Seperlima PDB Industri Nasional Berasal dari Jawa Timur

0
153

Nusantara.news, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat kontribusi terhadap sektor industri secara nasional hingga akhir 2016 masih cukup menjanjikan.  Berdasarkan data yang ada, kontribusi dari Jawa Timur mencapai 20,57 persen dari total kontribusi PDB industri secara nasional. Ini berarti Jawa Timur menyumbang sebesar 1/5 dari total PDB Indonesia. Fakta ini telah menempatkan posisi Jawa Timur sebagai penyangga terpenting dalam industri nasional.

Terkait dengan kontribusi Jatim sebesar 20,57% dari PDB nasional, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf angkat bicara. Ia menyatakan,  kontribusi terbesar sektor industri dari Jawa Timur masih dikuasai sektor makanan dan minuman yang kontribusinya mencapai 30,13 persen terhadap industri dalam skala nasional.

“Kedepan akan diupayakan bisa ditingkatkan agar kontribusinya semakin besar. Sektor lain juga akan menjadi fokus tim ekonomi kita (Pemprov Jawa Timur) di tahun 2017 nanti,” kata Saifullah Yusuf  terkait evaluasi akhir tahun kinerja perekonomian Jawa Timur di penghujung tahun 2016.

Ditambahkan, selain sektor makanan dan minuman, sektor pengolahan tembakau juga masih menyumbang secara signifikan terhadap sektor industri secara nasional dengan porsi mencapai 37,26 persen. Bahkan khusus untuk Jawa Timur cukai rokok menyumbang PAD provinsi sebesar Rp1,6 triliun untuk tahun 2016.

Sektor lain yang juga masih tinggi sumbangannya terhadap PDB sector industri adalah industri pengolahan kayu yang mencapai 24 persen, kemudian disusul dengan industri kimia dan farmasi dengan sumbangan sebesar 8,40 persen.‎ Sementara untuk sektor industri pengolahan memberi sumbangan sebesar 5,31 persen dan industri kertas menyumbang 5 persen.

“Beberapa langkah sudah kami siapkan untuk meningkatkan kinerja sektor industri,” lanjut Gus Ipul.  Langkah itu di antaranya adalah dengan mendorong adanya pembiayaan murah tak hanya untuk industri besar, melainkan juga untuk sektor UMKM dengan suku yang dipangkas hingga di bawah 10 persen.  “Kita selalu kalah bersaing dengan negara lain karena suku bunga kredit kita masih terlalu tinggi,” kata Gus Ipul.

Sebagian besar bahan baku penopang industri di Jawa Timur masih didatangkan dari luar negeri. Tujuh puluh Sembilan persen bahan baku masih mengandalkan impor. Persoalan ini, menurut Gus Ipul, juga akan dicarikan solusinya dengan cara memaksimalkan bahan baku dalam negeri.

Di sisi lain, perusahaan besar maupun UMKM akan didorong untuk melakukan revitalisasi mesin dan peralatan produksi agar kualitas produk dari Jawa Timur tidak lagi kalah bersaing. Selain packagingnya yang harus lebih cantik, dengan mesin modern secara otomatis juga akan mampu meningkatkan efisiensi perusahaan yang ujungnya bisa menghasilkan produk massal yang murah dan mampu bersaing. “Khusus untuk sektor UMKM, kami juga akan dorong adanya peningkatan kualitas SDM sehingga kualitas produk UMKM juga akan meningkat,” tambahnya.

Fungsi puluhan kantor perwakilan dagang yang saat ini dimiliki Pemerintah Jawa Timur juga akan lebih dimaksimalkan sehingga mampu menambal defisit neraca perdagangan akibat lesunya perekonomian global. Perwakilan dagang ini sekaligus juga akan menjadi wakil dagang untuk mendukung interkoneksi antar pulau di Indonesia. Selama ini, lanjut Gus, Ipul banyak kapal-kapal antar pulau yang kosong karena tidak adanya pihak yang menjadi agen perdagangan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here