Setelah Suriah, Korea Utara Sasaran AS Berikutnya?

0
300
Kapal induk Amerika Serikat USS Carl Vinson tiba untuk latihan militer gabungan tahunan yang disebut "Foal Eagle" antara Korea Selatan dan Amerika Serikat di pelabuhan Busan, Korea Selatan, Rabu (15/3). (Foto: ANTARA/Yonhap/via REUTERS)

Nusantara.news Setelah menyerang pangkalan militer Suriah di kota Homs, bukan tidak mungkin target serangan Amerika berikutnya adalah Korea Utara, meskipun AS tentu harus mempertimbangkan Cina sebagai kekuatan besar militer yang lain. Cina merupakan sekutu utama Korea Utara.

Mengingat karakter presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang sangat reaktif dan “spekulatif”, ditambah karakter pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un yang juga sama “gilanya” dengan presiden AS, serangan ke Korea Utara mungkin tidak akan menunggu waktu lama. Apalagi juga Cina tak kunjung membuktikan upayannya menghentikan program senjata nuklir Korea Utara.

Serangan mengejutkan terhadap Suriah adalah satu contoh, betapa Trump bertindak sangat reaktif menyerang negara itu dengan tudingan sepihak tentang penggunaan senjata kimia oleh rezim pemerintah Bassar Al-Assad, yang belum tentu kebenarannya.

Apalagi Korea Utara, AS sudah lama menuding Korea Utara mengembangkan senjata nuklir yang melanggar resolusi PBB. Tinggal menunggu satu momentum saja yang memantik emosi Trump, maka pecahlah perang di Semenanjung Korea.

(Baca: Ini Dia, Program Nuklir Korea Utara yang Ditakuti Amerika)

Seperti dikutip NBC News, Minggu (9/4) AS saat ini sudah mulai memindahkan satu grup kapal induknya yang semula berpatroli di kawasan Laut Cina Selatan mendekati kawasan Semenanjung Korea.

Sementara, pembicaraan terkait solusi Korea Utara dalam pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping (6-7 April) di Mar-a-Lago, Florida tidak membuahkan kesepakatan baru. Kedua negara, baik AS maupun Cina, cenderung mengulang nada lama, berkomitmen melakukan sejumlah upaya untuk menekan Korea Utara menghentikan program nuklirnya.

Pengamat menilai, tidak adanya kesepakatan baru AS dan Cina dalam pertemuan penting di Florida itu, merupakan sinyal AS bakal melakukan tindakan sendiri terhadap Korea Utara. Sebagaimana telah digembar-gemborkan Donald Trump sebelumnya. Karena Trump tampaknya tidak begitu yakin Cina bisa mengendalikan Korea Utara terkait program pengembangan senjata nuklirnya.

Laksamana Harry Harris telah memerintahkan agar kapal induk AS Carl Vinson, satu grup kapal pembawa  (Carrier Strike Group) bergerak menuju utara Singapura ke Samudera Pasifik Barat, menurut rilis berita dari Komando Pasifik.

Pejabat AS mengatakan, kelompok kapal penyerang itu akan menunjukkan kehadirannya di wilayah tersebut.

Sejak Maret lalu, Korea Utara telah melakukan sebanyak dua kali tes rudal balistik yang menurut AS melanggar resolusi PBB. Ini berarti, Korut telah melakukan lima kali uji coba rudal yang diduga nuklir, termasuk dua tahun lalu.

Beberapa jam setelah pengumuman serangan rudal AS ke Suriah, Korea Utara berjanji untuk meningkatkan pertahanannya. Seorang pejabat kementerian luar negeri Korut mengatakan kepada kantor berita negara KCNA, serangan udara AS terbaru ke Suriah membuktikan bahwa diperlukan bagi Korut untuk melindungi diri dari serangan Washington.

“Serangan militer AS ke Suriah baru-baru ini adalah tindakan peringatan,” kata laporan itu, sebagaimana dikutip AP. “Kami akan meningkatkan dalam segala hal kemampuan kami untuk membela diri dari serangan AS dan mempertahankan diri dengan kekuatan kita sendiri.”

Juru bicara Komando Pasifik AS, Dave Benham, sebelumnya mengatakan bahwa pergerakan kelompok kapal penyerang AS ini merupakan standar untuk kesiapan dan kehadiran AS di kawasan Pasifik Barat.

“Korea Utara menjadi ancaman nomor satu di kawasan tersebut, karena melakukan uji coba rudal dan program senjata nuklir secara sembrono dan tidak bertanggung jawab serta menimbulkan destabilisasi,” kata Benham.

PM Jepang Shinzo Abe sempat memuji komitmen kuat Presiden AS Donald Trump untuk terlibat dalam keamanan global bersama para sekutunya, setelah Abe melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Trump beberapa waktu lalu.

Trump dan Abe sepakat untuk tetap bermitra dengan Korea Selatan dan melihat respon Cina terhadap uji coba rudal serta pengembangan nuklir Pyongyang.

Keputusan memindahkan kapal induk AS ke Semenanjung Korea dilakukan sehari setelah AS  melancarkan serangan rudal Tomahawk terhadap pangkalan udara Suriah, menanggapi serangan senjata kimia yang diduga dilakukan oleh Pemerintah Presiden Bashar Al-Assad dalam perang sipil di negara itu.

Carl Vinson merupakan kapal induk bertenaga nuklir dengan bobot 97.000 ton, salah satu dari 10 kapal induk AS yang masih aktif saat ini, dia membawa lebih dari 60 pesawat di atasnya dan sekitar 5.000 personel pada saat meninggalkan pelabuhan San Diego 5 Januari lalu. Berlayar bersama Vinson,   dua kapal perusak dengan peluru kendali USS Wayne E. Meyer dan USS Michael Murphy, serta kapal penjelajah dengan peluru kendali, USS Lake Champlain. Kapal induk ini telah berpartisipasi dalam berbagai latihan militer, diantaranya dengan militer Jepang dan angkatan laut Korea Selatan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here