Setelah Pertemuan Trump dan Xi Jinping

0
192
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kedua kiri) mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) di estat Trump Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, Amerika Serikat, Jumat (7/4) (Foto: Antara/Reuters)

Nusantara.news, Washington, Beijing  – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping bertemu pada 6-7 April lalu di resor pribadi milik Presiden AS, Mar-a-lago di Palm Beach Florida. Meski hubungan kedua negara raksasa ekonomi dunia ini sempat tegang, namun pertemuan kedua orang sangat penting itu berlangsung penuh kehangatan.

Tampaknya, peran menantu Trump, Jared Kushner, yang selama ini telah menjalin komunikasi dengan pihak Cina, cukup besar dalam mencairkan suasana pertemuan. Jared, menampilkan anak-anaknya, cucu Donald Trump, untuk bernyanyi dan membaca puisi berbahasa Mandarin di hadapan Presiden Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan. Sebuah diplomasi kekeluargaan.

Dalam pertemuan,  isu perdagangan dan ancaman nuklir Korea Utara (Korut) menjadi topik utama pembahasan. Pembahasan isu Korut diketahui menuai hasil positif. Kedua presiden menyepakati untuk bekerja sama meyakinkan Korut membatalkan program nuklirnya.

Presiden Trump juga mengungkapkan, melalui pertemuan kali ini, hubungan AS-Cina telah mengalami kemajuan menjadi lebih baik.

Tapi, terkait isu perdagangan AS-Cina Trump memberikan pernyataan yang masih mengambang.  Dia menyebut, terkait masalah hubungan perdagangan AS-Cina hanya waktu yang bisa menjawab.

“Ini adalah suatu kehormatan besar untuk mendapat kunjungan dari Presiden Cina, Xi Jinping dan Ibu Negara, Peng Liyuan sebagai tamu kami di Amerika Serikat. Hubungan persahabatan yang baik telah terbentuk, tapi terkait urusan perdagangan hanya waktu yang bisa menjawab,” tulis Trump sebagaimana dilansir Telegraph, Minggu (9/4).

Apa saja yang bisa dicatat dari hasil pertemuan kedua pemimpin negara besar di dunia ini?

Sebagaimana dikutip The Washington Post, setidaknya ada 6 hal dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping.

Pertama, AS dapat bertindak sendiri dalam menghentikan program senjata nuklir Korea Utara. Trump telah berulang kali mengeluh bahwa Cina tidak melakukan upaya yang maksimal untuk menghentikan program nuklir Korut.

Dari hasil pertemuan, ada gagasan positif antara kedua pemimpin negara untuk bekerja sama melakukan upaya menghentikan program senjata nuklir Korut.

Namun para pengamat mengatakan, Cina tidak bisa melakukan apa pun untuk menggoyang rezim Kim Jong-Un di Pyongyang, dan Trump kemungkinan juga menyadari hal itu.

Sebaliknya, pemerintah AS tampaknya bersiap-siap untuk bertindak dengan caranya sendiri. Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengatakan bahwa untuk sementara kedua belah pihak setuju untuk bekerja satu sama lain dengan masyarakat internasional untuk meyakinkan Korut agar menghentikan program senjata nuklirnya.

“Mereka fokus pada komitmen yang ada sebelumnya, bukan “komitmen baru,” kata Tillerson.

Tillerson juga mengatakan, Trump telah mengatakan kepada Xi, “Kami akan senang untuk bekerja dengan mereka, tapi kami mengerti ini menciptakan masalah yang unik dan tantangan tersendiri bagi mereka. Tapi kita akan, dan sedang mempersiapkan pilihan-pilihan kita sendiri jika Cina tidak dapat berkoordinasi dengan kami.”

Bisa jadi ini sinyal akan adanya upaya sanksi yang lebih kuat terhadap perusahaan Cina yang melakukan bisnis dengan Korut. Lebih lanjut, AS kemungkinan bakal meningkatkan pertahanan rudal di Korea Selatan dan Jepang atau bahkan mungkin melakukan aksi militer secara sepihak. Serangan rudal Donald Trump ke Suriah menjadi sedikit peringatan, bahwa ancaman Trump nyata.

Kedua, Belum ada kesepakatan yang terbuka terkait perdagangan. Mengurangi defisit perdagangan AS atas Cina adalah bagian agenda Trump, dan Cina sekarang mengakui kebutuhan untuk “perdagangan yang lebih seimbang,” kata Menteri Keuangan Steve Mnuchin.

Para pengamat memperkirakan Xi membawa satu paket janji-janji dan ide untuk memotong defisit tersebut, namun belum ada pihak mana pun yang dapat membuka apa sesungguhnya hasil dari pertemuan.

Namun demikian, pemerintah AS mengatakan ada harapan terkait masa depan perdagangan AS -Cina. Menteri Perdagangan Wilbur Ross baru akan mengumumkan bentuk secara pasti kerja sama tersebut 100 hari setelah pertemuan.

Ketiga, Tak ada pembicaraan mengenai lingkungan. Amerika Serikat dan Cina menghasilkan emisi karbon paling besar ketimbang negara-negara lain, dan perubahan iklim merupakan titik kunci dari kerja sama di bawah pemerintahan Obama. Bagaimana di bawah pemerintahan Trump? Belum lama Trump Perintah Eksekutif Trump mencabut kebijakan pemerintah Obama tentang Energi Bersih, dan berencana menghidupkan kembali Power Plan dengan batubara yang di era Obama banyak dikurangi.

“Itu (masalah lingkungan) bukan bagian utama dari diskusi,” kata Wilbur Ross kepada wartawan.

“Kami pikir ini adalah kesempatan yang tidak terjawab bahwa masalah global yang paling mendesak saat ini, ternyata tidak ada dalam agenda pembicaraan hubungan bilateral yang paling penting di dunia ini,” kata Li Shuo, juru kampanye energi iklim di Greenpeace Cina.

“Tidak ada solusi nyata untuk masalah ini tanpa tindakan progresif dari kedua Amerika Serikat dan Cina,” katanya lagi.

Keempat, tidak ada pembicaraan spesifik masalah HAM. Sebuah survei Pew Research yang diterbitkan awal pekan ini menunjukkan bahwa 79 persen orang Amerika percaya kebijakan hak asasi manusia Cina adalah masalah yang sangat serius.

Namun baik Trump atau Xi berkomentar tidak berbicara spesifik tentang masalah ini.

Dalam sambutannya kepada pers, Tillerson mengatakan bahwa dalam pertemuan Trump mencatat pentingnya melindungi hak asasi manusia dan nilai-nilai lain yang dipegang oleh Amerika.

Namun, ketika Tillerson diminta wartawan untuk menjelaskan ihwal HAM yang dibicarakan keduanya, Menlu AS menyebut bahwa pembahasan tidak spesifik mengenai HAM, tapi tercakup dalam diskusi soal kerja sama ekonomi, militer, dan kebijakan luar negeri.

Kelima, mengemas ulang isu-isu lama. Kedua pemerintahan berbicara tentang bagaimana membangun “kerangka baru” untuk bernegosiasi, tapi pada dasarnya mereka hanya mengemas ulang proses yang ada.

Dialog AS – China tentang kebijakan keamanan, ekonomi, penegakkan hukum, keamanan siber, serta sosial dan budaya masih mirip dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya, tanpa kemajuan berarti. Misalnya tentang Laut Cina Selatan, sikap kedua negara masih belum berubah.

“Presiden Trump mencatat pentingnya kepatuhan terhadap norma-norma internasional di Laut Cina Selatan dan Timur,” kata Tillerson, nada yang sama dengan sebelum-sebelumnya.

Keenam, lebih seperti diplomasi keluarga (Kushner). Pertemuan Trump dan Xi Jinping diwarnai pertunjukan keluarga Jared Kushner dan Ivanka Trump yang menampilkan anak-anaknya untuk bernyanyi dan membaca puisi berbahasa mandarin di hadapan Presiden Xi dan istrinya.

Arabella Kushner, (5), cucu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pamer keterampilan berbahasa Mandarin di depan Presiden China Xi Jinping dan sang istri, Peng Liyuan. Arabella menyanyikan lagu Mandarin dan membaca puisi China untuk pemimpin Cina.

Selama beberapa minggu terakhir, salah satu alur cerita hubungan Trump dan Cina yang paling mencolok adalah munculnya menantu Trump, Jared Kushner, sebagai pemain kunci dalam kebijakan-kebijakan Cina, sang istri Ivanka Trump juga memainkan peran.

Pada masa transisi, kebijakan Trump menerima telepon dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah membuat Cina tersinggung, karena Trump dianggap telah merusak komitmen kebijakan “Satu Cina” yang telah berlangsung selama 4 dekade.

Sejak itu, Jared Kushner dilaporkan aktif mendesak ayah mertuanya untuk menarik kembali sikapnya tentang “Satu Cina” guna memperbaiki hubungan dengan Cina.

Anak Trump, Ivanka juga telah memainkan peran, “merayu orang Cina” dengan tampil di sebuah pesta Tahun Baru Imlek di kedutaan Cina di Washington pada Februari lalu. Bersama dengan putrinya Arabella, yang telah mempelajari bahasa Mandarin menyanyi untuk presiden Cina pada momen pertemuan Trump dan Xi JInping. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here