Mission Impossible Kepala SKK Migas (1)

Sepak Terjang Dwi Soetjipto Membersihkan BUMN Besar

0
372
Tugas berat Dwi Soetjipto sebagai Kepala SKK Migas siap menanti. Namun pengalamannya membenahi BUMN-BUMN raksasa diperkirakan menjadi bekal yang cukup untuk membenahi industri migas.

Nusantara.news, Jakarta – Hari ini hari paling bersejarah buat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegaitan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas). Ya Presiden Jokowi menunjuk Dwi Soetjipto sebagai Kepala SKK Migas menggantikan pendahulunya Amien Sunaryadi. Mission impossible apa dibalik penunjukkan mantan Dirut Pertamina itu?

Dalam dua pekan terakhir beredar isu di media sosial bahwa Ketua Tim Kajian Reklamasi Ridwan Djamaluddin bakal menjadi Ketau SKK Migas. Namun berbagai komentar tidak simpatik muncul bahwa Ridwan titipan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, orangnya Jokowi dan komentar-komentar lain yang tidak simpatik.

Namun ketika hari ini yang dilantik oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan adalah Dwi Soetjipto, redalah opini-opini negatif itu. Bahkan opini yang belakangan muncul adalah sejumlah harapan di tangan Pak Tjip—begitu dia biasa disapa—adanya perbaikan industri migas ke depan.

Mantan Dirut Pertamina (Persero) itu menggantikan posisi Amien Sunaryadi yang pensiun pada 20 November 2018 memang memiliki passion yang tinggi membenahi korporasi BUMN. Sekarang Pak Tjip ditantang membani industri migas, terutama membenahi posisi net importir migas yang membuat defisit transaksi berjalan (current account deficit—CAD) yang berkepanjangan.

“Kepitusan Presiden No. 57/2018 tentang Pemberhentian Kepala SKK Migas, Presiden RI menimbang mengingat dan seterusnya, memutuskan memberhentikan dengan hormat Amien Sunaryadi sebagai Kepala SKK disertai ucapan terima kasih. Kedua mengangkat saudara Dwi Sutjipto sebagai Kepala SKK,” ujar Jonan, siang tadi.

Amien pensiun dengan meninggalkan tiga pekerjaan rumah penting yang harus dirampungkan oleh calon bos SKK Migas berikutnya, yaitu investasi migas yang loyo, cost recovery migas yang masih membengkak, serta produksi migas yang cenderung terus menurun.

Jonan menyampaikan lima pesan (mission impossible) kepada Dwi dalam memimpin SKK Migas.

Pertama, Dwi harus melanjutkan prinsip good corporate governance (GCG) yang selama ini telah dilakukan oleh Kepala SKK Migas sebelumnya, Amien Sunaryadi.

Kedua, Dwi bisa meningkatkan eksplorasi dan menemuka cadangan-cadangan baru, khususnya dengan mengoptimalkan komitmen kerja pasti yang saat ini tercatat sebesar US$2 miliar selama 10 tahun ke depan. Terutama meningkatkan Wilayah Kerja terminasi dan kewajiban menyerahkan komitmen kerja pasti untuk memastikan hasil yang lebih dari proses eksplorasi.

Ketiga, SKK Migas harus bisa membantu Ditjen Migas dalam menyelesaikan blok terminasi yang jatuh tempo pada tahun 2023, juga untuk WK eksplorasi.

Keempat, SKK Migas diminta untuk segera mengubah kontrak cost recovery yang masih tersisa agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kelima, Presiden Jokowi berpesan untuk memaksimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan memprioritaskan komponen dalam negeri semaksimal mungkin.

Dari lima pesan mission impossible tersebut terlihat jelas bahwa tugas Dwi tidak ringan. Namun jejak rekam Dwi membenahi beberapa BUMN kakap sepertinya harapan itu masih ada.

Dwi mendapat gelar Insinyur dari Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya tahun 1980. Lalu dia mendapat gelar Magister Manajemen dari Universitas Andalas, Padang (1999) dan meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen Kekhususan Manajemen Stratejik dari Universitas Indonesia (UI) pada 2009.

Karir pria ini sebagai eksekutif di BUMN terakhir adalah sebagai Direktur Utama PT Pertamina yang ditunjuk Presiden Joko Widodo pada 28 November 2014.

Di Pertamina Dwi melakukan beberapa langkah spektakuler, seperti melakukan efisiensi, membuarkan Petral, memberangus korupsi oleh pejabat internal Pertamina, hingga menggandeng raksasa migas Rusia, Rosneft Oil Company, Petrol Complex PTE LTD dan membentuk perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokia (PRPP), untuk membangun kilang di Tuban.

Dwi berhasil mengatrol laba Pertamina pada masa-masa akhir kepemimpinannya dari Rp19 triliun menjadi Rp42 triliun lewat sejumlah aksi korporasinya tersebut. Kinerja Pertamina kala itu sudah melampaui kinerja Petronas Malaysia. Dwi juga berhasil menginternasionaliasi Pertamina lewat Rosneft dan berbagai aktivitas kerjasama dengan raksasa-raksasa migas global lainnya.

Pada 2015, total efisiensi yang berhasil dilakukan Dwi di Pertamina dalam kegiatan operasional mereka berhasil mencapai US$800 juta. Efisiensi meningkat tiga kali lipat menjadi US$2,8 miliar pada 2016.

Sebelumnya Dwi membawa transformasi PT Semen Indonesia Tbk sejak 2005 hingga 2014, menjadi BUMN pertama yang berstatus multinasional (multinational state-owned company) setelah pembelian pabrik Thang Long di Hanoi Vietnam.

Di bawah kepemimpinannya, Dwi berhasil meningkatkan kapasitas produksi Semen Gresik menjadi 26 juta ton per tahun. Peningkatan tersebut berhasil mengalahkan produksi Siam Cement yang sebesar 23 juta ton yang selama ini terbesar di Asia Tenggara.

Di Semen Indonesia, Dwi dianggap telah berhasil menyatukan Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa. Di bawah kepemimpinannya, Semen Indonesia juga berhasil memperluas operasi BUMN Indonesia di Asia.

Sebelumnya, ia juga menjadi koordinator pengajar di Institut Pelatihan Pembangunan sejak tahun 1999 sampai sekarang. Sejak tahun 2014, Dwi Soetjipto menjadi Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Semen Indonesia dan komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dwi juga berhasil memimpin PT Semen Padang yang tengah bersengketa dengan Cemex SA de CV milik Mexico dan dimenangkan oleh Semen Padang. Dwi membenahi SDM Semen Padang sehingga menjadi lebih unggul.

Dengan segala pengalamannya yang panjang membenahi BUMN besar dan menjadi BUMN unggul, wajar kalau dia mendapat beban yang lebih menantang sebagai Ketua SKK Migas.

Hari ini, Dwi resmi menggantikan Amien Sunaryadi yang pensiun pada 20 November 2018 lalu. Mengenakan setelan jas hitam dan berpeci, Dwi dilantik langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan.[bersambung]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here