Selamatkah Xi Jinping dari Kutukan Tahun “Orong-Orong”?

0
142
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Memasuki tahun “Orong-Orong” atau “Wuxu” alias anjing tanah – bagi orang China yang percaya takhayul – banyak hal akan terjadi. Pepatah China mengatakan turunnya salju di tahun baru adalah pertanda melimpahnya hasil panen. Namun musim dingin di Beijing hingga hari Sabtu berlalu tanpa salju.

Maka pejabat di Beijing bersuka cita menikmati turunnya salju di hari Sabtu – hari ketika Xi Jinping dan tangan kanannya Wang Qishan dipilih menjadi presiden dan wakil presiden. Tapi turunnya salju di hari Sabtu bukan sepenuhnya kehendak Tuhan. Rupanya mesin pembuat salju sudah digerakkan untuk meningkatkan kelembaban cuaca.

Siklus 60 Tahun

Hal tidak biasa lainnya adalah gempa bumi yang dirasakan warga Beijing sesaat sebelum Tahun Baru China – atau Festival Musim Semi. Bagi warga Beijing yang suka klenik ada alasan untuk mencemaskan apa yang akan terjadi.

Kalender China yang digunakan – baik di tanah leluhur maupun di tanah perantauan – siklus yang digunakan umumnya 12 tahunan. Namun ada juga siklus 60 tahun. Tahun ini bukan sekedar tahun anjing. Melainkan anjing tanah yang acap kali membawa kutukan. Sejarah telah membuktikan itu. Siklus dari tahun anjing tanah yang satu ke tahun anjing tanah lainnya terjadi setiap 60 tahun.

Runtuhnya Dinasti Qing juga terjadi di tahun anjing tanah 1898 – atau 120 tahun yang lalu. Kaisar Guangxu yang muda dan progresif telah merasakan kutukan ini. Setelah kekaisarannya dikalahkan Jepang pada Perang I China-Jepang (1894-1895) dia memaklumatkan Reformasi Wuxu

Sebut saja tahun 1898 – dinasti Qing – dinasti kekaisaran terakhir Tiongkok sudah mendekati ajalnya. Mungkin Kaisar Guangxu yang muda dan progresif merasakan ini. Beberapa tahun sebelumnya dia dikejutkan oleh kekalahan Cina. Kaisar pun mengumumkan Reformasi China yang modelnya menjiplak Restorasi Meiji di Jepang 1868. Tapi reformasi yang dia canangkan hanya bertahan 100 hari.

Ada hal yang lupa dia perhitungkan. Bibi Kaisar – janda permaisuri Cixi – menentangnya. Terjadilah Kudeta yang dikenal dengan sebutan Wuxu Coup yang didalangi oleh Ibu Suri Istana Barat. Kaisar muda yang berpandangan jauh ke depan memajukan negaranya itu tewas diracun. Setelah itu anak-anak muda potensial dikejar-kejar. Sebagian melarikan diri ke luar negeri.

Akankah Xi Jinping akan mengulangi kutukan sejarah 60 atau 120 tahun yang lalu? Begitu tulis Katsuji Nakazawa – wartawan senior Nikkei Shimbun – dalam artikelnya. Memang, sejarah kadang menyapa manusia dengan cara yang aneh. Tidak masuk akal. Tapi benar-benar terjadi.

Setelah 60 tahun tewasnya kaisar terakhir Dinasti Qing – tepatnya pada tahun 1958 – pemimpin China Mao Zedong memulai gerakan Lompatan Jauh ke Depan. Tujuannya meningkatkan produksi pertanian dan memajukan industri di China. Tapi yang terjadi justru bencana kelaparan. Tercatat 20-30 juta tewas – baik karena kelaparan atau dituduh membangkang.

Kini siklus 60 tahun kembali dilewati. Salju asli tidak turun di tahun baru. Muncul pula gempa bumi. Tiba-tiba ada hal yang lebih mengejutkan. Komite Rakyat Nasional China mengesahkan usulan Partai Komunis China (PKC) dalam Kongres di bulan Oktober – menghapuskan batas 2 x 5 tahun jabatan Presiden China yang memungkinkan Jinping menjadi Presiden seumur hidup.

Bebek Lumpuh

Warga negara China sulit mengekspresikan dirinya secara bebas di sosial media karena adanya sensor yang semakin ketat. Sejumlah postingan yang menentang penghapusan masa jabatan – seperti di Weibo atau WeChat – sudah dihapus setelah pengelolanya diberi tahu adanya aktivitas di media sosialnya.

Di antara yang terkena patroli polisi cyber China adalah taggar Xidi – sebuah ejekan yang berarti Kaisar Xi. Kata kunci itu banyak digunakan netizen China yang kritis terhadap Xi dan konsentrasi kekuatannya. Sialnya, orang-orang Beijing selain klenik juga suka berbicara politik. Jadi perlawanan berjalan dari mulut ke mulut. Umumnya mereka menyayangkan keputusan penghapusan masa jabatan.

Selain Presiden Xi juga menjabat Ketua Komisi Militer Pusat – komando militer tertinggi yang mengendalikan Tentara Pembebasan Rakyat. Masih ada satu lagi jabatan, Sekretaris Jenderal Partai Komunis China – kekuatan sesungguhnya di negeri tirai bambu itu.

Penjelasan resmi tidak adanya pembatasan jabatan Presiden adalah agar selaras – karena jabatan Sekretaris Jenderal dan Ketua Komisi Militer juga tidak dibatasi masa jabatan. Tentang tiga jabatan yang langsung diemban Xi – para punggawa Xi langsung memungut ajaran Kristen “Trinitas” untuk menjelaskan tiga kekuasaan penting di satu tangan.

Penjelasan para punggawa Xi jauh dari meyakinkan. Kini masyarakat meyakini satu hal – alas an sebenarnya bukan sinkronisasi ketiga jabatan. Melainkan karena Xi ingin menjadi presiden seumur hidup. Tapi apakah Xi sekuat itu?

Seorang ahli China menjelaskan, Xi mungkin takut apa yang mungkin terjadi dalam waktu tiga atau empat tahun ke depan. Sebab jika batas masa jabatan presiden tetap berlaku, menjelang Kongres partai pada Oktober 2022 dia akan menjadi seperti bebek lumpuh.

Dengan kata lain apabila ekonomi China terus memburuk dan berpengaruh terhadap kehidupan orang banyak Xi mungkin akan menjadi bebek lumpuh. Sebab sepanjang kekuasaan dia menggunakan isu anti korupsi untuk menghadang pesaing. Ribuan pejabat sudah dipenjarakannya. Jadi dia khawatir akan menerima pembalasan saat kekuasaan lepas dari genggamannya.

Lima tahun terakhir merupakan contoh yang bagus untuk para pemimpin puncak yang turun secara prematur. Teman dekat mantan Presiden Hu Jintao – Ling Jihua – mendekam di penjara seumur hidup. Li Yuanchao yang pernah menjadi bintang pemberontak di Liga Pemuda Komunis – sebuah faksi yang dikendalikan Hu Jintao tidak terpilih kembali sebagai anggota Komite Pusat dan dipaksa mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Kultus Individu

Kultus individu tampaknya sedang dibangun oleh Xi. Di toko buku yang dikelola oleh negara di Wangfujing – pusat perbelanjaan yang sibuk di kota Beijing – salinan buku biografi Xi Jinping dengan foto hitam putih tua dari Xi yang lebih muda di sampingnya menempati rak paling atas. Di rak bawahnya terhampar buku-buku Mao Zedong. Di deretan rak paling bawah buku tentang Deng Xiaoping – tokoh legenda yang menggantikan Ketua Mao memimpin China.

Di sana buku tentang Jiang Zemin atau Hu Jintao – pendahulu langsung Xi – tidak ditemukan, dan setidaknya bukan di ruang utama toko. Era Jang dan Hu benar-benar dilupakan, setidaknya dalam kacamata Toko Buku Sino-ology.

Persoalannya warga Beijing kurang antusias membeli buku tentang Xi. Buah pemikiran Mao Zedong jauh lebih laris meskipun berada di rak tengah.

Saat Komite Rakyat Nasional menggelar pemungutan ribuan petugas keamanan di Beijing dikerahkan berjaga-jaga di setiap tepi jalan. Mereka khawatir terjadinya protes warga Beijing yang tidak menyetujui batas masa jabatan. Dan akhirnya memang, penghapusan batas masa jabatan itu disetujui oleh 2.958 suara, Hanya 2 yang menentang dan 3 abstein.

Xi terlihat lega. Karena memang di hari itu Xi mengerahkan polisi hampir di semua sudut-sudut kota Beijing. Orang-orang yang pergi ke Wangfujing melalui kereta bawah tanah harus melewati tentara yang berjejal di pintu masuk stasiun. Aparat yang bertugas meliputi polisi khusus, polisi berseragam polos dan ribuan milisi.

Di Kongres Rakyat Nasional pemungutan suara memang dilakukan seolah-olah secara rahasia. Karena saat para wakil rakyat memberikan suaranya tidak terbebas dari pandangan kolega-koleganya. Jadi untuk melawan perubahan konstitusi berarti membahayakan karir politiknya.

Seorang pejabat menyebutkan tidak ada yang keberatan penghapusan masa jabatan, sekaligus menolak kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya Revolusi Kebdayaan.

Apakah seperti itu yang akan terjadi? Jawabannya mungkin 5 tahun, 10 tahun atau 20 tahun, kecuali kutukan sejarah tentang siklus 60 tahunan benar-benar terjadi – apakah yang terkena bencana masyarakat biasa seperti 60 tahun lalu era Mao Zedong atau “Sang Kaisar” seperti 120 tahun silam? [] Sumber : Nikkei Shimbun

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here