AS Dukung Kebijakan Satu Cina

Sepucuk Surat Donald Trump untuk Xi Jinping Cairkan Kebekuan

0
92
Foto: dailycaller.com

Nusantara.news, Beijing/Washington – Setelah lama ditunggu-tunggu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya berkomunikasi dengan Presiden Cina Xi Jinping. Komunikasi dinilai mencairkan hubungan antar dua negara kekuatan besar dunia itu, yang beberapa waktu sempat tegang akibat Trump, presiden AS yang baru kerap melontarkan pernyataan menyinggung Cina.

Sudah lebih dari 20 kepala negara dihubungi Donald Trump sejak dia terpilih dan dilantik sebagai Presiden AS. Tapi dengan pemimpin Cina, Trump melewatkannya. Malah, Presiden Taiwan lebih dulu dijalin kontaknya. Jika yang tidak dihubungi Trump bukan Cina, mungkin tidak akan menjadi pertanyaan. Tapi ini adalah Cina, kekuatan besar lain di dunia selain AS. Tentu banyak pihak khawatir jika ketegangan kedua negara ini meningkat.

Tapi semua kekhawatiran itu sedikit mereda, Trump menelepon Presiden Cina Xi Jinping pada Kamis malam (9/2) waktu setempat setelah sehari sebelumnya mengirimkan sepucuk surat ucapan Selamat Tahun Baru Cina. Trump menyatakan bahwa AS akan menghormati kebijakan “Satu Cina”. Ini meredakan ketegangan Cina-AS sebelumnya, tak lama setelah Trump terpilih, dimana sikap dan pernyataan Trump membuat Cina beberapa kali menunjukkan kemarahan.

Gedung Putih memberi pernyataan bahwa Trump dan Xi membahas berbagai topik. Trump setuju atas permintaan Xi untuk menghormati kebijakan “Satu Cina”. Pembicaraan digambarkan berlangsung hangat, dan kedua pemimpin saling mengundang untuk berkunjung.

“Ini merupakan langkah penting,” kata Bonnie Glaser, penasihat senior di Pusat Studi Strategis Asia dan Internasional di Washington, DC . “Sekarang akan membuka jalan bagi keterlibatan pemerintah AS dan Cina terhadap berbagai isu,” tambah Glaser sebagaimana dilansir nytimes (10/2).

Xi beberapa kali mengungkapkan kemarahan terhadap AS, dia marah saat Presiden Trump menelepon Presiden Taiwan pada Desember 2016, disusul pernyataan Trump berikutnya bahwa AS mungkin tidak akan lagi mengikuti konsep kebijakan “Satu Cina”. Sejak Trump terpilih Presiden Xi belum melakukan pembicaraan dengan Trump.

Para pejabat Cina menyimpulkan bahwa Xi hanya akan melakukan pembicaraan dengan AS jika Trump berkomitmen menegakkan kebijakan “Satu Cina” yang telah berjalan selama 44 tahun, dimana AS hanya mengakui pemerintah Cina di Beijing, serta memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Media berita negara Cina menyebutkan, dalam pembicaraan antara Trump dan Xi, kedua pemimpin telah sepakat pada kebutuhan dan urgensi untuk memperkuat kerja sama antara Cina dan AS. Media mencatat, bahwa Beijing dan Washington ingin bekerja sama dalam berbagai isu termasuk ekonomi dan perdagangan, ilmu pengetahuan, energi, komunikasi dan stabilitas global.

Meski demikian, bukan berarti hubungan Cina-AS tidak menghadapi tantangan. Setelah pembicaraan hangat antar kedua negara, Cina harus tetap waspada dan menaruh curiga terhadap Jepang. PM Jepang Shinzo Abe melakukan pertemuan dengan Trump dalam kunjungan tiga hari ke AS sejak Jumat (10/2), termasuk agenda akhir pekan untuk bermain golf di Florida.

Kunjungan tersebut tentu saja akan menjadi perhatian Cina, Cina pasti akan mengawasinya secara ketat. Sebab di antara isu-isu yang akan dibicarakan Trump dan Abe adalah soal komitmen presiden AS itu terkait pertahanan bersama dengan Jepang. Pada saat kampanye, Trump pernah mengatakan akan menarik perjanjian pertahanan, kecuali Tokyo ‘melakukan lebih banyak’ untuk AS untuk membela wilayah Jepang.

Dalam pertemuan dengan Abe Trump menegaskan kembali dukungannya terhadap perjanjian pertahanan di Jepang, menindak lanjuti kunjungan Menteri Pertahanan Jim Mattis ke Tokyo pekan lalu yang membuat pernyataan soal pengamanan pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Timur, yang dikenal di Jepang sebagai Senkaku dan di Cina sebagai Diaoyu.

Hubungan antara Washington dan Beijing telah membeku sejak Desember 2016, ketika Trump menerima panggilan telepon ucapan selamat dari Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. AS tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan sejak tahun 1979, dan Trump membela Taiwan dengan mengatakan dia tidak tahu kenapa AS harus terikat oleh kebijakan Satu Cina.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Desember 2016, Trump mengatakan bahwa sikapnya terhadap kebijakan Satu Cina tergantung pada negosiasi dengan Beijing.

“Kami sedang terluka oleh Cina dengan devaluasi; dengan masalah perbatasan ketika kita tidak memungut pajak mereka; dengan sebuah benteng besar di tengah Laut Cina Selatan, yang seharusnya tidak mereka lakukan; dan, terus terang, dengan mereka tidak membantu kami sama sekali di Korea Utara,” katanya. [ ] (disarikan dari nytimes)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here