Serba Kekurangan, Ini Kisah Emak Saini Diberangkatkan Umroh oleh Orang Misterius

0
577

Nusantara.news, Surabaya – Tangis emak Saini pecah. Emak Saini tak kuasa menahan laju air matanya di hadapan tamu yang sudah berkumpul sejak pukul 08.00 Wib pagi untuk mendoakan keberangkatan umrohnya.

Tangisnya semakin histeris. Deras air matanya tak bisa dibendung oleh siapa pun. Bahkan, semakin tumpah dan menjadi-jadi. Ruahnya mengharukan semua tamu yang hadir. Itu terjadi setibanya Riyana, sesaat sebelum ritual do’a tasyakuran dimulai. Di daun pintu rumah, emak Saini mendekap lalu memeluk erat-erat tubuh perempuan tambun yang sudah diakuinya sudah seperti anak sendiri itu. Sembari menangis sesenggukan, emak Saini berucap pada Riyana: “Iki wis kehendak Gusti Allah, nduk… (Ini sudah kehendak Allah, nak…).”

Namanya Saini. Ya, dia seorang janda renta sebatang kara, tak punya sanak maupun saudara. Dia hidup sendirian setelah suaminya meninggal dunia 2002 silam. Pernah memegang Surat Keterangan Orang Terlantar (SKOT) cukup menggambarkan kehidupan nenek yang tinggal di area pojok gedung kampus Universitas Merdeka (Unmer) Surabaya ini. Karena kepribadian dan usianya yang sudah lanjut, lantas dia lebih akrab disapa mahasiswa di sana: emak Saini. Nenek kelahiran 30 Juni 1940 di Wonogiri ini mungkin salah seorang yang paling beruntung. Siapa sangka, di balik kondisi ekonominya yang serba kekurangan, dia diberangkatkan umroh ke tanah suci oleh orang tak dikenal, Selasa (21/2/2017).

Sejatinya, keberangkatan umroh emak Saini dijadwalkan oleh pendana misterius itu pada 26 Desember 2016 lalu. Namun jadwal umrohnya tertunda. Hampir dua bulan, keberangkatan umrohnya tidak jelas. Pihak penyedia jasa travel umroh dan haji beralasan jika paspor dan visa milik emak Saini terselip entah ke mana. Kendati demikian, emak Saini tetap tegar dan bersabar. Emak Saini tak pernah menaruh curiga, pun tak kecewa. Dia mengaku memahami apa yang jadi kendala.

“Emak kan sudah bilang. Emak ini mung (hanya bisa) pasrah. Nek iki kabeh jalaran Allah, rezeki ora bakal nengdi-nengdi (kalau misal ini semua karena Tuhan, rezeki tidak bakal ke mana). Gusti Allah sampun ngatur (Tuhan sudah mengaturnya),” tutur emak Saini pada Nusantara.news, seusai tasyakuran digelar di sepetak tempat tinggalnya berukuran sekitar 4×6 meter yang hanya dipartisi triplek bekas, berlantai pecahan keramik sisa-sisa material pembangunan gedung kampus.

Sikap yang ditunjukkan emak Saini seakan benar-benar menggambarkan kepasrahannya terhadap Tuhan Sang Maha Kuasa. Keteguhan emak Saini patut diteladani. Nenek yang pada tahun ini berumur 77 tahun ini meyakini bahwa rezeki manusia di dunia sudah ada yang mengatur. Jika umrohnya itu benar-benar lantaran kuasa Tuhan maka rezeki tidak akan lari ke mana.

Nek iki kabeh jalaran Allah lan dudu manungso sing gawe-gawe, rezeki ora bakal nengdi-nengdi (kalau misal ini bukan karena ulah manusia tapi kuasa Tuhan, maka rezeki tidak bakal ke mana). Gusti Allah sampun ngatur (Tuhan sudah mengaturnya),” imbuh emak Saini lirih, sesekali mengusap sisa tetesan air mata yang terselip di lipatan kulit wajah keriput di balik jilbab merah yang dikenakannya.

Kini, doa dan ikhtiar emak Saini sejengkah lagi terwujud. Hikmah kesabaran emak Saini telah mengantarkaan pada waktu yang dinantikannya selama beberapa hari terakhir ini. Jalan dan pintu emak Saini untuk beribadah ke tanah suci tampak terlukis jelas. Bayangannya bisa menginjakan kaki ke tanah suci tidak samar lagi. Emak Saini akan menyaksikan Ka’bah secara langsung, bukan di awang-awang atau hanya bisa menyaksikan lewat layar gambar saja. Itu setelah sang penderma misterius diam-diam mengambil sikap untuk mengganti bendera travel.

“Emak minta tolong, sampaikan terimakasih pada siapa yang memberangkatkan, emak sekarang sudah mau berangkat beribadah ke tanah suci karena Allah. Emak minta doanya agar emak budal-mulih  diparingi selamet (berangkat-pulang senantiasa diberi keselamatan), gak onok blai lan alangan opo-opo (tidak ada rintangan dan halangan), umroh lancar. Semoga keluarganaya diberi kesehatan lahir-batin dan kesuksesan sama Allah. Semono ugo (begitu pula) anak-anakku mahasiswa Unmer dari ujung timur sampai ke barat, ingat dawuh (pesan) kanjeng Nabi Muhammad dan jauhi larangan Allah,” ucap emak Saini, dengan raut wajah kembali sumringah.

Rahmad, seorang pria asal Bojonegoro yang didapati Nusantara.news selalu mendampingi emak Saini di sela-sela tasyakuran mengatakan, jika orang yang mendanai beralih bendera lain lantaran travel sebelumnya tidak ada kejelasan pasti. Alumni mahasiswa Fakultas Ekonomi yang juga sudah dianggap anak kandung ini juga menuturkan sekelumit cerita misterius di balik umroh emak Saini. Itu bermula pada 10 September lalu. Saat itu, ada kabar mengejutkan melalui telepon selulernya. Emak Saini mau diberangakatkan ke tanah suci untuk melakukan ibadah umroh.

“Sebelumnya ada orang travel yang SMS saya agar menyiapkan segala data untuk mengurus paspor dan lainnya yang menyatakan sebagai kelengkapan berangkat umroh emak, tapi tidak saya tindak lanjuti. Selang beberapa waktu lhah kok ada dosen kampus yang meminta saya supaya segera mengurus kelengkapan administrasi seperti yang telah dikabarkan pada saya sebelumnya,” ujar Rahmad, sembari kemas-kemas tetek bengek keperluan umroh emak Saini.

Rahmad yang ternyata adalah suami Riyana, setengah tak percaya menyampaikan hal itu pada emak Saini. Mau tidak mau, Rahmad pun mengajak emak Saini mengurus segala surat-surat. Itu mulai dari KK, E-KTP, paspor sampai vaksin meningitis di Perak. Semua perlengkapan mak Saini tersebut tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

“Saya sempat bertanya siapa sebenarnya orang yang memberangkatkan emak. Namun, seorang dosen di kampus Unmer dan pihak travel ternyata diwejangi (diminta) agar tidak menyebut nama yang mendaftarkan umroh emak,” pungkas Rahmad, sambil berlalu berpamitan menuju tiga mobil yang dipersiapkan untuk mengantar emak Saini yang dijadwalkan berangkat pukul 11.00 Wib dari Bandara Juanda Surabaya.

Kisah umroh misteri Emak Saini ini sungguh membuat bulu kuduk merinding. Ada yang mengatakan, ini hikmah dari sebagian perilaku baiknya. Termasuk, yang kerap meladeni mahasiswa, khususnya para aktivis kampus dan mahasiswa luar kota yang tidak punya pemondokan tetap. Selamat emak, semoga perjalanan ibadah umrohnya lancar dan menjadi haji mabrur. Amin. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here