Serangan Jokowi Tak Membuat Prabowo Redup

0
136

Nusantara.news, Jakarta – Dalam debat capres kedua, Minggu (17/2), Jokowi kembali menyerang personal Prabowo. Serangan itu terjadi saat membahas masalah agraria. Prabowo mengkritisi bagi-bagi sertifikat tanah yang dilakukan Jokowi. Untuk membungkam kritik itu, Jokowi memaparkan data kepemilikan ratusan ribu hektare lahan milik Prabowo di Kalimantan dan Aceh tengah.

Calon Presiden nomor urut 02 pun mengakui memiliki lahan ratusan hektare. Namun, lahan yang dikuasai Prabowo merupakan Hak Guna Usaha (HGU) dan milik negara. Prabowo menuturkan, dirinya sangat rela bila tanah itu harus dikembalikan semua ke negara suatu saat nanti. “Kalau untuk negara akan saya kembalikan, tapi daripada diambil oleh asing akan lebih baik saya ambil karena saya patriot,” tegasnya.

Pun demikian, kepemilikan lahan yang disoal Jokowi sebenarnya bukanlah sebuah aib. Tanah itu diperoleh Prabowo dengan cara membeli. Adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla sendiri yang mengklarifikasi keabsahan kepemilikan Prabowo. Kalla mengatakan, sebagai Wapres di era Susilo Bambang Yudhoyono, dialah yang memberi izin penjualan HGU atas lahan 220 ribu hektare di Kaltim itu kepada dengan harga US$150 juta. “Semua sesuai aturan. Mana yang salah?” kata Wapres.

Berbeda dengan Prabowo yang tampak kalem dan tak terpancing, sejumlah anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) segera melancarkan protes ke para komisioner Komisi Pemilhan Umum (KPU) di sela-sela debat lantaran merasa Prabowo diserang secara personal oleh Jokowi. Beberapa anggota BPN yang protes di antaranya Sufmi Dasco Ahmad, Ferdinand, Jansen Sitindaon, Habiburokhman, Putra Jaya Husin, Hashim Djojohadikusumo, Ansufri Idrus Sambo, Priyo Budi Santoso, dan lainnya.

Sebetulnya, pola menyerang Jokowi sudah terlihat sejak debat perdana. Kritik Prabowo selalu dimentalkan kembali oleh Jokowi karena petahana memilih strategi mengalahkan kritik itu dengan meruntuhkan integritas sang pembawa kritik.

Pada debat pertama, Jokowi sempat menyeret kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Ia juga memancing kubu Prabowo-Sandiaga Uno lewat pertanyaan soal caleg eks-koruptor dari Gerindra. Puncaknya saat pidato penutupan Jokowi pada debat perdana. Secara tersirat Jokowi menyindir masa lalu Prabowo yang diduga terlibat dalam penculikan aktivis 1998. “Kami tidak punya potongan diktator atau otoriter. Kami tidak punya rekam jejak melanggar HAM. Kami tidak punya rekam jejak melakukan kekerasan,” ucap Jokowi.

Pola sama diulangi lagi oleh Jokowi pada debat kedua. Jokowi sempat menyebut Prabowo sebagai “orang yang kurang optimis” saat menanggapi isu tata kelola revolusi industri 4.0 bagi sektor pertanian, perikanan, dan peternakan skala kecil, hingga soal kepemilikan lahan.

Lantas, apakah Prabowo akan mudah ‘dimatikan’ dengan serangan-serangan tersebut

Prabowo, Petarung Die Hard!

Sebenarnya, serangan dari Jokowi dan lawan-lawan politik lainnya bukan suatu perkara besar bagi Prabowo: hanya sentilan kecil. Dalam jalan hidupnya, mantan Danjen Kopassus itu sudah akrab terhadap berbagai serangan, fitnah, dan isu-isu yang mencoba meruntuhkan kredibilitasnya. Ia pernah dituduh dalang penculikan aktivis 1998, pelanggar HAM, tidak membayar utang karyawan, hingga diserang soal keislamannya dan kehidupan rumah tangganya.

Pun begitu, tampaknya dada Prabowo tetap lapang dan tak patah arang. Serangan-serangan yang ditujukan kepadanya seolah tak membuatnya redup ataupun tumbang. Ia serupa sosok John McClane (diperankan Bruce Willis) dalam film Die Hard yang susah dimatikan meski kerap terperangkap dalam bahaya, diserang, dan dihempaskan berkali-kali. Tak seperti tokoh-tokoh hero, McClane rentan dan mudah disentuh serta sering harus mengatasi ketakutannya sendiri untuk berhasil.

Barangkali kondisi tersebut nyaris sama dengan jalan politik Prabowo: disingkirkan dari TNI, kalah dalam konvensi Golkar, terhempas dalam tiga kali pemilu, dikhianati oleh orang-orang yang dibesarkannya, ditipu elite politik, hingga harus dilabeli stigma pelanggar HAM, radikal, dan diktator. Namun, sosok yang disebut Gus Dur sebagai orang yang paling ikhlas ini, sepertinya tak punya hasrat mendendam. Ia memulihkan, bangkit, dan membuka jalan sendiri sebelum akhirnya kembali eksis bersama para loyalisnya.

Calon presiden Prabowo Subianto di debat kedua capres yang berlangsung pada Minggu (17/2) malam.

Dan kini, harus diakui Prabowo tergolong salah satu orang paling sukses di negeri ini. Memang, ia belum punya prestasi di pemerintahan, sebab ia belum memegang kekuasaan eksekutif. Namun, prestasi Prabowo di dunia militer, bisnis, organisasi, dan ranah politik, mengundang decak kagum.

Di kancah militer, misalnya, ia mampu menjadi pemimpin korps pasukan elite dan terlibat langsung dalam operasi-operasi besar. Sebutu saja dalam operasi Tim Nanggala di Timor Timur dengan keberhasilan menangkap Xanana Gusmao pada 1992 dan operasi pembebasan sandera Mapenduma yang berhasil membebaskan 10 dari 12 peneliti Ekspedisi Lorentz 95′ dari sekapan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Di masa kepemimpinannya, Kopassus masuk dalam jajaran pasukan elite terbaik dan disegani dunia. Hingga saat ini, sosok Prabowo dikenal sebagai eks-komandan Kopassus yang legendaris.

Tak hanya itu, Prabowo juga kabarnya pernah didaulat menjadi penasihat militer di Yordania dan bersahabat dengan Raja Abdullah II dari Yordania. Keduanya merupakan alumni Fort Benning, sebuah lembaga pendidikan pasukan khusus militer Amerika Serikat. Stanley A Weiss, pendiri lembaga Business Executives for National Security di Washington, Amerika Serikat, mengatakan Prabowo dan Raja Abdullah II adalah murid paling menonjol yang pernah dilatih di Amerika.

Setelah kisruh 1998 pecah, Abdullah yang masih menjadi pangeran menawari Prabowo yang diduga terlibat beberapa kasus penculikan untuk tinggal sementara di negaranya. Bahkan, Abdullah II yang saat itu memimpin Komando Pasukan Khusus Kerajaan Yordania memaksa Prabowo menginspeksi pasukannya. “Di sini Anda tetap Jenderal,” kata Abdullah sambil memeluk Prabowo.

Prabowo pun tersentuh. “Saat saya disingkirkan oleh ABRI, oleh elite politik Indonesia, negeri ini menerima saya dengan baik,” kata dia.

Lepas dari militer, Prabowo masuk ke dunia bisnis. Ia pun kembali sukses. Bisnisnya berkembang dan menempatkannya di deretan orang terkaya negeri ini bersama saudara kandungnya, Hashim Djojohadikusumo. Beberapa perusahaan milik cucu pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI) ini di antaranya: PT Nusantara Energy (bidang kertas dan bubur kertas), PT Tidar Kerinci Agung (bidang kelapa sawit), PT Tanjung Redeb Hutani (bidang kehutanan dan perkebunan), dan PT Batubara Nusantara Coal (bidang pertambangan).

Di ranah politik apalagi. Prabowo, bisa dibilang salah seorang ketua umum partai paling gemilang di negeri ini. Ia berhasil membuat Gerindra menjadi partai terbesar ketiga di negeri ini hanya dalam waktu 12 tahun sejak didirikannya pada 2008 lalu. Bahkan di pemilu pertamanya, Gerindra sudah mengusung cawapres sendiri (Prabowo) mendampingi Megawati.

Pada 2014, tren Gerindra semakin meningkat. Tidak hanya bisa mengusung Prabowo sebagai capres dengan dukungan banyak partai, tapi juga berhasil finish di posisi ketiga setelah PDIP dan Golkar yang merupakan partai tua. Saat ini, sejumlah hasil survei bahkan menempatkan elektabilitas Gerindra di urutan kedua dari 20 partai lain peserta pemilu.

Jika dibandingkan dengan partai-partai bentukan mantan tentara yang lainnya, Gerindra termasuk paling moncer. Partai lain yang digawangi purnawirawan jenderal: PKPI masih jadi partai gurem (bahkan tak punya suara di parlemen), Hanura diambang ‘keruntuhan’ dan sempat dilanda konflik besar di internal, Partai Demokrat cenderung turun pamor selepas SBY tak lagi menjadi presiden.

Sementara di jalur organisasi, kepemimpinan Prabowo juga gemilang. Ia pernah memimpin Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) dan sekarang masih menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Pada Asian Games 2018 yang baru lalu, kontingen pencak silat Indonesia di bawah kepemimpinan putra dari ‘begawan ekonomi’ Sumitro Djojohadikusumo ini, menyumbang hampir seluruh medali emas. Barangkali raihan tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah bangsa ini: menyabet belasan medali lewat satu cabang olahraga.

Kembali ke konteks serangan Jokowi dalam debat, boleh jadi bagi Prabowo hal itu perkara yang remeh. Sebab itu, protes tim suskesnya atas serangan Jokowo, adalah hal yang tidak perlu. Selain tak menyinggung SARA, dan sepanjang hal itu faktual, serangan Jokowi itu dianggap dinamika berdemokrasi dalam forum perdebatan. Yang perlu dilakukan Prabowo, ia justru harus mengambil pola menyerang juga pada debat selanjutnya. Ada banyak celah bagi Prabowo sebenarnya untuk melumpuhkan Sang Petahana.

Pun begitu, di sisi lain, sikap Prabowo yang tak menyerang balik dan cenderung sabar mendapatkan ‘perlakuan’ dari Sang Petahana, boleh jadi akan mendulang untung secara elektoral karena orang kemudian merasa bersimpati kepada Prabowo. Sebaliknya, bahasa tubuh (gestur) tak patut dari Jokowi saat debat yang terkesan congkak, meremehkan, dan ofensif, bisa menyebabkan mantan Walikota Solo itu kehilangan respek publik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here