Setelah Usai Perang Tarif

0
82
Penumpang pesawat terbang domestik tak lagi dapat menikmati tarif tiket murah, pasalnya industri penerbangan sudah menaikkan harga tiket guna mengurangi tekanan kinerja keuangan akibat perang tarif di masa lalu.

Nusantara.news, Jakarta –  Era perang tarif untuk industri airline sepertinya sudah usai. Ditandai dengan kenaikan harga minyak dunia yang berujung pada kenaikan avtur, sehingga akhirnya industri airline menyudahi era berpura-pura tarif tiket murah. Namun akhir dari perang tarif ini adalah awal dari era tiket mahal.

Itulah yang terjadi pada industri airline hari ini, terutama untuk angkutan low cost carrier. Dimana dimasa lalu perusahaan penerbangan membanting harga tiket sedemikian murah, bahkan Jakarta-Malang cukup Rp300.000, hampir sama dengan tiket kereta api Jakarta-Malang. Era ini nampaknya telah usai, karena upaya perang tarif ini telah memakan industri penerbangan, bahkan kalau dibiarkan bisa membangkrutkan industri penerbangan ini.

Bayangkan, usainya era perang tarif industri penerbangan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang sempat menyentuh level US$80 per barel. Padahal daya dukung ekonomi kita, sebagaimana tercermiin di APBN, asumsi harga minyak itu hanya di level US$48 per barel. Praktis, kepura-puraan harga murah itu pun terhantam.

Industri penerbaganpun ramai-ramai menaikkan harga. Ada yang naik 300%, ada juga yang naik sampai 500%. Mereka memanfaatkan range harga tertinggi untuk menutup kerugian perang tarif di masa lalu.

Celakanya kenaikan tarif pesawat yang sekarang paling murah seharga Rp1 juta per penerbangan, dibarengi dengan pemberlakukan harga bagasi. Dimasa lalu bagasi terbilang gratis sampai dengan 15 kg, ada yang sampai 25 kg. Ini merupakan pukulan ganda untuk para penumpang. Inilah yang menjelaskan mengapa sekarang bandara-bandara udara di Indonesai terlihat sepi.

Situasi dilematis industri penerbangan ini tentu saja harus dilakukan, sebab kinerja keuangan mereka mulai terpukul. Sebagaimana diakui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Menurutnya, perang tarif yang membuat kinerja industri penerbangan terpuruk, bukan disebabkan harga avtur yang sempat naik tinggi.

Budi menegaskan perang tarif itu berakhir ketika nyaris semua maskapai penerbangan mengalami kerugian. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), misalnya. Hingga akhir kuartal III 2017, maskapai pelat merah itu mencatatkan kerugian US$110,2 juta atau ekuivalen Rp1,54 triliun.

Selain Garuda Indonesia, low cost airline yang beroperasi di dalam negeri, PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP) juga mengalami kinerja buruk serupa. Di kuartal III 2018, AirAsia menderita kerugian Rp639,16 miliar, atau membengkak 45% year on year (yoy).

Maskapai pun ramai-ramai menaikkan tarif hingga mendekati tarif batas atas. Menurut Budi Karya, tarif pesawat tengah kembali ke level normal setelah dalam beberapa tahun terakhir terjadi perang harga antar maskapai.

“Memang selama ini mereka perang tarif. Begitu harganya normal seolah-olah tinggi. Namun demikian, saya memang ajak mereka untuk secara bijaksana melakukan kenaikan itu secara bertahap,” ungkap Menteri Perhubungan beberapa waktu lalu.

Namun sayangnya Presiden Jokowi seperti membelokkan isu, dia merasa kaget dengan naiknya tarif tiket pesawat domestik. “Berkaitan dengan harga tiket pesawat, saya terus terang kaget,” kata Jokowi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan lain Presiden meminta Pertamina sebagai pemasok tunggal avtur ke industri penerbangan untuk menurunkan harga avtur. Dia juga meminta jajaran menteri terkait untuk bisa mencari celah menurunkan harga bahan bakar yang dianggap jadi biang kerok lonjakan tarif pesawat domestik tersebut.
Seperti diketahui harga avtur belakangan ini jsutru sedang dalam tren penurunan, khususnya sejak Oktober 2018. Rata-rata harga avtur dunia yang pada Oktober 2018 berada pada level US$2,25 per galon turun 13,52% menjadi US$1,95 per galon pada November 2018.

Harga avtur kembali turun menjadi US$1,71 per balon pada Desember 2018 alias melemah 11,98%. Harga avtur baru sedikit menguat pada Januari 2019, yakni menjadi US$1,79 per galon atau meningkat 4,73%.

Harga avtur yang dijual Pertamina berpatokan pada Mean of Platts Singapore (MOPS), polanya mengikuti pergerakan harga di pasar global. Pada periode yang sama ketika harga avtur menurun, harga tiket pesawat justru melonjak.

Dalam keterangan tertulis yang dikirim pada 1 Februari 2018 lalu, maskapai-maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) membantah sinyalemen Presiden Jokowi, bahwa sebenarnya kenaikan harga tiket tak berkaitan dengan avtur.

“Kami memastikan bahwa harga avtur tidak secara langsung mengakibatkan harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. Beban biaya operasional penerbangan lainnya seperti leasing pesawat, maintenance dan lain-lain memang menjadi lebih tinggi di tengah meningkatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat,” kata Ketua Umum INACA yang juga Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, IGN Askhara Danadiputra.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga pernah memberi penjelasan terkait harga tiket pesawat yang dikeluhkan masyarakat. Kata Budi Karya, tiket pesawat sebelumnya bisa murah karena maskapai-maskapai perang tarif. Tak ada kaitan dengan avtur.

Pemicu kenaikan tarif pesawat domestik semata-mata perang tarif dimasa lalu, ketika harga minyak dunia naik, ikut menambah berat beban kinerja keuangan airline. Itu sebabnya, apa yang terjadi hari ini, kenaikan tarif hanyalah upaya industri penerbangan untuk berusaha bertahan menghadapi beratnya situasi ekonomi belakangan ini.

Namun memang disayangkan, kenaikan tarif pesawat domestik dilakukan secara gebyah-uyah, semena-mena dan tidak mempertimbangkan kemampuan konsumen. Tinggal bagaimana para regulator mengatur kembali irama ketentuan tarif sehingga jangan sampai malah menghambat pertumbuhan ekonomi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here