Setelah Menteri Susi Tenggelamkan 317 Kapal Pencuri Ikan, Ini Dampaknya

1
1962
Penenggelaman kapal pencuri ikan di perairan Desa Morela, Pulau Ambon.

Nusantara.news, Jakarta – Selama menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, secara keseluruhan Susi Pudjiastuti sudah menenggelamkan 317 kapal. Terakhir kali, Sabtu (1/4) kemarin, tercatat 81 kapal ditenggelamkan di 12 lokasi yang berbeda secara bersamaan.

Di antara 317 kapal yang ditenggelamkan, kapal Vietnam menduduki posisi terbanyak dengan jumlah 142 kapal, disusul Filipina 76 kapal, Malaysia 49 kapal dan China yang hanya satu kapal. Kesemua kapal itu ditangkap oleh Gugus Tugas Kemaritiman yang dikenal dengan sebutan Satgas 115.

Menteri Susi yang mengomandoi penenggelaman serentak dari perairan Ambon, Maluku, menyebutnya sebagai kemenangan Indonesia atas aksi illegal fishing yang sebelumnya marak terjadi di Indonesia.

“Ada masa ketika ribuan kapal asing datang secara bebas untuk mencuri ikan kita, tetapi kini mereka tahu bahwa Indonesia akan memberantas kejahatan ini,” ujar Susi.

Namun Menteri Susi dengan Satgas 115 kebanggaannya tidak selalu menang mudah melawan kapal pencuri ikan. Paling sulit adalah menangkap kapal pencuri ikan dari China yang sepertinya dikawal secara resmi oleh pemerintahnya.

Sebut saja saat TNI AL menangkap 12 kapal ikan nelayan China di perairan Natuna pada Jumat, 17 Juni 2016. Dari 12 kapal pencuri ikan hanya satu yang berhasil ditangkap. Itu pun melalui proses yang alot, sebab saat kapal bernama Han Tan Cou 19038 dengan 7 awak kapal itu digiring, tiba-tiba datang kapal Cost Guard China 3303 yang memepet dan lewat komunikasi radio mendesak TNI AL membebaskan kapal yang digiringnya.

Menteri Susi sendiri dalam Forum Sidang Interpol ke-85 di Bali mengeluhkan banyaknya kapal berbendera China yang gentayangan mencuri ikan di perairan Indonesia. “Kami juga tadi mengeluh karena banyak yang bandel-bandel. Yang besar-besar dari negeri Tiongkok,” beber Susi usai sidang Interpol, di Bali, Rabu (9/11/2016) lalu.

Selama ini pencurian ikan di perairan Indonesia sudah dikeluhkan sejumlah kalangan. Akibat pencurian tu Indonesia dirugikan hingga USD 20 miliar atau setara Rp265 triliun per tahun. Maka Presiden Joko Widodo tak lama setelah dilantik memberikan kewenangan kepada Menteri Susi bersikap tegas terhadap pencurian ikan.

Pro dan Kontra

Pada awalnya sikap tegas itu menuai pro-kontra. Bukan rahasia umum, tidak sedikit pengusaha keturunan China di Indonesia memfasilitasi kapal-kapal pencuri ikan dari Tiongkok dengan cara “menyewakan” bendera merah putih atau memberikan nama Indonesia untuk kapal-kapal pencuri.

Seorang Taipan yang semula merajai bisnis perikanan di Tungkal gulung tikar setelah Menteri Susi bersikap tegas menenggelamkan kapal. Muncul pula isu lingkungan bahwa penenggelaman itu membuat bahan bakar kapal tercecer ke laut, tapi isu itu segera dibantah Menteri Susi dengan alasan sebelum penenggelaman tangki bahan bakar sudah dikosongkan isinya.

Tidak sedikit pula yang menyoal tingginya ongkos pemulangan para nelayan pencuri ikan yang kapalnya ditenggelamkan. Ada pula yang menyesalkan, kenapa mesti ditenggelamkan, bukankah kapal-kapal itu bisa dibagi-bagikan secara gratis ke nelayan yang membutuhkan?

Terlepas dari sikap pro-kontra penenggelaman kapal, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana mendukung penuh sikap tegas pemerintah dengan lima alasan.

Pertama, Hikmahanto tidak mengkhawatirkan sikap tegas itu akan memperburuk hubungan diplomatik antarnegara, karena tidak satu pun negara yang membenarkan warga negaranya melakukan kejahatan di negara lain. Kedua, tindakan penenggelaman dilakukan di wilayah kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia (Zona Ekonomi Eksklusif).

Ketiga, urai Hikmahanto, tindakan penenggelaman dilakukan atas dasar ketentuan hukum yang sah, yaitu Pasal 69 ayat (4) UU Perikanan. Keempat, negara lain harus memahami bahwa Indonesia dirugikan dengan tindakan kriminal tersebut. Jika terus dibiarkan maka kerugian yang dialami akan semakin besar. Dan kelima, proses penenggelaman telah memperhatikan keselamatan para awak kapal.

Toh demikian Hikmahanto menyarankan pemerintah melakukan sosialisasi kebijakan penenggalaman kapal pelaku illegal fishing itu ke negara lain. Minimal, kegiatan itu disosialisasikan lewat duta-duta besar yang membuka kantornya di Jakarta. Khususnya duta besar Thailand, Filipina, Malaysia, Tiongkok, dan juga perwakilan Taiwan yang diduga nelayannya sering sliweran di perairan Indonesia.

Dampak Nyata

Terus apa dampak nyata penenggelaman kapal pencuri ikan bagi produksi ikan tangkap di Indonesia? Mengutip data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2016, sektor perikanan Indonesia berkembang 8,37 persen pada basis year to year dan jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang dalam kuartal yang sama hanya tumbuh 4,73 persen.

Nilai ekspor produk perikanan Indonesia tercatat sebesar USD 244,6 juta pada Oktober 2015, sebaliknya impor hanya mencapai USD 12,5 juta saja. Artinya, meskipun situasi global masih tidak menentu namun sektor perikanan masih bisa dijadikan andalan Indonesia untuk memanen devisa.

Dengan semakin melimpahnya perikanan tangkap, nilai tukar nelayan (NTN) juga beringsut naik dari 106,14 pada 2015 menjadi 109 pada 2016. NTN diukur oleh BPS dengan mempertimbangkan seluruh penerimaan (revenue) dan seluruh pengeluaran (expenditure) keluarga nelayan. Kegunaan NTN itu sendiri adalah untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan secara relatif dalam memenuhi kebutuhan mendasarnya.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) dari sektor sumber daya kelautan juga menjulang, dari tahun sebelumnya hanya Rp77,49 miliar menjadi Rp360,86 miliar. Adapun nilai produksi perikanan tangkap tahun 2016 mencapai Rp 125,38 Triliun dengan volume produksi 6,83 juta ton. Tahun 2017 ini KKP pasang target produksi perikanan tangkap 6.624.320 ton dengan nilai produksi Rp 134 Triliun.

Namun memang, kehidupan di kampung nelayan belum terlihat benar kesejahteraannya. Artinya, upaya pemerintah dalam mensejahterakan nelayan setelah penenggelaman kapal-kapal asing pencuri ikan tidak boleh hanya bagus di angka-angka statistik. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here