Serangan Teror Teheran Perkeruh Konflik Teluk Arab

0
62
Seorang anak lelaki dievakuasi dalam sebuah serangan di parlemen Iran di pusat Teheran, Iran, Rabu (7/6). ANTARA FOTO/Omid Vahabzadeh/TIMA via REUTERS

Nusantara.news Kurang dari tiga minggu lalu presiden Amerika Serikat, Donald Trump berkunjung ke Timur Tengah. Di Riyadh, di hadapan pemimpin negara-negara Arab berhaluan Sunni, Trump menyuarakan propaganda anti-Iran dan menuding secara keras negara Syiah itu sebagai pendukung gerakan terorisme di Timur Tengah.

Tak berselang lama, Qatar diisolasi oleh negara-negara tetangganya di Teluk Arab karena dituduh memihak Iran. Setelah itu, pada Rabu (7/6) pagi terjadi peristiwa teror di dua tempat di jantung ibu kota Iran, Teheran.

Satu serangan bersenjata terjadi di dalam gedung parlemen Iran, satu lagi di luar kompleks pemakaman Imam Besar Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Setidaknya 17 orang meninggal dunia dan 40-an orang lainnya luka-luka. Tak lama berselang, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa ini dengan menyebarkan video rekaman dari lokasi kejadian di situs mereka, Amaq, untuk meyakinkan bahwa benar merekalah pelakunya.

Pasukan keamanan Iran telah membunuh empat pelaku penyerangan, menurut dilaporkan media pemerintah Iran sebagaimana dilansir The Washington Post. Dan beberapa jam kemudian, kepala polisi Teheran mengatakan lima tersangka dan telah ditahan dan diinterogasi.

Adakah rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut saling berkaitan?

Pihak Tentara Pengawal Revolusi Iran atau dikenal dengan Garda Revolusi Iran di bawah pimpinan Ali Jafari menuding Arab Saudi berada di belakang serangan tersebut.

“Serangan teroris ini terjadi hanya beberapa minggu setelah pertemuan antara presiden AS (Donald Trump) dan pemimpin Arab Saudi yang mendukung teroris. Fakta bahwa Negara Islam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab membuktikan bahwa mereka terlibat dalam serangan brutal tersebut,” menurut pernyataan tersebut yang diterbitkan oleh media Iran.

Garda Revolusi Iran atau yang punya nama lain Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) merupakan pasukan yang berbeda dari angkatan bersenjata nasional Iran, Artesh (bahasa Persia: tentara). Pasukan ini dibentuk pada Mei 1979 sebagai kelompok kekuatan yang loyal kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ruhollah Khomeini. Pasukan ini kemudian menjadi kekuatan bersenjata penuh di samping angkatan bersenjata dalam perang Iran-Irak. Garda Revolusi dikenal sebagai kekuatan militer yang memiliki pasukan darat, air, udara, intelijen dan pasukan khusus.

Serangan teror pada Rabu pagi itu, jika benar dilakukan ISIS adalah yang pertama kali di lakukan di jantung negara Iran. Iran bukannya tidak akrab dengan serangan teroris, tapi biasanya hanya terjadi di wilayah pinggiran seperti di perbatasan dengan Pakistan.

ISIS yang mengklaim dirinya Sunni telah bertahun-tahun berperang dengan pasukan Iran, tapi Iran melakukannya secara jarak jauh (perang proxy), misalnya di Irak dan Suriah dimana Iran membantu pasukan pemerintah di sana melawan ISIS. Tapi serangan pada hari Rabu pagi, tampaknya telah mengubah pola perang dengan ISIS selama ini, yaitu ISIS menyerang langsung jantung identitas politik Iran, parlemen dan komplek makam Imam Besar Iran, sebuah kawasan yang selama ini dianggap aman oleh warga Teheran.

Konflik di kawasan teluk Arab yang melibatkan Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat memang pelik, misalnya jika dilihat teror Teheran, pelakunya adalah ISIS maka sebetulnya Iran dan AS mempunyai musuh bersama, yaitu ISIS. Tapi di sisi lain, pemerintah AS, khususnya Donald Trump, justru lebih merangkul Arab Saudi sebagai sekutu utama untuk menumpas terorisme sekaligus membatasi pengaruh regional Iran. Iran sendiri selalu menuding Saudi sebagai penyokong terorisme karena ISIS berideologi Sunni-Wahabi yang berasal dari Saudi. Namun, yang demikian bukanlah hal aneh bagi AS yang dalam banyak konflik kerap menerapkan standar ganda.

Dalam sebuah pernyataan di Gedung Putih, Presiden Trump mengatakan pada hari Rabu (7/6), “Kami bersedih dan mendoakan korban yang tidak bersalah atas serangan teroris di Iran, dan untuk orang-orang Iran, yang mengalami masa-masa sulit itu. Kami menggarisbawahi bahwa negara-negara yang mensponsori terorisme beresiko menjadi korban kejahatan yang mereka promosikan.”

Dewan Nasional Iran-Amerika yang bermarkas di Washington pernyataan Trump sebagai “pesan tanpa perasaan”. Mereka mengatakan bahwa presiden AS itu tidak dapat secara tulus mengakui korban terorisme, oleh karena itu Trump dianggap tidak akan  mampu memimpin perang melawan terorisme.

Iran sebagai negara dengan sebagian besar penduduknya Syiah telah lama berselisih dengan kelompok ekstremis Sunni seperti Al-Qaeda dan ISIS yang memandang Syiah sebagai bukan bagian dari Islam. Mereka telah menyerah kelompok Syiah di seluruh wilayah di Timur Tengah.

Belum diketahui apa tindakan Iran untuk membalas serangan kelompok ISIS, namun yang jelas bahwa peristiwa teror Teheran semakin memperburuk konflik di kawasan Teluk Arab itu, setelah sebelumnya masalah Qatar diisolasi oleh para tetangganya, karena dituding bekerja sama dengan Iran dalam hal pendanan teroris, juga belum selesai.

Bagi ISIS, serangan langsung ke jantung identias politik Iran menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menimbulkan perselisihan regional. ISIS dapat dikatakan “menumpang” momentum perselihan Iran dengan negara-negara Teluk Arab dan AS untuk merealisasikan tujuan ideologis jangka panjangnya.

“Serangan ke Iran langsung benar-benar merupakan realisasi dari tujuan ideologis jangka panjang  untuk ISIS,” kata Charlie Winter, peneliti senior di Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi di King’s College, London sebagaimana Reuters.

“Secara ideologis, (menyerang Iran) implikasinya sangat besar,” katanya. “Sama seperti menyerang AS atau Israel.”

Selain itu menurut dia, serangan dilakukan pada bulan suci Ramadan juga disengaja untuk menghasilkan kejutan yang maksimal di kalangan masyarakat Iran.

Terus lagi, yang diserang adalah Parlemen Iran, yang dihormati secara luas sebagai suara kebijakan dalam negeri, meskipun pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memiliki putusan akhir mengenai sebagian besar masalah internasional dan keamanan.

Satu lagi, makam Ayatullah Ruhollah Khomaeni, sebuah tempat suci bagi warga Iran, pusat penghormatan bagi revolusi Islam tahun 1979, yang menggulingkan pemerintahan monarki sekuler Iran. Bagi orang Iran, serangan terhadap makam Khomeini setara dengan seseorang yang mencoba meledakkan bom di Lincoln Memorial di Washington DC.

“Ini memang mendorong semangat bagi ISIS, terutama mengingat ini adalah serangan pertama yang sukses di Iran,” kata Dina Esfandiary, yang mempelajari masalah keamanan global di Pusat Ilmu Pengetahuan dan Keamanan di King’s College.

Sementara itu, televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan Ayatullah Khamenei yang menyebut serangan tersebut ibarat “kembang api” yang tidak akan melemahkan semangat perang Iran melawan kelompok-kelompok seperti ISIS.

Apa dampak bagi dunia setelah serangan ISIS ke Iran?

Banyak yang mengkhawatirkan konflik di kawasan ini akan meluas ke negara-negara lain. Sikap Garda Revolusi Iran atau IRGC yang keras menuding Arab Saudi, benar atau tidak tuduhan tersebut, kemungkinan besar akan menyebabkan dampak politik yang jauh lebih besar, yang bisa saja memicu ketegangan dengan AS, Arab Saudi dan negara-negara monarki Sunni di kawasan Teluk.

Teror Teheran Rabu lalu bisa juga berlatar belakang terdesaknya ISIS di pusat, Mosul dan Raqqa di Irak dan Suriah, keruntuhan ISIS di wilayah tersebut diakui oleh kehalifahan ISIS sendiri. Sebagai akibatnya, ISIS meminta para pengikutnya untuk berperang melawan musuh-musuhnya di mana pun mereka tinggal. Serangan teror baru-baru ini di Manchester, Kabul, Baghdad, Marawi di Filipina selatan, London, Kampung Melayu Jakarta, mungkin sesuai dengan seruan ISIS di pusat. Mungkin juga teror Teheran.

Ada juga dugaan, teror memang sengaja diciptakan oleh Amerika. Sebagaimana pernah diungkap sebuah dokumen rahasia yang menyebut bahwa pemerintahan George W Bush pada tahun 2000-an  mengguncang Iran dengan mendanai kelompok oposisi internal yang militan di Teheran. Dukungan tidak resmi AS dilakukan terhadap mujahidin e-Khalq atau Mujahadin Rakyat Iran, sebuah kelompok yang sebelumnya didukung oleh Saddam Hussein yang bertanggung jawab atas banyak serangan bersenjata di Iran.

Pertanyaannya, apakah permusuhan terbuka antara Trump dan Iran mendorong terulangnya upaya destabilisasi di Iran seperti halnya di masa lalu?

Trump telah melancarkan serangan ke Iran bulan lalu saat berbicara di Riyadh, menuntut isolasi internasional terhadap Iran Trump menuding Iran sebagai eksportir utama terorisme dan konflik di Timur Tengah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here