Senjata yang Dibeli Militer AS Jatuh ke Tangan ISIS

1
338
Seorang anggota ISIS sedang berpatroli di wilayah Tikrit, Irak, pada November 2014 lalu. Foto Reuters

Nusantara.news, Jakarta – ejumlah senjata yang pernah dibeli oleh militer Amerika Serikat (AS) pada 2015 jatuh ke tangan kelompok bersenjata ISIS. Begitulah hasil temuan Conflict Armament Research (CAR), sebuah Lembaga pelacak senjata independen yang dirilis pada Kamis (14/12) kemarin.

Pelacakan dilakukan dengan meneliti dokumentasi yang sangat teliti selama 3 tahun di wilayah konflik Suriah dan Irak. CAR menggunakan nomer seri atau tanda kuci lainnya untuk melacak asal-usul persenjataan dan mencoba mengumpulkan beberapa di antaranya yang diperoleh dari kelompok bersenjata itu.

Sejumlah senjata yang ditemukan setelah ISIS terusir dari wilayah konflik juga termasuk senjata buatan China yang bercampur dengan kantong-kantong amfetamin, pesawat udara yang dimodifikasi di bengkel milik teroris itu dan sebuah senapan buatan Nazi Jerman.

Yang mengejutkan, CAR menemukan satu rudal anti-tank hasil pembelian Angkatan Darat AS yang jatuh ke tangan ISIS hanya dalam waktu 59 hari. “Ini sangat singkat,” ucap Peneliti CAR Damien Spleeters kepada NBCNews. “Artinya, tidak banyak perantara dalam mata rantai persenjataan ini.”

Bantuan CIA

Sebelumnya, di bawah dua program yang berbeda, pemerintah A.S. telah memasok senjata ke kelompok bersenjata Suriah, yang pertama untuk melawan rezim Assad dan kemudian membantu Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dalam perang melawan Negara Islam. Beberapa senjata ISIS juga diduga telah dicuri dari stok militer dan ada juga yang dibeli secara ilegal.

Polisi Irak, ungkap peneliti CAR, juga menemukan sebuah tabung rudal buatan Bulgaria – bagian dari sebuah sistem untuk menembaki sebuah rudal anti-tank yang dipandu kawat – selama pertempuran Ramadi pada 9 Februari 2016.

Selanjutnya CAR mendokumentasikan temuan itu dan melacaknya dari produsen asal Bulgaria. Perusahaan itu mengkonfirmasikan kepada periset bahwa senjata itu telah diekspor ke Angkatan Darat A.S. melalui broker senjata pada 12 Desember 2015. Namun CAR belum menemukan bukti-bukti yang cukup kenapa senjata-senjata Bu;garia itu jatuh ke tangan ISIS di Irak.

Namun, sebuah kelompok oposisi Suriah yang bernama Jaysh al-Nasr memposting serangkaian foto pada 21 Desember 2016, menunjukkan seorang pejuang oposisi berpose di sebuah lanskap bersalju. Sebuah pemeriksaan lebih dekat menunjukkan senjata itu memiliki jumlah lot dan nomer seri serupa dengan senjata yang disita dari kelompok bersenjata ISIS.

Artinya, baik senjata yang jatuh ke tangan Oposisi Suriah maupun kelompok ISIS adalah bagian dari mata rantai pasokan yang sama.

Sejauh ini pemerintah AS belum berkomentar atas temuan CAR ini. Sedangkan perusahaan pemasok Kiesler Police Supply Co yang bertugas memasok senjata ke militer AS menolak berkomentar.

Berdasarkan tabung rudal anti-tank yang ditemukan di Ramadi dan contoh senjata lainnya yang dibeli oleh pemasok AS dari produsen Eropa, CAR mengatakan ada bukti bahwa banyak senjata yang dipasok ke berbagai kelompok pemberontak Suriah yang didukung oleh AS jatuh ke tangan ISIS.

Ketika diminta komentar kenapa senjata yang dibeli pemerintah AS jatuh ke ISIS, Eric Pahon, seorang juru bicara Departemen Pertahanan, kendati mengaku belum membaca laporan CAR, mengatakan, “Setiap dugaan penyalahgunaan atau pengalihan senjata AS akan diselidiki secara serius dan mengarah pada pembatasan bantuan persenjataan.”

Juli lalu, CIA memang diam-diam mempersenjatai sejumlah kelompok pemberontak rezim Asad di Suriah. Namun pejabat pemerintah dan militer AS menolak berkomentar. Padahal, Presiden Donald Trump sendiri sudah mengumumkan lewat akun Twitter miliknya akan memecat Presiden Bashir Al Asad.

Kelompok pemberontak yang dapat bantuan dari CIA, ungkap Charles Lister yang juga tink tank Washington dari Middle East Institute yang memiliki jaringan ke pemberontak Suriah menyebut kelompok Jaysh al Nasr. Namun saat berperang melawan ISIS kelompok ini kalah dan diduga senjatanya jatuh ke tangan ISIS.

Selain itu, CIA juga diduga mempersenjatai SDF – sebuah koalisi pejuang Arab dan Kurdi – meskipun menteri luar negeri Turki mengklaim bulan lalu bahwa pemerintah telah mengakhiri program itu, karena ISIS sudah bergeser dari sebagian besar wilayah yang pernah dikuasainya.

“Jika memungkinkan, penasehat kami akan memantau penggunaan senjata dan persediaan yang kami berikan kepada SDF untuk memastikan penggunaan hanya terhadap ISIS,” terang Pahon.

Untungkan ISIS

Sedangkan Pieter Wezeman, seorang peneliti senior dari Stockholm International Peace Research Institute menyebut temuan CAR menjelaskan, betapa besarnya resiko pemerintah AS yang memberikan bantuan senjata kepada kelompok-kelompok bersenjata yang tidak siap, tidak terlatih dan berdisiplin rendah.

Senjata-senjata yang ditemukan dari ISIS dan didokumentasikan oleh CAR itu berasal dari berbagai produsen dan sumber. Banyak juga yang berasal dari jarahan tentara Irak dan Suriah saat ISIS menyerbu mereka. Pada 2015 ISIS sempat menguasai wilayah seluas 35 ribu mil persegi, atau setara dengan wilayah negara bagian Indiana, AS.

Tapi CAR mencatat bantuan senjata pemerintah AS kepada kelompok-kelompok pemberontak yang juga berjuang melawan ISIS justru memperbaiki kualitas dan jumlah yang dimiliki oleh tentara-tentara ISIS yang sebelumnya hanya mengandalkan senjata tua buatan China dan Rusia.

Tidak mengherankan apabila video propaganda ISIS acap menampilkan senjata buatan AS di gudang persenjataannya. Diduga senjata-senjata itu diperoleh dari pejuang Arab-Kurdi maupun oposisi di Suriah. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya senapan M-16 buatan AS di Kobani, Suriah, pada 2015 lalu.

Namun senjata buatan AS hanya bagian kecil dari persenjataan yang ditemukan di gudang milik ISIS. Sedangkan lebih 50 persen senjata yang ada berupa AK-47 buatan China dan Rusia. Dan sebagian senjata ISIS dalam catatan CAR diproduksi sebelum 1990, atau sebelum ada embargo senjata ke Irak.

Ada juga roket buatan Yugoslavia, beragam jenis senjata api dan amunisi yang didatangkan dari Belgia sekitar 30 tahun yang lalu. Bahkan ada yang lebih lawas lagi, seperti temuan Direktur CAR James Bevan berupa senapan Mauser buatan Nazi Jerman pada 1941 di gudang persenjataan milik ISIS di Baghdad bersama 150 senjata dan alat peledak lainnya.

Secara keseluruhan CAR mengumpulkan lebih dari 40 ribu item persenjataan selama risetnya di Irak dan Suriah. Mendokumentasikan semuanya, mulai dari tank dan peluru roket hingga hal-hal yang kecil seperti selongsong peluru hingga potongan kabel pemicu bom.

September lalu, CAR menemukan penemuan yang tidak biasa, berupa 122 senapan mesin ringan buatan China di bekas wilayah ISIS di selatan Mosul. Nomer seri sebagian besar senjata itu berurutan yang menunjukkan diperoleh dari pemasok yang sama. Di setiap senapan ada kantong amfetamin untuk meningkatkan daya juang tentaranya.

Dan tampaknya pemerintah AS sendiri tidak bisa menjawab secara tegas, kenapa senjata-senjata dari berbagai produsen yang dibeli tentara AS itu jatuh ke kelompok bersenjata ISIS? Benarkah senjata-senjata itu bantuan kepada pemberontak Suriah dan aliansi Arab-Kurdi di Irak, atau? []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here