Setelah Sukmawati Minta Maaf

0
434

SEMBARI berlinang air mata, Sukmawati Soekarnoputri meminta maaf atas puisi karyanya yang berjudul “Ibu Indonesia”. Puisi yang dibacakannya  tanggal 2 April kemarin di Jakarta memancing amarah umat Islam, karena beberapa kalimat di dalamnya dinilai melecehkan Islam.

Kalimat itu adalah “Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu”, dan “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azan mu”.

Kalimat di atas jelas sangat merendahkan. Dan yang dituju jelas Islam melalui kata “cadar” dan “azan”. Jadi sangat logis jika umat Islam marah, dan berbagai organisasi sudah melaporkan putri Proklamator itu ke kepolisian dengan tuduhan pencemaran agama.

Sukmawati mengaku tidak punya niat melecehkan Islam. “Saya muslimah yang bangga atas keislaman saya,” katanya. Puisi itu katanya semata-mata adalah pandangannya sebagai seniman dan budayawati dan murni karya sastra.

Kita tak mengetahui mengapa Sukmawati sengaja memilih kata “cadar” dan “azan”, dua kata yang jelas berasosiasi langsung kepada agama Islam. Namun, setidaknya, itu menunjukkan dua hal. Pertama, sebagai seniman dan budayawati, dia sangat miskin metafora. Untuk menggambarkan kemerduan yang lebih, banyak pilihan kata selain “azan”. Untuk mendeskripsikan kecantikan tiada tara, ada kata lain yang lebih tepat ketimbang “cadar”.

Kedua, dia minus sensitifitas. Umat beragama di Indonesia mempunyai ghirah dan sentimen yang tinggi terhadap simbol-simbol keagamaannya, meskipun secara pribadi mereka bukanlah orang yang taat menjalankan ibadat. Orang Islam, meski jarang shalat, akan tersulut emosinya mendengar ada mesjid diganggu. Orang Nasrani, kendati cuma sesekali datang ke gereja, akan segera naik darahnya mendengar gereja dilecehkan.

Jika seperti dikatakannya bahwa apa yang ditulisnya itu adalah “realita”, berarti dia mengabaikan realita psiko-sosiologis umat beragama di Indonesia tersebut. Dikatakan mengabaikan, karena rasanya mustahil realitas itu tidak diketahui Sukmawati. Sebab dia lahir dari lingkungan keluarga politisi pergerakan, dan pernah pula menjadi ketua umum PNI Marhaenisme di era reformasi. Dengan latar belakang seperti itu, sukar untuk mengatakan, apakah pelecehan ini karena kealpaan atau kesengajaan?

Nah, sekarang Sukmawati sudah memohon maaf. Permintaan maaf itu, bisa jadi, memang tulus, seperti dikatakannya, “dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir dan batin kepada umat Islam Indonesia”.

Tapi, mungkin pula ada motivasi selain itu. Misalnya, katakanlah, keinginan menetralisasi opini yang secara politis merugikan keluarga Sukarno. Sebab bisa saja ini kontroversi puisi itu berdampak pada elektabilitas keponakannya, Puti Guntur Soekarno, sebagai calon wakil gubernur di Pilkada Jawa Timur nanti. Ayah Puti, Guntur Soekarnoputra, cepat memberi klarifikasi bahwa puisi itu pendapat pribadi Sukmawati, tidak ada urusannya dengan pandangan dan sikap keluarga. Atau, mungkin pula, akan berpengaruh pula dengan misi politik sang kakak, Megawati Soekarnoputri, di tahun politik 2018 dan 2019.

Tulus atau tidak, toh permintaan maaf sudah diucapkan Sukmawati. Bagi umat Islam, sesakit apa pun perasaannya, kiranya perlu memberi maaf. Memaafkan adalah salah satu keutamaan dalam Islam. Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menganjurkan memberi maaf. Misalnya, Surat Asy-Syuraa (40), ”Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah…” Memberi maaf adalah puncak keagungan akal budi manusia, apalagi jika dia mempunyai kesempatan untuk membalas.

Maaf adalah satu soal. Sejarah negeri ini sudah membuktikan, umat Islam Indonesia amat pemurah dalam pemberian maaf ini. Tetapi, bahwa puisi Sukmawati di atas sudah menorehkan luka di kalangan umat Islam, itu tak bisa dibantah. Dan seandainya luka tersebut melahirkan persepsi tertentu yang mempengaruhi preferensi sikap di medan kontestasi politik nanti, mungkin itu hanya soal konsekuensi belaka. Tangan mencencang bahu memikul.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here