September Kelabu, Rupiah Harap-Harap Cemas

0
113
Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku telah menyiapkan langkah-langkah taktis dan strateig menghadapi kenaikan bunga Fed Fund Rate pada September dan Desember 2018.

Nusantara.news, Jakarta – Bank Sentral AS, The Federal Reserve diagendakan akan menaikkan suku bunga pada September dan Desember 2018. Tentu saja kebijakan ini diprediksi akan membuat nilai tukar rupiah dan IHSG melemah kembali.

Sebagaimana diketahui, saat awal tahun The Fed mengumumkan akan menaikkan suku bunga guna memacu perekonomian Amerika, rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah signifikan. Rupiah yang di awal tahun masih bertengger di posisi Rp13.300-an, per hari ini sudah melemah ke level Rp14.619.

Sementara IHSG yang awal tahun berada di posisi 6.689, awal pekan ini terkoreksi ke 5.975. Bahkan IHSG sempat tertekan signifikan ke level 5.600 pada Juni 2018.

Pelemahan rupiah tersebut sudah ditopang oleh kenaikan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak 5 kali tahun ini dari posisi 4,25% menjadi 5,5%. Ditambah pula intervensi Bank Indonesia berkali-kali, sehingga cadangan devisa yang pada awal tahun masih di kisaran US$132 miliar, anjlog US$13,69 miliar (ekuivalen Rp199,87 triliun) menjadi US$118,31 miliar.

Bayangkan kalau tidak ada kenaikan suku bunga acuan dan intervensi BI, boleh jadi rupiah bisa menembus level Rp15.000 per dolar AS.

September kelabu

Itu sebabnya, dengan rencana kenaikan bunga Fed Fund Rate (FFR) pada September dan Desember tahun ini, akan menjadi ancaman serius. Boleh jadi bulan September 2018 akan menjadi September kelabu, karena pada saat itu diperkirakan rupiah akan melemah kembali.

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS sejak September 2017 hingga Juni 2018 menunjukkan pelemahan yang signifikan dan konsisten. (Sumber: XE Currency)

Menurut Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira, yang membuat nilai tukar rupiah lemah karena bakal ada pengalihan aset berdenominasi dolar AS dari negara berkembang ke negeri Paman Sam menyusul kenaikan bunga FFR.

Dia menjelaskan, capital reversal atau arus pembalikan modal yang rentan terjadi baik di pasar surat utang maupun saham mulai terjadi. Indikatornya mulai terlihat dari pelebaran selisih marjin (yield spread) antara US treasury bond dan Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun.

Dengan kondisi ini rupiah diperkirakan terdepresiasi hingga level Rp14.800 pada akhir September 2018. Ditambah kenaikan bunga FFR pada Desember 2018, maka rupiah berkemungkinan tembus Rp15.000 per dolar AS.

Bahkan dirinya memprediksi nilai tukar rupiah akan berada di level yang lebih mengkhawatirkan jika BI  tidak melanjutkan kenaikan bunga acuan sebagai langkah antisipasi penyesuaian.

 Sementara itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony A Prasetiantono mengatakan harus ada sentimen positif agar bisa menyelamatkan nilai rupiah dari pelemahan.

Misalnya kinerja ekspor yang positif (surplus), cadangan devisa naik, capital inflow membaik. Nyatanya kondisi neraca perdagangan per semester I 2018 defisit sebesar US$5,5 miliar, bahkan Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi total defisit transaksi perdagangan hingga akhir tahun bisa mencapai US$25 miliar.

Sementara cadangan devisa kita sejak Januari hingga Juli sudah menurun hingga US$13,69 miliar. Artinya potensi cadangan devisa terkuras lagi makin besar

Disamping itu, sampai Juni 2018, total capital outflow yang terjadi sudah mencapai Rp48 triliun. Boleh jadi hingga Desember 2018 total capital outflow bisa mencapai Rp100 triliun sebagai dampak kenaikan FFR oleh Federal Reserve.

Apalagi Federal Open Market Committee (FOMC)—komite tertinggi di Federal Reserve—memastikan bulan September dan Desember 2018 akan ada rapat kenaikan bunga FFR. Dengan demikian potensi rupiah melemah kembali semakin tinggi.

Para analis meramalkan bahwa FFR akan berada di level 3,25% pada tahun 2019. Artinya, masih perlu lima kali naik, tahun ini 2 kali lagi naik, dan tahun depan 3 kali lagi, setiap kali naik pasti 25 basis poin.

Langkah BI

Lantas langkah apakah yang akan ditempuh BI dengan rencana kenaikan FFR pada September dan Desember 2018?

Seperti diketahui BI telah meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,25%. Kenaikan diharapkan bisa meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas aman.

Namun, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tercatat masih di kisaran Rp14.614. Sementara itu dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada pagi hari dolar tercatat Rp14.619.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan pelemahan rupiah tersebut terjadi karena tekanan terhadap rupiah dari global masih cukup besar.

Suku bunga yang kita naikkan itu sudah relatif membantu dari mengurangi pelemahan yang lebih dalam untuk rupiah. Memang kita tidak bisa melihat langsung dampaknya, tapi ada sinyal positif dan itu sudah diterima pasar.

Dia menyebutkan pasar keuangan menerima sinyal tersebut dan investor asing juga memberikan respons dan apresiasi dengan langkah yang diambil oleh pemerintah dan BI. “Memang ada tekanan besar dari eksternal dan kita tetap ada untuk menjaga di pasar melalui kombinasi intervensi secara gradual,” demikian Dody menjelaskan.

 Namun jika depresiasi tersebut terjadi di luar struktur fundamental, maka BI akan melakukan intervensi untuk menstabilkan. Menurut Dody, saat ini, intervensi yang dilakukan sudah sesuai dengan mekanisme pasar. Saat ini nilai tukar rupiah sudah berada di bawah fundamentalnya.

Sementara Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa BI telah mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed sebanyak empat kali pada tahun ini dari yang sebelumnya diproyeksi BI sebanyak tiga kali.

“Kami cermati perkembangan terakhir kemarin dari The Fed bahwa probabilitas tahun ini empat kali naik itu lebih besar sementara sebelumnya kami probabilitas itu tiga kali. Itu satu perkembangan baru,” demikian Perry.

Oleh karena itu, Perry menegaskan, BI siap untuk melalukan langkah-langkah kebijakan yang pre-emptive untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia, khususnya nilai tukar rupiah.

“Dengan mempertimbangkan arah perubahan keb dari bank sentral negara lain baik The Fed maupun ECB yang perkembangan yang baru,” jelasnya.

Sedangkan Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, bahwa kenaikan suku bunga The Fed sudah sesuai ekspektasi pasar selama ini, yakni empat kali.

“Kini sudah mengmonfirmasi kenaikan suku bunga The Fed jadi empat kali tahun ini. September dan Desember akan naik lagi,” kata Mirza.

Tapi langkah-langkah yang dilakukan BI, baik itu menaikkan suku bunga berkali-kali dan melakukan intervensi di pasar uang dan pasar utang, sebenarnya sudah mengantisipasi potensi kenaikan bunga FFR pada September dan  Desember 2018 nanti.

Itu sebabnya, apapun yang akan terjadi pada September dan Desember 2018 adalah konsekuensi kebijakan hari ini. Termasuk kebijakan berutang sekitar Rp30 triliun untuk pembangunan infrastruktur dan perhelatan Asian Games 2018, sedikit banyak akan makin memperlemah nilai tukar rupiah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here