Serakah Bongkar Masjid, Pemimpin Surabaya Perlu ‘Dikafani’

0
149
Aktivis pemuda Surabaya shalat berjamaah di puing-puing masjid Assakinah yang dibongkar Pemkot Surabaya.

Nusantara.news, Surabaya – Polemik pembongkaran bangunan masjid Assakinah di Kompleks Balai Pemuda, Surabaya, belum berakhir. Setelah Gerakan Pemuda (GP) Ansor memprotes keras pembongkaran masjid, giliran Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) yang mempertanyakan agenda ‘terlarang’ tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, para pemuda Surabaya ini menggelar aksi dengan menyalakan lilin selama 7 hari di bekas puing-puing masjid. Namun sebelum itu, mereka secara bergotong-royong membersihkan pelataran masjid untuk digunakan shalat berjamaah. Aksi ini juga ditandai dengan doa dan tahlil sebagai bentuk keprihatinan matinya jiwa pemimpin Surabaya.

“Pemimpin kita sudah mati jiwanya. Membongkar masjid demi urusan duniawi. Keserakahan mereka harus kita kafani agar tidak terulang lagi,” ujar Isa Anshori kepada Nusantara.News, Selasa (7/11/2017).

Isa juga mengomentari pernyataan ketua DPRD Kota Surabaya, Armuji yang menyebut persoalan pembongkaran itu tak dibesar-besarkan karena tidak bertujuan menghilangkan tempat ibadah, namun untuk keperluan pembangunan masjid yang lebih besar dan megah.

Politisi PDIP tersebut meminta masyarakat jangan membesar-besarkan hal tersebut. Sebab dikhawatirkan, jika masalah ini terus dibesar-besarkan, kemudian disangkutpautkan dengan isu agama. Kalaupun kemarin sempat menjadi bahan permasalahan, itu lantaran dibongkarnya masjid Assakinah belum disertai dengan alternatif tempat ibadah pengganti.

“Saya bilang itu bodoh. Kalau memang ada alternatif atau relokasi masjid, saya minta ditunjukkan gambarnya seperti apa. Buktinya dewan tidak bisa menunjukkan. Apa masyarakat mau dibohongi lagi,” seru Isa.

Diberitakan sebelumnya, masjid DPRD Surabaya dibongkar karena akan ada proyek ‘gajah’ miliaran rupiah yang akan dibangun Pemkot Surabaya. Rencananya Pemkot akan membangun gedung baru DPRD Surabaya 8 lantai. Anggaran menghabiskan Rp 59 miliar. Tentunya dengan beberapa fasilitas bagi anggota dewan di antaranya, ruang bagi masing-masing anggota dewan, ruang komisi dan fraksi.

Dengan mengorbankan masjid, Isa mengatakan klaim para wakil rakyat akan membangun tempat ibadah yang baru justru diragukan. Sebagian anggota DPRD bilang masjid Assakinah nantinya ditempatkan di dalam bangunan gedung DPRD yang baru.

“Ini makin ngawur. Masa masjid di dalam gedung. Filosofinya masjid itu berdiri sendiri. Ada tempat sholat. Ada adzan menggunakan toa. Ada sholat jamaah, termasuk sholat Jumat. Kalau dewan menempatkan masjid di dalam gedung, itu namanya membangun ibadah lain. Itu sama saja dengan musala, bukan masjid,” urainya.

Isa menyayangkan kurang pedulinya masyarakat terhadap perobohan masjid Assakinah. Peran umat tidak ada alias mati. Mereka (umat) hanya ada ketika ulama dihina. Habib Rizieq dihina semua pada turun ke jalan. Tapi ketika rumah Tuhan dirobohkan, semua pada diam.

Pemuda, tukang becak, ibu rumah tangga, tokoh kampung, anak-anak, pensiunan tentara, bergotong royong membersihkan reruntuhan masjid.

“Kita ini rakyat yang melawan perobohan. Kita berharap Ansor dan Muhammadiyah akan menggema lagi. Begitu juga dengan ormas-ormas Islam lain, kalian jangan diam saja. Ini lho, rumah Tuhanmu dihancurkan. Cara diam kalian menunjukkan kalau kalian terlalu lama bergaul dengan kekuasaan. Sehingga masalah umat terabaikan,” sindir Isa.

Isa menambahkan, pihaknya tidak anti pemerintah. Bahkan KBRS sangat mendukung adanya pembangunan. Namun pembangunan yang dimaksud haruslah jelas. “Kalau Risma mau bangun, kita bantu. Masjid dibangun kita bantu. Jangan kemudian saat kita kritik, mereka malah memusuhi. Kita tidak memusuhi pemerintah, kita melawan kebijakan yang salah. Baik untuk mereka belum tentu baik untuk rakyat,” imbuhnya.

Pembongkaran masjid Assakinah disinyalir tanpa melalui prosedur yang jelas. Pihak KBRS mendapat info hingga saat ini belum ada pemenang tender untuk pembangunan gedung DPRD 8 lantai. Tapi masjid sudah dibongkar. Ini menunjukkan jika pemimpin Surabaya tidak peka terhadap persoalan.

Pemerintah Menghapus Jejak Sejarah

Selama berdiri, masjid Assakinah memiliki sejarah panjang. Tahun 1993, lokasi masjid berada di sisi timur sebelah utara komplek Balai Pemuda. Masjid itu dibongkar dan dipindahkan ke sisi barat, karena Walikota Surabaya ketika itu Sunarto Sumoprawiro bermaksud membangun Gedung Pemuda yang menghadap ke Jl. Yos Sudarso.

Gedung Pemuda itu terbengkelai karena sponsor pembangunan gedung itu yaitu Surabaya Post membatalkan kerjasamanya dengan Pemkot. Tetapi masjid Assakinah sudah berdiri di sisi barat komplek Balai Pemuda.

Tahun 1996 bangunan yang terbengkalai itu dirobohkan setelah Pemkot mengubah rencananya dengan membangun Gedung DPRD Kota Surabaya. Masjid Assakinah yang sudah berdiri megah ikut dirobohkan, tanahnya digunakan untuk untuk parkir dan rumah jenset DPRD.

Sebelum kantor DPRD berdiri, masjid pengganti sudah berdiri yaitu di atas tanah yang sekarang dipakai untuk masjid Assakinah, lokasinya berada di sebelah utara Gedung Utama Balai Pemuda. Pada prasasti tertulis, masjid Assakinah diresmikan Walikota Sunarto Sumoprawiro tanggal 4 Juli 1997. Meskipun berdekatan dengan kantor DPRD Surabaya, masjid Assakinah ini bukan bagian dari DPRD Surabaya, melainkan bagian dari Balai Pemuda.

Masjid Assakinah memang letaknya sangat strategis. Berada di tengah kota dengan areal parkir yang luas. Masjid ini digunakan untuk sholat lima waktu yaitu Subuh, Dhuhur, Ashar, Mahgrib dan Isya. Jamaah berasal dari berbagai kalangan antara lain anggota dan staf DPRD Surabaya, seniman, para pelajar SMAN 6, serta masyarakat luas.

Setiap hari Jumat, masjid ini digunakan untuk shalat Jumat dengan jamaah yang melimpah hingga ke halaman samping.  Karyawan hotel dan perkantoran serta petugas keamanan dan masyarakat senang melakukan shalat Jumat di masjid Assakinah karena parkirnya luas dan terjamin keamanannya.

Hari Jumat tanggal 20 Oktober lalu, sebelum khotib menyampaikan khotbahnya, takmir masjid Assakinah membacakan pengumuman bahwa hari itu adalah shalat Jumat terakhir yang diselenggarakan di masjid Asskinah, karena masjid akan segera dibongkar. Jamaah terkejut. Ini kebijakan yang serampangan.

Aktivis senior Hasanudin Sakera menyebut, pembongkaran masjid Assakinah akibat dari bobroknya pemimpin Surabaya. Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) dan Ketua DPRD Surabaya Armuji sebagai tokoh yang paling bertanggungjawab atas pembongkaran tersebut.

Banyak anggota DPRD Surabaya yang mengaku tidak tahu sama sekali mengenai rencana proyek ini. Mereka menduga, Armuji dan Risma memiliki proyek yang dianggarkan secara diam-diam, tanpa dimusyawarahkan dengan anggota yang lain.

“Mereka (Risma dan Armuji) representasi pemerintah, dan merekalah yang paling bertanggungjawab. Selama kepemimpinan Risma, selama itu pula kearifan lokal tidak pernah dijaga. Bahkan dia terkesan menjauhkan generasi dari fakta sejarah,” tegas Hasanudin.

Aksi keprihatinan aktivis KBRS bersama para seniman Surabaya dengan menyalakan lilin selama 7 hari di reruntuhan masjid Assakinah. Aksi ini ditandai dengan doa dan tahlil sebagai bentuk keprihatinan matinya jiwa pemimpin Surabaya.

Dia mencontohkan, selain masjid dibongkar, ada prasasti di depan Balai Pemuda yang sudah dibongkar terlebih dahulu. Padahal prasasti atau tugu dibangun sebagai bukti sejarah agar diketahui oleh generasi muda. Di prasasti tersebut memang terpampang tulisan Verboden voor honden en inlander yang artinya anjing dan pribumi dilarang masuk.

Di situ ada diskriminasi terhadap rakyat Surabaya yang dilakukan pemerintah kolonial. Maklum, dulunya gedung Balai Pemuda menjadi lokasi dansa untuk para inlander-inlander. Maka, kaum pribumi yang tidak bisa berdansa dilarang masuk. Mereka mensejajarkan derajat pribumi dengan anjing. Dan ketika rakyat berhasil merebut kekuasaan Belanda, penggalan tulisan itu tetap diabadikan untuk menunjukkan fakta sejarah.

Hasanudin sempat menyinggung dihancurkannya rumah radio Bung Tomo di Jalan Mawar 10-12 Surabaya, di mana Risma sama sekali tidak berkutik menghadapi konglomerat-konglomerat. “Di mana posisi Risma saat semua itu dihancurkan? Dia sama sekali tidak peduli. Tidak peduli dengan sejarah, mengaburkan sejarah. Begitu pula dengan nasib masjid Assakinah ini,” sebut Hasanudin.

Risma dan Armuji Paling Bertanggungjawab

Pembongkaran masjid Assakinah ada dalangnya. Siapa? Pemerintah itu sendiri. Dengan menggadaikan akal dan hati nurani, mereka rela menggusur rumah Tuhan. Bahkan, menurut rencana, masjid Assakinah akan direlokasi di lantai bawah tanah (basement) di gedung DPRD 8 lantai.

Koordinator KBRS Wawan Kemplo tampak geram dengan aksi-aksi arogan para penguasa Surabaya. Dia mempertanyakan bagaimana mungkin yang namanya masjid ditempatkan di bawah gedung. “Di mana-mana yang namanya masjid berdiri sendiri. Di setiap institusi masjid berdiri sendiri, baik di Pemprov Jatim maupun Pemkot Surabaya. Ini kok nyeleneh, masjid di lantai bawah,” ujar Wawan.

Wawan tidak segan mengkritik pembangunan gedung DPRD ada indikasi korupsi. Pasalnya, uang senilai Rp 59 miliar itu sangat fantastis. Bila digunakan untuk kepentingan masyarakat, manfaatnya sangat besar. “Untuk proyek sekelas paving saja anggota dewan bisa korupsi, apalagi ini. Bisa dipastikan anggarannya bisa dibuat bancakan,” kritiknya.

KBRS berasumsi, jika gedung DPRD 8 lantai dibangun, nantinya akan ada 50 kamar atau ruang pribadi anggota dewan. “Karena sangat privat itulah, hal-hal buruk bisa terjadi. Kalau mau jujur, seberapa besar sih peran anggota dewan untuk masyarakat Surabaya, nihil,” ungkapnya.

Karena itu Wawan mengajak masyarakat terutama pemuda dan pemudi Surabaya untuk menggelorakan gerakan melawan ketidakadilan yang dilakukan DPRD Surabaya dan Pemkot. Bagaimana pun, status masjid Assakinah masih milik umat. Dalam hal ini pemerintah tidak berhak untuk membongkar atau merobohkan.

Pihak KBRS akan terus melawan. Bentuk perlawanannya beda dengan biasanya, yakni dengan melakukan shalat berjamaah. Meskipun jumlah jamaah hanya lima orang, toh ini tetap bagian dari perjuangan dan doa.

“Untuk hari ini dan seterusnya, gerakan kita berbeda dengan persoalan pada umumnya. Karena yang kita perjuangkan adalah rumah Tuhan. Perlawanan kita lakukan dengan shalat. Kita ingin masjid dibangun lagi meski harus swadaya dari uang rakyat. Karena itu kita tetap beribadah seperti biasanya, shalat, khataman, tahlil, dan ngaji. Puing-puing ini tidak melemahkan semangat kami,” seru Wawan.

Tidak hanya itu, pihak KBRS akan mengundang para seniman se-Surabaya, ormas-ormas Islam, mahasiswa dari PMII maupun HMI untuk duduk bersama melawan pemerintah yang tidak amanah. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan melakukan gugatan terhadap Risma dan Armuji. “Setelah 7 hari tahlilan, kami siap menggelar aksi jalanan dengan melibatkan massa dalam jumlah besar untuk ngeluruk rumah pribadi walikota dan ketua DPRD. Kami akan bawa telur busuk dan tomat busuk. Dalam kerangka hukum, kami melayangkan gugatan secara perdata maupun pidana,” tutupnya.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here