Sering Diintimidasi, Pedagang Pasar Merjosari Lapor Komnas HAM

0
62
Sisa Puing Pembongkaran Pasar Merjosari (Sumber: Foto Aditya/Nusantara.news)

Nusantara.news, Kota Malang –  Polemik penggusuran pasar yang semakin berlarut hingga hari ini semakin lama semakin tegang. Sesekali kedatangan pasukan polisi, wastib pasar, dan TNI ke Pasar Merjosari tiap paginya mendapat perhatian tajam dan jeli oleh para pedagang pasar.

Pedagang Pasar Merjosari mengadukan Pemkot Malang terkait nasib mereka, kepada Komnas HAM. Hal ini karena para pedagang terus menerus merasa didzalimi. Surat aduan itu sudah dilayangkan pada (4/5/2017) lalu.

Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar, Sabil El Achsan, mengungkapkan, kebijakan Dinas Perdagangan telah melanggar HAM. “iya mereka melanggar HAM karena dengan seenaknya melakukan penggusuran, tanpa ada rembuk dan kesepakatan bersama dengan semua pedagang, bukan hanya segelintir pedagang saja lho ya!” ungkap Dia kepada Nusantara.news, Jum’at (5/5/2017).

Kami dipindahkan kembali, namun bangunan tak layak ditempati dan tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama dengan para pedagang “Masih banyak ketidaksesuaian item-item, surat amdal dan SLF pun belum ada, masih kah kita harus dipaksa pindah? Dengan tak mengantongi SLF dan Amdal itu kan juga akan membahayakan para pedagang mas.” imbuh Sabil.

Pemerintah seharusnya menjamin hidup masyarakatnya, terutama juga para pedagang Pasar Merjosari. “Yang namanya pemerintah sebagai penyelenggara negara idealnya mengayomi rakyatnya, bukan malah justru membahayakan, merugikan bahkan menyingkirkan,” tandas Koordinator Paguyuban Pasar tersebut.

“Bangunan tak layak, tak sesuai perjanjian kerjasama, masih saja kami dipaksa pindah, apakah itu yang dinamakan menjamin masyarakatnya?” tanyanya dengan nada menyindir.

Dia menambahkan, pedagang kecewa tentang pemutusan saluran listrik dan air. Karena kejadian itu, pedagang kesulitan dan harus berupaya secara mandiri untuk mendapat listrik dan air. “Kami iuran cari jenset atau generator sendiri, dan tindakan pemutusan tersebut seperti menandakan kita diusir secara perlahan mas,” ungkap Sabil.

Ia menjelaskan bahwa pada titik kios yang masih berjualan, tiba-tiba atapnya sudah dibongkar “Pembongkaran atap dan kios ini juga sangat meresahkan kami, padahal banyak pedagang yang masih berjualan,” pungkasnya.

Pihaknya menjelaskan bahwa selama ini banyak sekali ancaman dan intimidasi serta beragam bentuk arogansi yang diterima pedagang. “Kios kami yang ada tulisannya MASIH JUALAN, tiba-tiba pagi harinya sudah ada tanda silang yang merupakan tanda untuk siap di gusur,” tutur dia, dengan lusuh.

Sabil berharap, semoga keluhan dan eresahan dari para pedagang ini bisa langsung didengar dan ditindak lanjuti oleh Komnas HAM “Semoga apa yang dialami pedagang merjosari bisa ditanggapi dengan cepat oleh pihak Komnas HAM,” harap dia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here