Seperti Pintu Putar, Pejabat Trump Berganti-ganti (2)

0
72
Ilustrasi

Nusantara.news, Washington – Seperti halnya pintu putar (revolving door) – begitu BBC menggambarkan – pejabat Trump berganti-ganti. Setidaknya tercatat 14 pejabat senior setingkat Menteri yang dikabarkan sudah meninggalkan Gedung Putih sejak 1 tahun terakhir.

Terakhir kali Garry Cohn yang kalau di Indonesia menjabat Menteri Koordinator Perekonomian pada Selasa Kliwon (6/3) lalu pamit. Sebelumnya juga ada Hope Hicks, Rob Porter, Andrew McCabe, Tom Price, dan Steve Bannon yang sudah publish di Nusantara.news edisi pagi ini.

Apakah persoalan utamanya? Selain ada pertimbangan ideologi – antara Protectionist Vs Globalist – seperti halnya antara Trump dan Garry Cohn, atau antara Jared Kushner (Yahudi) dan Steve Bannon (Anti-Smith) – juga karena sebagian besar dianggap tidak mampu membela posisi Trump dalam tudingan skandal mata-mata Rusia. Nah, berikut ini 8 orang yang dipecat yang sebagian dianggap Trump tidak layak menduduki posisinya.

Anthony Scaramucci

Pejabat setingkat Menteri Komunikasi dan Informasi – atau istilah Gedung Putih Direktur Komunikasi ini – meninggalkan Gedung Putih pada 31 Juli 2017. Padahal Scaramucci sudah mengenal Trump selama bertahun-tahun dan selalu membelanya dalam wawancara di stasiun televisi tatkala ada pemberitaan yang menyudutkan presiden yang berlatar-belakang pengusaha properti ini.

Tapi di tempat kerjanya, Scaramucci terlibat konflik yang hebat dengan Kepala Staf Presiden Reince Priebus. Dia menuding Priebus harus bertanggung-jawab terhadap kebocoran informasi di sekitar Gedung Putih. Selanjutnya Scaramucci menyerang Priebus dan Steve Bannon dengan kata-kata kasar yang menyebar luas setelah ditelepon wartawan New Yorker.

Meskipun terkesan “menjilat” Presiden, akhirnya Scaramucci yang karakternya “sumbu pendek” itu dipecat oleh Trump. Sejumlah informasi dari dalam Gedung Putih menyebut, John Kelly – seorang perwira Angakatan Darat AS – yang dibidik menjabat Kepala Staf Presiden (KSP) merasa tidak nyaman dengan keberadaan Scaramucci. Maka Scaramucci pun lengser dari jabatannya seiring dilantiknya John Kelly menjadi KSP – menggantikan Priebus.

Rience Priebus

Ternyata Priebus terlebih dulu dipecat oleh Trump pada 28 Juli 2017. Mantan Ketua Komite Nasional Partai Republik – kalau di Indonesia setingkat ketua umum partai – adalah satu di antara “veteran partai” yang mendapatkan peran penting di Gedung Putih namun dianggap gagal menjalankan tugas “menjaga kewibawaan” presiden.

Sejak menduduki jabatan KSP, Priebus seakan terombang-ambing dalam pusaran persaingan di antara orang-orang Trump. Kekuatan-kekuatan yang bersaing dengannya – antara lain Ivanka Trump putri presiden dan suaminya Jared Kushner.

Trump tidak ingin ada gejolak di tubuh pemerintahannya dan oleh karenanya mengangkat pensiunan jenderal – John Kelly – untuk menggantikan posisinya. Pengumuman pemecatan terjadi setelah Partai Republik yang pernah dipimpinnya gagal mengesahkan rancangan Undang-Undang Kesehatan untuk menggantikan Obama Care.

Trump lebih memilih seorang jenderal ketimbang operator partai yang dia nilai sering bersifat mendua.

Sean Spicer

Sekretaris – kalau di Indonesia setingkat menteri – urusan Pers itu meninggalkan Gedung Putih pada 21 Juli 2017. Spicer dianggap gagal menjalankan tugasnya saat pelantikan Trump ternyata lebih banyak dihadiri para demonstran ketimbang para pendukung yang berbagi kemenangan. Kenyataan ini sangat njomplang apabila dibandingkan pelantikan Obama saat pertama kali dilantik menjadi presiden.

Terlebih peristiwa itu diparodikan di acara “Saturday Night Live”. Presiden Trump tidak nyaman dengan kenyataan itu.

Toh Trump tidak segera memecatnya. Melainkan hanya mengalih-tugaskan sejumlah perannya ke Scaramucci yang memang sering berada di sekitar Trump. Tampaknya pengalihan sebagian tugas itu tidak membuatnya enjoy. Maka dia pun menulis surat pengunduran dirinya ke presiden. “Terlalu banyak koki di dapur,” ucapnya.

James Comey

Pemecatan Trump paling fenomenal adalah ketika dia memberhetikan dengan tidak hormat Direktur Federal Bureau Investigation (FBI) James Comey.  Pria paruh baya ini memainkan peran dramatis dan kontroversial saat dia mengumumkan – seminggu sebelum pemungutan suara – akan membuka kembali penyelidikan ke server email pribadi Hillary Clinton yang diduga telah diretas oleh mata-mata Rusia.

Comey dikritik dari berbagai sisi. Demokrat menganggap waktunya tidak tepat. Sedangkan Partai Republik menyoal masalah pembiayaan penyelidikan yang diajukan. Trump juga merasa tidak nyaman karena Comey memimpin sendiri penyelidikan dugaan skandal kampanye Presiden oleh Rusia yang diduga memenangkan Trump.

Michael Flynn

Menteri Koordinator Politik dan Keamanan – istilah Indonesia – ini secara teknis memang menulis pernyataan pengunduran diri pada 14 Februari 2017. Namun dia melakukan itu atas perintah presiden.

Kepergian Flynn tampaknya berkait dengan skandal mata-mata Rusia – di mana dia dituduhkan menyeret sejumlah pejabat Gedung Putih – termasuk di dalamnya Wakil Presiden – atas kontrak yang ditanda-tanganinya dengan Duta Besar Rusia Sergei Kislyak.

Flynn dikabarkan telah membahas sanksi AS terhadap Rusia dengan Kislyak pada era transisi – atau sebelum Trump dilantik menjadi presiden. Tindakan Flynn yang berhubungan dengan Rusia – ketika itu masih berstatus swasta – dianggap illegal.

Sally Yutes

Perempuan ini hanya memegang Jabatan selama 23 hari di Gedung Putih. Pada 31 Januari Trump memecat Yutes setelah dia menanyakan legalitas perintah eksekutif presiden atas larangan terbang ke AS kepada tujuh negara berpenduduk muslim. Yutes memang pejabat terakhir yang ditunjuk Obama menjadi Jaksa Agung.

Gedung Putih menyebut Yutes telah mengkhianati Departemen Kehakiman (DoJ/Department of Justice) AS dengan menolak untuk menegakkan sebuah perintah hukum yang dirancang untuk melindungi warga negara Amerika Serikat.

Yutes juga dianggap tidak concern dengan masalah penanganan perbatasan dan penghapusan pendatang illegal (reformasi imigrasi).

Preet Bharara

Jabatan lebih singkat – hanya 10 hari – juga dialami Jaksa Federal New York Preet Bharara yang dipecat pada 11 Maret 2017. Saat Gedung Putih berganti penguasa bukan hal aneh apabila Jaksa Penuntut Umumnya juga ikut diganti. Tapi Bharara diberitahu secara khusus oleh administrasi Trump akan meneruskan jabatannya.

Saat dipecat, Bharara memang sedang menyelidiki kasus pelecehan seksual tingkat tinggi – termasuk tuduhan pelecahan seksual di Fox News Trump. Akhirnya Bharara dan 46 jaksa lainnya diminta mengundurkan diri – diduga karena begitu bersemangat menyelidik kasus pelecehan seksual yang diduga melibatkan presiden.

Paul Manafort

Dia adalah pejabat politik Partai Republik yang sudah malang melintang dengan bidangnya. Tercatat dia sudah menjabat tujuh tahun tujuh bulan di era sebelumnya – dan baru dua bulan di era Trump saat mantan Manajer Kampanye Trump ini dipecat pada 19 Agustus 2017.

Kini Manafort menghadapi dakwaan dari Penasehat Khusus Departemen Kehakiman Robert Mueller telah menerima pembayaran tunai rahasia dari Partai Politik di Ukraina yang pro-Rusia saat berlangsugnya Pemilu Presiden Amerika Serikat.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan, selain ada masalah ideologi – Protectionist Vs Globalist, Supremasi Kulit Putih Vs Yahudi – pemecatan sejumlah Pejabat Trump di Gedung Putih juga ada yang menyangkut penyelidikan skandal mata-mata Rusia – di samping juga adanya persaingan di antara punggawa yang sebelumnya merasa lebih berperan dalam pemenangan Trump.

Gejala yang terakhir itu juga terlihat dalam Tim Kampanye Presiden Joko Widodo yang sudah mengorbankan punggawa-punggawa awalnya seperti Andi Wijayanto, Sudirman Said, Anis Baswedan dan lannya.

Maka siapa pun Presiden terpilih pada 2019 nanti perlu dibekali kemampuan pengelolaan konflik yang memadahi – agar kejadian yang potensial memicu “political unrest” seperti di AS itu tidak terjadi di Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here