Selembar Foto Repro, Satu-satunya Bukti Sejarah Pentingnya Toko Buku Peneleh

0
237

Sempat teronggok tak bermakna di antara puluhan lembar foto hitam putih, dokumentasi kunjungan Bung Karno ke Toko Buku Peneleh menjadi satu-satunya bukti bersejarah yang terselamatkan. Foto yang menceritakan pentingnya Toko Buku Peneleh memupuk wawasan kebangsaan Soekarno muda jauh sebelum Republik Indonesia diproklamirkan.

Nusantara.news, Surabaya – PADA awal abad ke-20, Surabaya dikenal sebagai basis pergerakan kebangsaan . Kultur egaliter yang berawal dari latar belakang multietnis warga yang mengadu nasib, menjadikan kota yang kelak menjadi ibukota provinsi Jawa Timur ini, menjadi magnet ribuan anak bangsa yang ingin mengubah nasib.

Pembatas tak terlihat seolah menjadikan Surabaya pusat dinamika kebangsaan untuk kawasan Indonesia timur berbarengan dengan Bandung dan Jakarta di kawasan barat. Disinilah pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo-Ida Ayu Nyoman Rai mengirim Soekarno menempuh pendidikan di Hogere Borger School (HBS) ketika usianya baru menapak belasan tahun.

Rumah kenalan ayahnya, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di Peneleh menjadi tempat tinggal selama kurun lima tahun (1916-1921). Di rumah itu, Soekarno muda mulai bersentuhan dengan wawasan kebangsaan. Pemikiran Pak Tjokro sebagai pendiri Sarekat Islam seperti oase di tengah gurun tandus akan hausnya kesadaran kebangsaan Soekarno dan pemuda indekost lainnya seperti Musso, Semaoen dan Kartosoewirjo yang kelak menjadi lawan ideologi Putra Sang Fajar.

Ada cerita lain yang muncul dari Peneleh. Yakni tentang persinggungan Soekarno dengan Muhammadiyah di Toko Buku Peneleh. Toko yang hanya berjarak sekitar 10 meter di depan rumah kosnya, seolah menjadi pemuas rasa haus akan konsep nasionalisme dengan banyaknya literasi tentang pergerakan Islam di dunia masa itu.

“Cerita dari budhe-budhe saya memang seperti itu. Dulu di toko ini, kakek saya memang menjual dan menyediakan buku-buku untuk kebutuhan umum. Tapi kebanyakan buku yang dijual tentang pergerakan Islam dan nasionalisme,” kata Azhari generasi ketiga pemilik Toko Buku Peneleh kepada Nusantara.News.

Azhari menyebutkan peran penting Toko Buku Peneleh yang masih bertahan hingga kini

H Abdul Latief Zein, pendiri toko juga ternyata bukan orang sembarangan. Dia merupakan salah seorang tokoh di balik berkembangnya Muhammadiyah di Surabaya, organisasi yang turut mengembangkan wawasan kemerdekaan. Karena itu, selain toko buku Abdul Latief Zein juga membuka percetakan Peneleh yang cukup terkenal saat itu.

Hal ini untuk menunjang misi dakwah sekaligus penyebaran virus nasionalisme bangsa Indonesia di kalangan pemuda. Tak heran, Peneleh di zaman itu dikenal sebagai kawasan yang cukup dinamis dan sangat anti kolonialisme. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh-tokoh pergerakan asal Surabaya yang muncul.

Penuturan Azhari yang berdasarkan cerita turun temurun keluarganya, percetakan dan toko buku selain jadi sumber ekonomi keluarga juga menjadi gudang ilmu bagi siapa pun. “Keluarga awalnya memang tidak begitu tahu toko buku ini sangat berarti bagi Bung Karno. Namun kalau soal pergerakan Muhammadiyah, memang iya bahkan hingga kini,” terang pria yang aktif di Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya tersebut.

Azhari bahkan menggambarkan kedekatan hubungan kakeknya dengan KH Mas Mansyur. “Dari Mas Mansyur itu, kakek lantas bergabung dengan Muhammadiyah. Pendirian percetakan dan toko buku juga tidak terlepas dari misi beliau untuk mencetak dan menyebarkan karya-karya Mas Mansyur. Termasuk materi khotbah Jumat untuk disebar ke seluruh penjuru Surabaya,” terangnya.

Hal ini dibenarkan Ustad Budi salah satu tokoh Muhammadiyah Surabaya yang ikut dalam perbincangan dengan redaksi. “Di Peneleh menjadi awal pergerakan Muhammadiyah di Surabaya. Mulai dari pendidikan hingga pendirian masjid. Termasuk masjid di depan rumah Cak Rus (Roeslan Abdoelgani, salah satu tokoh pemuda Surabaya di era kemerdekaan, RED),” timpalnya sambil menunjuk lokasi percetakan yang terletak di samping toko.

Karenanya, pihak keluarga terang Azhari sempat heran ketika mulai banyak yang menyoroti keberadaan Toko Buku Peneleh sebagai bagian penting dari sejarah di masa pergerakan Indonesia. Peran sebagai gudang ilmu pengetahuan pemuda-pemuda di masa itu bahkan nyaris hilang dan hanya sekedar cerita lisan jika tidak ditemukan bukti penting. “Foto hasil repro itu pun satu-satunya yang tersisa dari tumpukan dokumen di rumah,” kata Azhari sembari menunjuk foto yang tertempel di tembok toko.

Foto repro kunjungan Bung Karno ke Toko Buku Peneleh pada 18 Desember 1956, menjadi satu-satunya bukti yang tersisa

Ada alasan yang membuat siapa pun bisa terhenyak dengan minimnya bukti yang ada. “Ketika pemerintahan Bung Karno mulai jatuh dan diganti era Presiden Soeharto, sebagian besar bukti foto atau pun buku-buku pemikiran beliau tidak kami pajang. Semua tentu maklum karena saat itu apa pun yang menyangkut Bung Karno pasti menjadi sorotan. Padahal saya yakin berdasarkan kisah dari kakek akan kuatnya ke-Islaman Bung Karno,” beber Azhari.

Terlepas dari kebenaran sejarah, jejak penting Toko Buku Peneleh sebagai penambah wawasan pengetahuan dan kebangsaan pemuda Indonesia di masa pergerakan tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Setidaknya, meski berstatus milik pribadi ada pernyataan resmi dari pemerintah untuk mengantisipasi hilangnya mata rantai sejarah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here