Seruan OKI tentang Rohingya Semoga Bukan Wacana

1
176
Pengungsi anak-anak Rohingya dihentikan oleh sukarelawan saat mereka berdesakan untuk menerima bantuan makanan yang didistribusikan oleh organisasi lokal di Kutupalong, Bangladesh, Sabtu (9/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui/cfo/17

Nusantara.news, Jakarta – Seruan tentang Rohingya menggema dari sejumlah pimpinan negara Islam pada Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam (KTT-OKI) di Astana, Kazakhstan, 10-11 September 2017 kemarin.

Pertemuan yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu dihadiri oleh 20 dari 57 negara Islam yang menyatakan telah bergabung ke OKI.

Diantara 20 negara yang hadir hanya 12 kepala negara yang hadir, antara lain Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, Presiden Bangladesh Abdul Hamid, Presiden Guinea Alpha Conde, Presiden Republik Islam Pakistan Mamnoon Hussain dan Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz.

Selaku tuan rumah, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev yang berpidato di acara pembukaan, menyerukan semua negara OKI memberikan dukungan kepada warga Rohingya di Myanmar. Nazar juga menandaskan, Kazakhstan akan berkomunikasi dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) agar penuntasan kasus kemanusian di Rakhine bisa dituntaskan.

“Kami sangat peduli terhadap kasus yang menimpa warga Rohingya. Kami berharap kita semua bisa melakukan dukungan dan terus melakukan dialog bersama untuk bisa mendorong adanya penyelesaian kasus di Rohingya,” seru Nazar pada pidato pembukaan selaku tuan rumah di Istana Merdeka, Astana, Kazakhstan, Minggu (10/9) yang lalu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang sejak awal mengerahkan segenap sumber daya untuk membantu Rohingya juga mendesak adanya upaya-upaya kongkrit PBB dalam menuntaskan kasus itu. Dia menegaskan, apa yang terjadi di Rakhine, Myanmar, adalah keprihatinan bersama. Maka Turki sangat mengutuk keras atas dugaan terjadinya kejahatan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya.

“Kita sebagai negara-negara Islam tentu harus memberikan dukungan kepada Rohingya. Kekerasan dan tragedi yang terjadi disana harus dihentikan,” kecam Erdogan.

KTT OKI di Astana disebut-sebut KTT yang pertama membahas persoalan ilmu dan teknologi (Iptek).  Pada KTT sebelumnya banyak membahas tentang isu Palestina, isu anti Islam Phobia, isu terorisme, isu demokratisasi dan kesetaraan gender.

Persoalannya, kenapa hanya 20 diantara 57 negara OKI yang hadir. Bahkan diantara 20 negara yang hadir hada ada 12 kepala negara yang menampakkan batang hidungnya. Sedangkan Presiden Joko Widodo mengirimkan utusan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menghadiri acara itu. Apakah OKI telah kehilangan marwahnya di kalangan negara-negara anggotanya?

Sejarah OKI

Sejak didirikan pada 22-25 September 1969 oleh pemimpin sejumlah negara Islam pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam I di Rabat, Maroko, gaung Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sejak 2011 berubah menjadi Organisasi Kerjasama Islam hanya menggelegar di saat-saat KTT berlangsung. Sudah itu hampir semua keputusan yang diambil OKI berakhir sekedar wacana.

OKI memang lahir sebagai reaksi atas pembakaran Masjid Al-Aqsa, Yerussalem, pada 21 Agustus 1969 oleh tentara Israel. Pembakaran masjid itu memicu solidaritas negara-negara berpenduduk muslim, termasuk negara-negara Arab sekuler seperti Mesir dan Turki yang selama ini enggan bergabung ke Pan Islamism sebagaimana telah digagas oleh Djamaluddin Al-Afghani.

Kini OKI beranggotakan 57 negara berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika. Pada awalnya OKI memang didirikan untuk menggalang solidaritas negara-negara Islam terhadap isu Palestina.  Kini OKI seperti halnya PBB bicara tentang demokratisasi, kesetaraan gender, dan pengembangan kesejahteraan ekonomi negara-negara muslim. Selain bidang politik, OKI juga bicara masalah ekonomi, sosial dan budaya.

Memang sepanjang 15 kali penyelenggaraan KTT, terakhir kali 2016 lalu, keputusan-keputusan yang dihasilkan terkesan hanya berakhir sebagai wacana.  Karena keputusan-keputusan atau deklarasi yang dihasilkan kesannya hanya semacam himbauan moral, tidak mengikat ke seluruh negara anggota. Karena OKI memang tidak memiliki perangkat kuersif seperti Dewan Keamanan yang dapat menghukum anggotanya.

Toh demikian, dalam sejarahnya Suriah adalah negara pertama yang dikeluarkan dari OKI. Karena memang sebagian besar negara yang bergabung dalam OKI dapat dikesankan sebagai Froxy kepentingan Amerika Serikat. Sedangkan Suriah lebih dekat ke Rusia. Saat Amerika berkepentingan mengusir Presiden Suriah Bashar Assad serta merta upaya ini didukung oleh negara-negara utama dalam OKI, khususnya Arab Saudi.

Kini OKI memang memperluas kerjasamanya di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek. Namun struktur dan kinerja OKI, sebagaimana diakui oleh negara-negara anggota, memang belum efektif. Maka sempat muncul isu revitalisasi pengorganisasian OKI yang term of referencenya (TOR) disusun oleh Malaysia. Namun sejauh ini isu itu juga berakhir hanya sebatas wacana.

Upaya revitalisasi yang menyangkut perampingan struktur, metodologi, peningkatan kemampuan keuangan, dan sumber daya manusia, itu sudah bergaung pada KTT OKI ke-10 pada 11-17 Oktober di Putrajaya, Malaysia. Bahkan usulan itu sudah diakomodasi pada KTT Luar Biasa ke-3 di Saudi Arabia pada 7-8 Desember 2005, namun hingga sekarang OKI tetap tidak begitu dianggap bahkan oleh negara-negara anggotanya. Buktinya pada OTT di Astana kemarin hanya dihadiri kurang dari separo negara anggota OKI

Oleh karenanya, seruan para pimpinan negara Islam pada KTT OKI di Astana semoga tidak berakhir sekedar wacana. Kasihan warga Rohingya []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here