Serbuan Gula Olahan Membuat Petani Was-was

0
89

Nusantara.news, Surabaya – Dengan dalih mesin tua peninggalan Belanda dan tidak ekonomis tujuh pabrik gula (PG) di sejumlah daerah Jawa Timur terancam ditutup.

Itulah kado pergantian tahun pemerintahan Joko Widodo kepada petani tebu. Di sisi lain, pemerintah memberikan karpet merah kepada investor asing membuka pabrik gula baru. Tentu saja dengan tekhnologi mesin yang lebih modern dan mampu menampung hasil petani yang lebih besar

Bahkan di Kabupaten Lamongan, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto turun langsung meresmikan pembukaan operasional PG Kebun Tebu Mas (KTM). Kabarnya pabrik itu mampu menampung 12 ribu ton can day (TCD) tebu per hari. Dengan begitu, KTM akan menjadi leader dalam pengolahan tebu di Jatim.

Sepintas memang tidak ada yang aneh. Toh demikian, nusantara.news menemukan kecemasan di kalangan petani, antara membanjirnya produk olahan gula rafinasi di pasar. Diduga gula rafinasi itu diolah di pabrik swasta.

Diduga pabrik swasta mengolah produk rafinasi yang menurut sumber kami diimpor dari Thailand dan Vietnam. Dengan diolahnya gula rafinasi, petani setempat khawatir nantinya hasil panen mereka tidak bisa ditampung di KTM. Sedangkan 7 PG yang ada sudah ditutup.

Logikanya, gurita bisnis investor asing tentu tak ingin kerja sosial dengan hanya sekedar menampung tebu petani. Petani bertambah was-was mendengar berita ribuan ton gula impor rafinasi akan didatangkan ke Jawa Timur.

Kendati Gubernur Jatim Soekarwo menjamin gula bahan baku industri ini tidak beredar di masyarakat, namun pengelolaan gula rafinasi di KTM menjadi pertanda bahwa asing juga punya kepentingan bisnis dalam hal ini. Bisa dibayangkan jika hasil olahan rafinasi yang didatangkan ke Jawa Timur akan bersaing dengan tebu petani.

Oleh karenanya, Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Jawa Timur Arum Sabil mewaspadai beroperasinya pabrik gula asing di Jawa Timur. Sebab itu akan menjadi lonceng kematian petani tebu.

“Dari sisi harga, tentu saja gula hasil panen tebu petani kalah murah. Belum lagi batasan rendemen yang kami (petani, red) hanya pasrah pada pabrik. Juika itu terbukti, ya nunggu waktu saja petani tebu di Jawa Timur akan meninggalkan profesinya,” sorotnya.

Karenanya, Sabil berharap Gubernur Soekarwo dan wakil rakyat tidak meninggalkan mereka. Bagaimanapun juga, Jawa Timur tidak bisa melepaskan dari kultur tebu. Bahkan munculnya perlawanan rakyat di madura melalui tokoh Sakerah juga bernuansa ketidakadilan dalam pembagian rasa manis lahan tebu.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here