Setelah Bawang Putih, Importir Nakal Kembali Mainkan Garam

0
135

Nusantara.News, Surabaya – Setelah bawang putih, garam menjadi komoditi impor lain yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan akan disalahgunakan oleh importir nakal untuk merusak ketahanan pangan nasional. Beruntung, sebelum beredar di pasaran gudang penyimpanan garam impor asal Australia yang terletak di kawasan Gresik, berhasil digerebek Polda Jawa Timur.

Selain menyegel alat untuk proses produksi, Kapolda Irjen Pol Machfud Arifin di TKP kepada wartawan, mengatakan sudah memasang garis polisi mengelilingi gudang dan memeriksa perusahaan pengimpor, PT Garindo Gresik. “Ada total 116 ribu ton garam industri asal Australia yang kami sita,” terangnya, Jumat (19/5/2017).

Kapolda menjelaskan, informasi penyalahgunaan garam impor tersebut didapat dari masyarakat. Izinnya untuk konsumsi industri, praktiknya dikemas dan siap diedarkan ke pasar umum. “Sesuai aturan kadar garam untuk konsumsi memiliki kadar Natrium Klorida atau NaCl adalah 94 persen, sedangkan kadar NaCl garam ini 97 persen atau diperuntukkan garam industri,” ungkapnya.

Penggerebekan gudang penimbunan garam impor itu juga disaksikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Menurut dia, sinergi antara semua unsur masyarakat dan penegak hukum harus terjalin agar bisa menghentikan praktik nakal yang cuman menguntungkan segelintir pengusaha namun dampaknya bisa mematikan industri garam lokal.

Sebelumnya, Amran beberkan hasil operasi pasar (OP) bawang putih yang mampu menurunkan harga nasional. Seperti dalam pelaksanaan OP bawang putih di Pasar Osowilangun Surabaya, harga tertinggi bawang putih yang dilepas oleh distributor sebesar Rp23.000 per kilogram, diharapkan nantinya harga paling tinggi untuk komoditas tersebut tidak lebih dari Rp30.000 per kilogram. “Di Jakarta sudah, yang berarti Bandung juga sudah dilakukan OP. Dua minggu lalu harga bawang putih Rp50.000, sekarang sudah turun 44 persen,” bebernya.

Amran mengatakan, pasokan yang akan masuk dalam waktu dekat kurang lebih 9 ribu ton. Diharapkan adanya tambahan pasokan bawang putih yang masuk tersebut, akan menurunkan harga pada tingkat konsumen yang beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan harga. “Mulai hari ini, harga dari distributor Rp23.000 ke pengecer. Nanti pengecer harga maksimal Rp30.000 per kilogram. Jika ada yang melanggar, ini adalah hari terakhir mereka menjual bawang di Indonesia,” kata Amran.

Pemerintah memperkirakan importasi bawang putih per tahun 480.000-500.000 ton. Pasokan tersebut didatangkan dari Cina, India, Amerika Serikat, Swiss dan Malaysia. Cina jadi pemasok terbanyak sebanyak 99,25 persen. Amran menyatakan, pihaknya akan melakukan pemantauan pasar-pasar di berbagai wilayah Indonesia khususnya pada tempat yang mengalami kenaikan harga bawang putih.

Kenaikan harga bawang putih dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir akibat adanya kenaikan harga bawang putih dari Cina. Pada Mei 2017, harga mengalami kenaikan kurang lebih sebesar 20 persen yakni sebesar 20,4 Yuan per kilogram atau setara dengan Rp39.350 per kilogram.

Impor bawang putih Indonesia juga pada periode Januari-Februari 2017 tercatat mengalami penurunan secara volume jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tercatat impor sebanyak 60.955 ton pada 2017 dengan nilai 70,5 juta dolar AS, sedangkan pada 2016 impor sebanyak 77.284 ton dengan nilai 57,7 juta dolar AS.

Untuk mengurangi ketergantungan importasi produk hortikulura tersebut, pemerintah juga tengah menyiapkan peta jalan peningkatan produksi bawang putih dalam negeri. Saat ini, produksi dalam negeri sangat kecil, kurang lebih sebanyak 20.000 ton per tahun, sementara impor mencapai 480-500 ribu ton.

Pada OP bawang putih di Osowilangun, pemerintah mendatangkan 6 kontainer bawang putih. Ada tiga jenis bawang yang kali ini dijual, yakni bawang putih dari Cina dijual Rp23 ribu per kilogram atau Rp460 ribu per 20 kilogram. Kemudian, bawang putih dari India jenis super dijual Rp15 ribu per kilogram atau Rp300 ribu per 20 kilogram, dan dari India kualitas pertama dijual Rp10 ribu per kilometer atau Rp200 ribu per 20 kilogram.

Terkait kebijakan pemerintah, Amran memastikan mencabut izin perusahaan impor pelaku penimbun bawang putih yang digerebek aparat di kawasan Marunda, DKI Jakarta, 17 mei 2017. “Saya sudah bertemu dengan Menteri Perdagangan RI dan kemarin telah mencabut izinnya,” ujarnya.

Tak hanya mencabut izin, pihaknya memastikan perusahaan tersebut tidak akan berdagang dan berbisnis bawang putih lagi di Indonesia karena telah membuat resah masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadhan tahun ini. “Termasuk sudah ada penetapan tiga tersangka kasus penimbunan bawang putih di Marunda yang saat ini ditangani serius oleh kepolisian,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah membuat konsensus dengan 42 pengusaha impor yang menetapkan harga bawang putih tidak lebih dari Rp38 ribu per kilogram. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here