage, Let’s Dance, Tempo Interaktif dan dosen STIKOM Bandung

Dalam organisasi, selain pernah aktif di AJI, ATe juga tercatat sebagai pendiri Forum Wartawan Independen (FOWI) Bandung, Ketua Institut Advokasi Pers Indonesia (IAPI), anggota International Federation of Journalists  (IFJ), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bela Keadilan, Garda Kemerdekaan, dan Anggota Kehormatan International PEN English Centre.

Selain itu almarhum juga menulis sejumlah buku. Penghargaan yang dia dapat atas perjuangannya untuk kebebasan pers, antara lain Tasrief Award pada Juni 1995, International Press Freedom Award dari CPJ yang berbasis di New York pada 1995, Digul Award oleh Koalisi Organisasi-organisasi Non Pemerintah di Indonesia 10 Desember 1996, dan Hellmann/Hammed Award dari American Writer New York, 1998.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak laki-laki yang beranjak dewasa. Yang sulung sekolah Chef (juru masak) di Malaysia sedangkan si bungsu di Jakarta. Selama ini almarhum tinggal di Pamulang. Setelah sakit dan menjelang ajal almarhum tinggal di rumah masa kecilnya.

Memang benar, almarhum bukan sekedar wartawan. Melainkan wartawan pejuang yang melawan penindasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selamat jalan kawan. []

 

3 KOMENTAR

  1. Turut berdukacita sedalam dalam nya atas wafat nya Bung Ahmad Taufik, semoga Amal ibadahnya dan segala pengabdian nya untuk kemanusiaan diterima Allah SWT. Amin, Selamat jalan Bung ATe, ku hantar kepergiaanmu dengan doa dan tekad melanjutkan perjuangan mu. Amin

  2. Turut berduka cita atad eafatnya. Sahabat saya. Sdr sya sekampua..se gakultas…sya terkenang krtika kita sama3 aktig di SEMA FH. Unisba. Alm. Kakak tingkat sya. Beliau sanagt aktif mwmbela kebwnaran…..selamat jalan sahabatku..twmanku..kenangan yg tak trtlupakan jetika kuliah libur Alm tetgolwk aakiy..di kamar kos dan Alm Maksa pulang ke jkt. Minta sya anatarkan ke tetminal kebon kelapa..itulah keketasan hati penuh Makna dari Alm. Yg tak petnah mau menyuaahkan teman3nya.Selamat jalan sobay..aemoga Allah mwmbrtikan tempat tetbaik..siainya..fan kwl yg fitinggalkan tabah menghadapi.
    ..

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here