Sensasi Transaksi Dagang Tanpa Dolar AS

0
42
Indonesia, Filipina, Thailand dan Malaisya sepakat melakukan penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal (local currency settlement framework--LCS Framework), keempat negara sepakat tak lagi menggunakan dolar AS dalam transaksi perdagangan lintas negara.

Nusantara.news, Jakarta – Indonesia, Filipina, Thailand dan dan Malaysia merupakan empat negara ASEAN yang menginisiasi meningkatkan transaksi dagang tanpa melibatkan peran dolar AS. Bank sentral keempat negara sepakat mendorong kerangka kerjasama penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dalam mata uang lokal (local currency settlement framework—LCS Framework) di kawasan ASEAN.

Akankah LCS Framework ini menjadi trendsetter bagi 6 negara ASEAN lainnya? Atau bahkan skema transaksi ini pada akhirnya menginternasional?

Keempat negara sahabat tersebut bersepakat untuk tak lagi menggunakan dolar AS untuk transaksi perdagangan. Komitmen 4 bank sentral tersebut disepakati di tengah rangkaian pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral se-ASEAN (ASEAN Finance Minister & Central Bank Governor,s Meeting–AFMGM) di Chiang Mai, Bangkok, Thailand, belum lama ini. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko menyatakan dalam acara tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (Letter of Intent–LOI) antara Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Benjamin E. Diokno dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. 

Selain itu juga penandatanganan LOI Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Benjamin E. Diokno dan Gubernur Bank Negara Malaysia Nor Shamsiah binti Mohd Yunus.  Kemudian penandatanganan LOI antara Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Benjamin E Diokno dan Gubernur Bank of Thailand Veerathai Santiprabhob. 

"Ketiga LOI dimaksud merefleksikan kepentingan bersama dalam menjajaki kemungkinan pembentukan LCS framework antara keempat negara," demikian penjelasan Onny.

Ia mengungkapkan sebelumnya telah tercapai dua penandatanganan nota kesepahaman antara BI, Bank Negara Malaysia dan Bank of Thailand untuk penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal masing masing.

Sejak itu, terdapat peningkatan penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian transaksi perdagangan bilateral, seiring dengan penurunan marjin kurs valuta asing. Total transaksi perdagangan melalui LCS terus menunjukkan peningkatan. Pada kuartal I-2019, total transaksi perdagangan melalui LCS menggunakan Baht (THB) mencapai US$13 juta (setara Rp185 miliar), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$7 juta (setara Rp96 miliar). 

Sementara untuk transaksi LCS menggunakan Ringgit (MYR) mencapai US$70 juta (setara Rp1 triliun), meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$6 juta (setara Rp83 miliar).

Kerja sama tersebut akan memberikan manfaat bagi pelaku usaha melalui pengurangan biaya transaksi dan peningkatan efisiensi dalam penyelesaian transaksi perdagangan. 

"LCS Framework ini juga akan memberikan lebih banyak opsi bagi pelaku usaha dalam memilih mata uang untuk setelmen transaksi perdagangan, sehingga mengurangi risiko nilai tukar terutama di tengah kondisi pasar keuangan global saat ini yang masih bergejolak (volatile)," jelas dia.

Kerangka kerja sama di antara empat negara ini akan mendorong penggunaan mata uang lokal lebih luas lagi dalam masyarakat ekonomi ASEAN dan mendorong perkembangan lebih lanjut pasar valuta asing dan pasar keuangan di kawasan dalam mendukung integrasi ekonomi dan keuangan yang lebih luas.

Tentu saja komitmen keempat bank sentral melakukan LCS Framework ini akan mengurangi ketergantungan keempat negara terhadap dolar AS dalam melakukan perdagangan lintas negara.

Keberanian melakukan LCS Framework ini sekaligus untuk membangun daya tahan bank sentral yang sehat yang memenuhi kriteria kualifikasi utama untuk memfasilitasi transaksi bilateral.

Pada saat yang sama transaksi LCS Framework ini memastikan masing-masing negara terhindar dari risiko selisih kurs dolar AS terhadap masiing-masing mata uang keempat negara. Dus sekaligus kehilangan kesempatan memperoleh laba selisih kurs dolar AS terhadam keempat mata uang keempat negara.

Sebelumnya LCS Framework digagas oleh tiga bank sentral tiga negara, yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia. Bahkan ketiga bank sentral–Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan Bank of Thailand–telah menunjuk beberapa bank yang memenuhi kriteria kualifikasi utama untuk memfasilitasi transaksi bilateral. 

Untuk operasionalisasi framework LCS rupiah-ringgit, Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia menunjuk 6 (enam) bank di Indonesia dan 5 (lima) bank di Malaysia sebagai berikut:

Bank-Bank dari Indonesia:
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank Central Asia, Tbk 
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank CIMB Niaga Tbk 
PT Bank Maybank Indonesia Tbk 

Bank-Bank Malaysia: 
CIMB Bank Berhad 
Hong Leong Bank Berhad 
Malayan Banking Berhad 
Public Bank Berhad
RHB Bank Berhad 

Untuk operasionalisasi framework LCS rupiah-bath, Bank Indonesia dan Bank of Thailand menunjuk bank-bank sebagai berikut:
5 (lima) bank di Indonesia dan Thailand yaitu :

Bank-Bank dari Indonesia: 
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk
PT Bank Mandiri (Persero), Tbk
PT Bank Central Asia, Tbk 
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
Bangkok Bank PCL 

Bank-Bank dari Thailand: 
Bangkok Bank PCL 
Bank of Ayudhya PCL 
Kasikornbank PCL 
Krungthai Bank PCL 
Siam Commercial Bank PCL

Dengan LCS Framework ini diharapkan ada solidaritas bersama negara-negara ASEAN untuk melangkah bersama menjalin kekuatan ekonomi yang nyata.

Masalahnya kemudian, bagaimana nasib dolar AS? Tentu saja dolar AS sudah memiliki riwayat internasionalisasi yang massif dimasa lalu. Hampir 198 negara di dunia menjadikan dolar AS sebagai mata uang patokan perdagangan internasionalnya.

Namun dikarenakan adanya krisis AS yang berkepanjangan, efek internasionalisasi dolar AS berdampak positif sekaligus negatif buat negara pengguna dolar AS. Belakangan efek negatif fluktuasi dolar AS yang lebih menonjol, sehingga keempat negara yang bersepakat menerapkan LSC Framework ingin memastikan efek negatif dari penggunaan dolar AS.

Selamat buat Indonesia, Filipina, Thailand dan Malaysia yang sedikit banyak sudah terbebas dari efek negatif fluktuasi dolar AS.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here