Setelah Infrastruktur, Cina Ingin “Kuasai” Alutsista Malaysia

0
379
Foto: AFP

Nusantara.news – Menanamkan pengaruh ke suatu negara selain melalui investasi, dapat juga dilakukan dengan kerja sama pertahanan dan keamanan, salah satunya dalam bentuk penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Itulah yang tampaknya sedang diupayakan Cina ke Malaysia.

Spekulasi tentang pengadaan alutsista dari Cina untuk Malaysia menyeruak pekan lalu, setelah dua laporan media mengatakan bahwa pejabat Cina yang mengunjungi Kuala Lumpur telah membicarakan penjualan peluncur roket dan sistem radar untuk ditempatkan di ujung selatan negara itu yang berbatasan dengan Singapura. Meskipun, laporan tersebut telah dibantah oleh otoritas departemen pertahanan Malaysia.

Dalam konteks alutsista, kepentingan kedua negara (Cina dan Malaysia) bertemu. Cina saat ini sedang punya ambisi membangun kekuatan militer di tingkat global, untuk melindungi kepentingan ekspansi ekonominya. Sementara Malaysia juga membutuhkan penguatan pertahanan dalam negeri yang tertinggal jauh dari tetangganya, Indonesia dan Singapura. Meski Malaysia merupakan kekuatan ekonomi ketiga di Asia Tenggara tapi anggaran pertahanan negara ini rendah kerena adanya penghematan, hanya USD 3,6 miliar. Bandingkan dengan Indonesia (USD 8,2 miliar) dan Singapura (USD 10 miliar).

Alutsista dari Cina yang relatif lebih murah ketimbang produksi negara-negara Barat menjadi alternatif bagi Malaysia. Cina dapat mengakomodasi keinginan tentara Malaysia, misalnya untuk memperbaharui armada angkatan lautnya agar bisa bersaing dengan negara tetangga. Tentu bukan biaya yang sedikit untuk memenuhi hal itu, tapi Cina siap membantu. Selain itu, kerja sama pertahanan juga menambah dimensi baru hubungan Malaysia-Cina yang terus tumbuh.

Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak tahun lalu mengurangi anggaran pertahanannya hingga 13 persen. Oleh sebab itu, para pakar industri memprediksi kemungkinan Cina menjadi solusi berbiaya rendah yang dapat meningkatkan pengadaan alutsista Malaysia.

Bagi Cina, kerja sama pertahanan dengan Malaysia akan semakin memperdalam hubungan diplomatik kedua negara, dan akan membuat Malaysia menjadi salah satu tujuan utama investasi langsung luar negeri Cina.

Bagi perusahaan senjata Cina, kerja sama penjualan alutsista antara Malaysia dan Cina akan disambut dengan tangan terbuka. Cina saat ini sedang mencari kesepakatan ekspor besar-besaran dengan negara-negara yang sebelumnya memenuhi kebutuhan alutsista mereka dari Barat atau Rusia.

“Jika Cina ingin menampilkan diri sebagai pemasok senjata global yang baru dan dapat dipercaya, maka harus mulai melakukan kesepakatan senjata, terutama dengan negara-negara yang telah membeli dari Barat. Malaysia sesuai dengan target itu,” kata Collin Koh, peneliti dari Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura, sebagaimana dilansir South China Morning Post.

PM Cina Li Keqiang dan PM Malaysia Najib Razak di Beijing November lalu. Foto: Yomiuri Shimbun

Li Jie, peneliti senior di Institut Penelitian Militer Angkatan Laut di Beijing mengatakan, tujuan utama Cina untuk memastikan “keamanan regional”. Karena negara-negara yang lebih kecil memiliki kemampuan terbatas untuk mengembangkan senjata mereka sendiri, mereka memerlukan bantuan untuk mempertahankan diri dari serangan teroris dan ancaman lainnya,” kata Li.

Ekspor senjata Cina memang masih berada jauh di bawah AS dan Rusia, tapi telah melonjak 74 persen di tahun 2012 hingga 2016 dibanding lima tahun sebelumnya.

Sebuah lembaga Penelitian Perdamaian Internasional di Stockholm bulan Februari lalu menyebut bahwa Cina telah menjual senjata senilai USD 2,1 miliar pada tahun 2016, masih kalah jauh dengan AS sejumlah USD 9,9 miliar.

Malaysia tahun lalu menandatangani kesepakatan senilai 1,17 miliar ringgit Malaysia untuk membeli empat kapal yang digunakan untuk patroli pantai. Kapal tersebut dibangun bersama oleh China Shipbuilding & offshore International Co., Ltd. (CSOC) dan Galangan Kapal Malaysia Boustead. Ini adalah kontrak kerja sama pertahanan utama yang pertama dilakukan Malaysia dan Cina.

Perusahaan milik negara Cina sebelumnya juga telah bekerja sama dengan Thailand, Kamboja dan Laos terkait kerja sama pengadaan alutsista.

Peningkatan kepentingan Cina di Malaysia

Hubungan bilateral Malaysia-Cina semakin menguat setelah PM Najib kembali dari pertemuan puncak bilateral di Beijing pada November tahun lalu dengan kesepakatan senilai USD 34 miliar untuk investasi Cina di negaranya.

Sebuah lembaga riset di Malaysia Citi Research memperkirakan dana Cina yang diinvestasikan ke proyek kereta api dan pelabuhan Malaysia akan mencapai sekitar 400 miliar ringgit dalam dua dekade ke depan. Sebab itu, dalam konteks investasi yang besar inilah Cina berkepentingan meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Malaysia. Sekali lagi, dengan alasan untuk memastikan keamanan investasi Cina di negara tersebut.

Jon Grevatt, analis pertahanan yang berbasis di Bangkok (IHS Jane’s), punya pendapat agak berbeda. Konteks kerja sama pertahanan dengan Cina, selain sebagai penghematan anggaran, Malaysia juga mendasarkan pada pertimbangan strategis. Ini untuk menyeimbangkan hubungan strategis dengan kekuatan lama.

Menurut Grevatt, Malaysia tidak mungkin meninggalkan pengadaan alutsista dari Barat dalam waktu dekat. Salah satu pembelian pertahanan terbesar Malaysia adalah pembelian dua kapal selam kelas Scorpene dari Prancis (DCNS) tahun 2000-an.

Apa yang terjadi di Malaysia adalah gambaran di mana Cina ketika berinvestasi besar-besaran di suatu negara akan “menuntut” kerja sama bidang pertahanan sebagai upaya Cina menjamin keamanan investasinya, sekaligus meniti jalan menuju kekuatan militer secara global, menyaingi Rusia atau bahkan Amerika. Bagaimana dengan investasi Cina di Indonesia? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here