Serbuan Barang Cina Bunuh Produk Lokal Jatim

0
225

NUSANTARA.NEWS, Surabaya – Serbuan produk asal Cina yang masuk ke Jawa Timur agaknya tak terbendung lagi. Kondisi ini merupakan ancaman serius bagi produk lokal.Presiden Direktur Maspion Group Dr Alim Markus mengungkapkan bahwa diera Masyarakat Ekonomi ASEAN, negara tak bisa melarang produk Cina masuk ke Indonesia. Lalu, bagaimanakah nasib produk maupun perusahaan lokal Jatim?

Menurutnya, keterbukaan pasar, membuat dominasi barang-barang konsumsi atau barang modal asal Cina sangat leluasa masuk ke Indonesia. Cara jitu untuk mengimbangi produk Cina, dalam pandangannya, adalah dengan meningkatkan produk Indonesia dengan harga yang lebih kompetitif.

Sejak kesepakatan Cina – ASEAN Free Trade Asia (CAFTA) tak bisa dipungkiri adanya serbuan produk Cina membanjiri kota-kota di Jawa Timur. Akibatnya, pada tahun 2011 pertumbuhan ekonomi produk lokal menurun drastis sekitar 45%.

“Banyak kendala kenapa produk lokal kita gagal bersaing dengan produk Cina. Sistem pengupahan menjadi masalah serius, di samping faktor kualitas produksi kita. Untuk bisa melawan produk Cina tak ada jalan lain kecuali meningkatkan infrastruktur berbagai bidang,” jelasnya kepada wartawan di Surabaya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sepanjang Januari-April 2016 seperempat atau sekitar 25% impor Indonesia berasal dari Cina. “Impor terbesar (Januari-April 2016) dari Cina, yakni senilai 9,65 miliar dollar AS atau 25,76 persen dari total impor non-migas yang sebesar 37,47 miliar dollar AS,” ungkap Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, di Jakarta, pada minggu ke tiga Desember lalu.

Produk Cina dengan harga yang lebih murah sangat diminati oleh konsumen Indonesia, sehingga dikhawatirkan akan menggeser produk lokal yang dipasaran harganya jauh lebih mahal. Kondisi ini yang membuat keberadaan perusahaan lokal terancam gulung tikar. Dampak ikutan yang akan terjadi adalah meningkatnya angka pengangguran di Jawa Timur.

Entah siapa yang lebih diuntungkan dari serbuan produk Cina ke Jawa Timur ini. Faktanya, dari pengamatan di lapangan, pedagang malah diutungkan dengan kondisi ini. Produk asal Cina tampak laku keras ketimbang produk lokal yang harganya sangat tinggi. Maklum, sebagai pedagang, bagaimanpun juga, harus selalu mengikuti perkembangan pasar serta permintaan barang.

Yudi, salah satu pemilik distributor di Surabaya mengungkapkan bahwa permintaan barang asal Cina lumayan banyak. Harga produk Cina memang murah, namun dalam hal kualitas produk negara Tirai Bambu itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan produk lokal yang harganya kurang kompetitif. Barang asal Cina yang diminati masyarakat antara lain adalah kipas portable yang hanya dihargai Rp43.000, catokan keriting rambut yang dipatok Rp16.500, hingga alat pijat kaki yang dibanderol dengan harga Rp93.700.

“Soal omzet tentu lumayan banyak dan cukup untuk menutup biaya operasional toko. Tak hanya soal harga, variasi model ditawarkan produk Cina lebih menarik ketimbang produk lokal. Ini yang membuat konsumen ngebet untuk membelinya,” jelasnya kepada wartawan.

Sementara itu pengamat ekonomi mikro Universitas Airlangga, Surabaya, Dr, Sri Kusreni mengungkapkan bahwa produk asal Cina sangat diminati konsumen lokal, seiring dengan harganya yang jauh lebih murah ketimbang produk lokal. “Kalau pemerintah tak melakukan pengaturan terhadap masuknya produk Cina, dampaknya sangat besar dan mengancam kelangsungan industri lokal,” terangnya.

Eni panggilan akrapnya juga menambahkan peredaran produk Cina mengunguli produk lokal jauh lebih tinggi. Kondisi ini, kalau tidak segera diantisipasi, akan mematikan perusahaan atau industri lokal yang selama ini menggantungkan nasibnya dari konsumen domestik. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here