Setelah Menakut-Nakuti, Bank Dunia Kasih Pinjaman

1
191
Indonesia kembali membuka utang baru sebesar US$300 juta ke Bank Dunia sebagai langkah awal untuk mengucurkan jumlah utang yang lebih besar.

Nusantara.news, Jakarta – Seperti halnya Dana Moneter International (International Monetary Fund—IMF), kini giliran Bank Dunia memberi peringatan dengan nada menakutkan. Ujung-ujungnya malah memberi pinjaman. Modus lama saudara kembar.

Paling tidak peringatan itu terekam dalam Laporan Kuartalan Ekonomi Indonesia, yang dirilis Bank Dunia akhir Oktober 2017.

Rodrigo Chaves, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia menggarisbawahi sejumlah hal terkait upaya Pemerintah Indonesia menjaga ekonomi tetap tumbuh, yakni perbaikan tata kelola fiskal, kebijakan publik yang lebih kuat, serta reformasi struktural. Selain itu, respons yang tepat waktu terkait harga pangan juga dinilai telah memberikan hasil positif.

Menurutnya, masuknya uang tebusan amnesti pajak periode pertama yang sebesar 56,6% dari target Rp165 triliun telah membantu mengurangi risiko fiskal. Penerimaan negara tambahan ini diharapkan dapat menambah belanja modal sehingga membawa dampak positif pada pertumbuhan.

Tak hanya itu, kebijakan cepat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk memangkas belanja negara yang tidak prioritas juga turut membantu meredakan tekanan fiskal.

“Risiko telah menurun dan beberapa indikator membaik. Ke depan, kami optimis bahwa upaya berkelanjutan untuk mengembangkan pariwisata dan manufaktur akan menghasilkan lebih banyak pekerjaan, meningkatkan pendapatan ekspor, dan semakin mendukung pertumbuhan,” tutur Chaves.

Sebelumnya Bank Dunia juga mengingatkan poisisi utang luar negeri Indonesia–sampai Oktober 2017—tercatat US$343,1 miliar (ekuivalen Rp4.631,85 triliun) atau tumbuh 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beberapa pihak khawatir Indonesia tak mampu bayar utang, apalagi nilai rupiah terus melemah.

Adapun rinciannya, posisi utang publik di kuartal III ini sebesar US$175,9 miliar (ekuivalen Rp2.374,65 triliun) dan utang swasta sebesar US$167,2 miliar (ekuivalen Rp2.257,2 triliun). Bank Dunia mengatakan masyarakat sebenarnya tak perlu khawatir dengan utang luar negeri. Namun, Indonesia tetap perlu waspada.

Bank Dunia setuju bahwa utang luar negeri, khususnya swasta adalah unsur penting yang harus dicermati. Apalagi kalau dari PDB (Produk Domestik Bruto) ini masih masuk, dan secara nominal turun, ada risiko depresiasi, dan Bank Indonesia harus mengantisipasi dampak buruknya terhadap rupiah.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan ULN merupakan pekerjaan rumah bagi Indonesia yang tidak mudah untuk diperbaiki.

Selain itu, posisi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah di kisaran Rp13.500 hingga Rp13.600, menurut Bank Dunia perlu dikelola dengan hati-hati. Terutama segala sesuatu yang memungkinkan rupiah bertambah lemah, sehingga diperlukan manajemen moneter yang piawai dari Bank Indonesia.

Peringatan-peringatan Bank Dunia tersebut mengingatkan kita pada 1998, dimana IMF mewanti-wanti bahwa utang luar negeri yang membengkak, nilai tukar rupiah yang melemah, pada gilirannya akan mendorong krisis di Indonesia. Bahkan pada saatnya membuat industri perbankan terpuruk.

Setujui pinjaman

Di tengah peringatan seputar risiko global, utang luar negeri dan nilai tukar rupiah, nampaknya Bank Dunia menyetujui pembukaan utang baru buat Indonesia.

Dewan Direksi Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman sebesar US$300 juta atau ekuvalen dengan Rp4,05 triliun pada 1 November 2017 kepada Indonesia. Utang baru ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kualitas belanja pemerintah, administrasi pendapatan, dan kebijakan perpajakan.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A Chaves menyampaikan, melanjutkan kemajuan signifikan yang telah dicapai saat ini, reformasi fiskal perlu diteruskan agar Indonesia dapat memenuhi aspirasinya. Perencanaan dan penerapan kebijakan perpajakan dan belanja yang efektif dapat secara langsung dan tidak langsung meningkatkan taraf hidup keluarga miskin dan rentan.

”Dengan adanya sistem perpajakan yang lebih efisien dan adil akan memberikan sumber daya lebih baik kepada pemerintah untuk menyediakan layanan penting seperti kesehatan, bantuan sosial, dan infrastruktur,” kata Chaves dalam keterangan tertulis, Jumat (17/11).

Rasio pendapatan terhadap PDB Indonesia merupakan salah satu yang terendah di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kesenjangan pendapatan yang ada saat ini disebabkan oleh tingkat kepatuhan yang rendah. Hal ini juga disebabkan secara sebagian oleh rancangan kebijakan pajak yang kurang optimal sehingga terbatasnya basis pajak dan sulitnya pengelolaan.

Ekonom Utama Bank Dunia dan ketua tim untuk program ini, Hans Anand Beck, menyatakan tanpa reformasi besar dalam pengumpulan pendapatan, seiring dengan terus berlanjutnya harga komoditas yang moderat, maka rasio pendapatan terhadap PDB Indonesia mungkin akan tetap berada pada tingkat yang rendah. ”Hal ini akan sangat membatasi ruang fiskal untuk pembelanjaan prioritas pembangunan,” kata Beck.

Pinjaman Reformasi Kebijakan Pembangunan ke-2 (Second Fiscal Reform Development Policy) mendukung reformasi pemerintah untuk memperbaiki pengumpulan pendapatan dengan memperluas basis pajak dan memperbaiki tingkat kepatuhan bagi pembayar pajak individu maupun perusahaan.

Pembuatan anggaran jangka menengah yang lebih banyak, proses pengadaan barang yang lebih dini, juga pemantauan belanja daerah akan mendukung efisiensi dan efektivitas belanja publik, termasuk untuk kesehatan, belanja modal infrastruktur, dan bantuan sosial.

Masuk perangkap utang

Pembukaan utang baru Bank Dunia ini mengingatkan kita pada masa Sri Mulyani Indrawati menjadi Menteri Keuangan masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pada masa 4 tahun kepemimpinannya di Kementerian Keuangan, Sri telah membuka keran utang ke Bank Dunia mencapai Rp420 triliun.

Sampai dengan Mei 2017, sisa utang Bank Dunia sebagai jejak utang yang diciptakan Sri Mulyani tercatat tinggal Rp234,68 triliun. Jumlah itu meliputi 32,4% dari total utang luar negeri pemerintah.

Dengan demikian, Bank Dunia dan lakon yang sama Sri Mulyani Indrawati, kembali mengantarkan Indonesia ke dalam rezim utang. Jangankan menjadi Vice President Bank Dunia, Sri Mulyani layak menduduki jabatan Presiden Bank Dunia, karena telah berhasil membawa omzet utang Bank Dunia dari Indonesia mencapai Rp420 triliun pada 2013.

Walaupun pembukaan utang baru dikucurkan US$300 juta (ekuivalen Rp4,05 triliun), itu artinya ke depan Bank Dunia akan terus menggerojokan utangnya kepada Indonesia. Entah sampai berapa ratus triliun lagi.

Kalau pada periode pertama Sri Muliyani Indrawati membuka keran utang sampai Rp420 triliun, maka pada periode kedua ini boleh jadi lebih besar karena ada kebutuhan untuk membangun infrastruktur yang ditargetkan mencapai Rp5.500 triliun.

Dari sisi anggaran belanja, boleh jadi belanja infrastruktur Pemerintahan Jokowi akan aman, karena Bank Dunia bisa mengkafer biaya pembangunan infrastruktur. Dari dari sisi pembayaran utang, jelas ini adalah warisan paling tidak mengenakkan buat anak cucu kita ke depan.

Akan kah hal itu direalisasi Sri Mulyani, kita lihat saja dalam bulan-bulan ke depan.[]

1 KOMENTAR

  1. Teman-teman saya, saya sungguh berterima kasih kepada AVANT LOAN atas kebaikan yang dilakukan dengan membantu saya dan hari ini saya mendapatkan pinjaman saya sebesar Rp75.000.000 untuk memenuhi kebutuhan saya.

    Saya menerima pesan konfirmasi dari BCA pagi ini dari BCA dan saya berhasil memperoleh pinjaman di akun saya dengan sukses

    Saya berterima kasih kepada wanita agung Deborah Avant karena saya menjaga kepercayaan saya kepada Anda dan dengan anugerah Tuhan, untungnya, telah terpenuhi dengan sukses.

    Terima kasih banyak untuk memenuhi kebutuhan pinjaman saya secara umum

    Saya juga akan memberitahu teman-teman saya dari orang-orang tercinta yang membutuhkan pinjaman untuk menghubungi Anda dan saya yakin mereka akan bahagia seperti saya

    Terimakasih banyak nyonya Deborah dan AVANT LOAN. Saya selalu berdoa agar Tuhan selalu bersamamu

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here