Selepas Asian Games: Siapa Kita? Indonesia

0
82

Nusantara.news, Jakarta – Perhelatan Asian Games ke-18 yang digelar di Jakarta-Palembang (Indonesia) pada 18 Agustus – 2 September 2018 lalu, usai sudah. Pesta memang sudah usai dan tetamu mulai kembali ke negeri masing-masing. Kita masih terkesan dengan keelokan permainan netting Jonatan Christie, keindahan gerak Lindswell Kwok, kematangan sikap Hanifan Yudani, juga kemegahan pembukaan dan penutupan Asian Games yang bertajuk “Energy of Asia”, sekadar mengambil contoh.

Decak kagum datang dari banyak pihak. Jepang yang calon tuan rumah Olimpiade 2020, bahkan menyatakan ingin belajar dari pagelaran Asian Games 2018 di Jakarta yang berkelas dunia tersebut. Pujian juga datang dari media dan para pesohor asing. Di antaranya Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach, Presiden Dewan Olimpiade Sheikh Ahmad al-Fahat al-Sabah, dan pemilik Alibaba.com Jack Ma.

“Di antara negara-negara di Asia Tenggara, menurut saya, Indonesia menjadi salah satu yang terbaik untuk menyelenggarakan Olimpiade,” kata Bach. Indonesia memang telah mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade pada 2032.

Pun begitu, kita tak sedang berbincang tentang orang per orang atau acara per acara. Bukan juga tentang medali semata yang melampui target: dari 17 menjadi 31 emas sehingga mendudukan Indonesia di posisi ke-4 di bawah China, Jepang, dan Kores Selatan. Sekaligus satu-satunya negara ASEAN yang masuk 10 besar dalam perolehan medali. Bukan, bukan sekadar itu.

Namun, tentang kehormatan dan harga diri bangsa. Dengan dada tegak dan wajah sumringah, teriakan “Siapa kita? Indonesia” tak sekadar slogan suporter untuk mendukung para atlet Tanah Air yang awalnya dilontarkan komentator Valentino “Jebreeet” Simanjuntak.

Lebih dari itu, slogan tersebut juga menjadi titik didih kepercayaan diri kembali sebagai bangsa besar. Dan, Asian Games serupa genta raksasa yang ditabuh sebagai tanda jalan pulang. Indonesia ‘telah kembali’: menemukan dirinya sebagai bangsa besar yang telah dicatatkan di lembaran masa lampau.

Mewarisi Bangsa Besar

Indonesia memang pemain dunia, bukan hanya di Asia. Dalam lembaran sejarah, ketika banyak negara di Asia dan Afrika baru saja merdeka pada dekade 1940-an hingga 1950-an, Indonesia bersama India, Pakistan, Myanmar, dan Srilanka justru bisa mengumpulkan banyak negara yang terwujud dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Konferensi itu pun melahirkan kekuatan baru untuk melawan neokolonialisme dan neoimperalisme. Sebuah pencapaian gemilang ketika dua benua bersatu menjadi kekuatan baru.

Bahkan, ketika dua negara superpower yaitu Amerika Serikat (Blok Barat yang berpaham kapitalisme) dan Uni Soviet (Blok Timur yang berpaham komunisme) beserta negara-negara pengikutnya terlibat konfrontasi yang mencemaskan dunia, Indonesia justru muncul sebagai kekuatan penyeimbang. Bersama India, Yugoslavia, Mesir, dan Ghana, Indonesia mampu melahirkan solusi baru: sebuah bangsa (negara) di belahan dunia tidak harus berkiblat pada dua kekuatan besar itu. Lahirlah gerakan Nonblok pada 1961.

Setahun kemudian, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 yang digelar di Jakarta pada 1962. Ketika itu, Indonesia berada di urutan ke-2 dalam perolehan medali, di bawah Jepang yang merebut posisi puncak. Indonesia menggodol 51 medali: 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Sedangkan jepang meraih 152 medali: 73 emas, 56 perak, dan 23 perunggu. Namun, akibat bersimpati pada China dan Palestina yang membuat Indonesia menolak kehadiran Taiwan dan Israel di Asian Game 1962, Indonesia pun mendapat sanksi dicoret sebagai peserta Olimpiade Tokyo 1964.

Presiden Soekarno menghadiri pembukaan Asian Games 1962 di Jakarta

Tak surut, Presiden Soekarno justru menjadi-jadi. Indonesia di bawah Soekarno kemudian menggagas Olimpiade tandingan, yaitu pesta olahraga negara-negara kekuatan baru atau disebut Games of the New Emerging Forces (Ganefo) pada 1963 di Jakarta. Ada 51 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa menjadi peserta Ganefo. Di gelaran tersebut, Indonesia berada di posisi ke-3 dengan 71 medali (17 emas, 24 perak, dan 30 perunggu), di bawah China dengan 168 medali (65 emas, 56 perak, dan 47 perunggu), dan Uni Soviet dengan 67 medali (39 emas, 20 perak, 8 perunggu).

Sebagai bentuk perlawanan terhadap status quo, Ganefo memang punya misi lain. Namun Ganefo hanya berlangsung dua kali. Pesta Ganefo II dihelat di Phnom Penh,Kamboja, 1966. Ganefo III yang direncanakan digelar di Beijing, China pada 1970, kemudian dialihkan ke Pyongyang, Korea Utara, hanya saja tinggal dongeng sejarah. Sebab Ganefo III tak pernah terselenggara, seiring telah bergantinya tampuk kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Jika ditilik, di balik kepemimpinan Indonesia dalam percaturan dunia, Soekarno memang selalu menyelipkan misi. Pada KAA 1955, Soekarno menunjukkan perlawanan terhadap dominasi dan penjajahan terhadap negara-negara benua Eropa dan Amerika terhadap benua Asia dan Afrika. Dalan gerakan Nonblok 1961, Soekarno ingin membangun kekuatan penyeimbang di antara dua negara superpower, sekaligus membawa pesan perdamaian dunia.

Kemudian Asian Games 1962, selain merupakan pesta olahraga Asia, Soekarno hendak mengukuhkan gengsi Indonesia di pentas dunia. Olahraga dijadikan alat mengangkat marwah bangsa: setara dengan negara-negara maju lainnya. Tengoklah ucapan Bung Karno yang tertoreh di Patung Soekarno di GBK. “Asian Games bukan hanya terbatas pertandingan olahraga, tetapi juga mengusung harga diri bangsa… Ever onward never retreat, merdeka!”

Misi ambisius Soekarno ini semakin dipertegas manakala ia menggagas Ganefo sebagai tandingan pesta olahraga Olimiade. Tak hanya bentuk perlawanan atas sanksi yang diterima Indonesia, juga menunjukkan Indonesia sebagai negara berpengaruh. Tak dipungkiri, di masa Presiden Soekarno, Indonesia tampil sebagai bangsa yang besar dan disegani dunia. Bukan bangsa omong besar, bukan pula penghamba negera-negara maju.

Bagaimana di era Jokowi? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here