Sepanjang 2017 Rezim Paranoid Mesir Usir 18 Mahasiswa Indonesia

1
116

Nusantara.news, Jakarta – Duta Besar (Dubes) Indonesia di Kairo Helmy Fauzi mempertanyakan pengusiran 18 mahasiswa asal Indonesia oleh pemerintah Mesir. Sebab mahasiswa Indonesia di Mesir umumnya Islam moderat yang pandangannya bertentangan dengan ISIS atau Al-Qaeda.

“Kalau memang alasan ‘keamanan nasional Mesir,’ bahwa mereka terlibat dalam kelompok-kelompok atau kegiatan yang mengarah pada radikal atau ekstrem, kami tidak pernah diberitahu secara rinci. Apa, di mana, dengan siapa mereka berhubungan?” terang Helmy lewat WhatsApp massanger kepada Nusantara.news, Kamis (7/12) pagi ini.

Sinyalemen orang dekat almarhum Taufiq Kiemas itu tidak mengada-ada. Mengutip hasil riset Lowy Institute dan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pada 2016 justru menyebutkan, sebagian besar mahasiswa Indonesia di Mesir adalah Muslim moderat yang berlawanan dengan kelompok radikal seperti ISIS.

Tak pelak lagi, Nava Nuraniyah, seorang peneliti IPAC menuding, pemerintah Mesir melabeli mahasiswa Indonesia dengan cap teroris untuk kepentingan politik mereka sendiri. “Di Mesir, ada yang oposisi pakai jargon Islam sering dianggap teroris karena dia oposisi. Jadi pelabelan teroris di Mesir agak bias,” beber Nava.

Mulai April tahun ini dan diperpanjang lagi pada 13 Oktober hingga Desember, Mesir memberlakukan kondisi darurat di negaranya. Sejak itu tercatat puluhan mahasiswa asal Indonesia terjaring razia dan 18 di antaranya dideportasi. Terakhir kali, pada November 2017 tercatat 5 mahasiswa ditangkap. Empat orang dideportasi, seorang lagi, Muhammad Fitrah Nur Akbar, dijebloskan ke penjara.

Tanpa Panduan

Dubes Helmy memastikan  Muhammad Fitrah Nur Akbar ditangkap saat razia warga negara asing bukan pendatang gelap. Dokumennya lengkap. “Dia memiliki paspor Indonesia dan izin tinggalnya masih berlaku,” tandas Helmy.

Tidak adanya keterangan rinci dari pemerintah setempat, lanjut Helmy, membuat mahasiswa asal Indonesia itu mencari sendiri “guru-guru spiritual” yang mengajari mereka ilmu agama. Padahal kegiatan mencari guru ngaji itu sudah biasa dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia dan negara lainnya untuk menambah pengetahuan agama.

“Ada mahasiswa yang belajar dengan syekh yang tidak terafiliasi dengan Universitas Al Azhar. Dan dianggap itu adalah kegiatan yang membahayakan kepentingan nasional Mesir. Mereka dituduh berhubungan dengan kelompok radikal atau ekstrem,” ungkap Helmy.

Sebut saja misal, sebut Helmy, penangkapan mahasiswa asal Indonesia di Kota Samanoud. “Mereka berguru kepada syekh-syekh atau ulama-ulama yang tidak sejalan dengan mazhab Al Azhar,” sebut Helmy, merujuk pada ajaran Salafi.

Hal senada diungkap oleh Ketua Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir Pangeran Arsyad. “Aparat Mesir sering melakukan razia untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penyusupan,” ujarnya.

Mereka ditangkap aparat dan dideportasi, lanjut Pangeran, bukan karena menjadi anggota jaringan terorisme. Melainkan karena dalam waktu yang tidak tepat berada  di daerah oposisi yang diawasi secara ketat oleh pemerintah.

Kawasan yang dihuni banyak oposisi, sebut Pangeran, antara lain Kota Samanoud yang banyak dihuni kaum Salafi. Hal itu juga dibenarkan oleh Khatib Syuriah PBNU Taufiq Damas yang juga alumni Universitas Al-Azhar, Mesir. Bahkan seorang rekannya, terang Taufik, ditangkap oleh aparat keamanan Mesir karena dituding terlibat gerakan radikal.

“Pengaruhnya belum terlalu jauh, tapi sudah terdeteksi oleh intelijen era Presiden Hosni Mubarak. Pengawasan di sana sangat ketat, sehingga teman yang baru diindikasikan bergaul dengan orang Mesir yang radikal, sudah diciduk oleh pihak keamanan Mesir,” kenangnya. Sebagaimana diberitakan oleh BBC.

Stigma Teroris

Merujuk hasil riset lembaga kajian Lowy Institute dan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pada 2016, disimpulkan bahwa sebagian besar dari hampir 5.000 mahasiswa Indonesia di Mesir adalah Muslim moderat yang justru berlawanan dengan ideologi kelompok ISIS.

Nava Nuraniyah, peneliti IPAC menyebut, tidak memungkiri adanya mahasiswa asal Indonesia yang “teracuni” faham radikal. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Sebut saja misal mahasiswa bernama Wildan Mukhollad yang bertempur ke Suriah membela ISIS.

Namun kasus Wildan, tegas Nava, sangat langka dan tidak bisa digunakan oleh pemerintah Mesir menggeneralisir ribuan mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Mesir. “Secara garis besar, mahasiswa Indonesia di Mesir adalah moderat,” ujarnya.

Dengan adanya pendeportasian 18 mahasiswa Indonesia sepanjang tahun 2017, Nava mengingatkan untuk mencermati kasus mereka satu demi satu. “Kalau misalnya ada yang teradikalisasi, dilihat dulu kelompoknya. Apakah Ikhwanul Muslimin, Salafi, atau ISIS?”

Sebab pemerintah Mesir, tuding Nava, acap kali menggunakan stigma teroris untuk kepentingan politik praktis. “Misal ada kaum opisisi yang menggunakan jargon Islam, orang ini langsung dituding teroris,” imbuh Nava.

Mengutip data dari KBRI di Kairo hingga Oktober 2017 tercatat ada 7.594 warga negara Indonesia bermukim di Mesir. Di antara jumlah itu tercatat 4.975 berstatus mahasiswa. Karena memang Al-Azhar dan perguruan tinggi di Mesir lainnya masih menjadi rujukan favorit bagi sejumlah lulusan pesantren, MAN atau SMA untuk melanjutkan pendidikannya.[]

1 KOMENTAR

  1. Wah, paranoidnya kebablasen … klu pendidikan dikait2kan dng gerakan terorisme akan kian banyak penangkapan nanti …

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here