Setya Novanto Telah Tamat

0
851

Nusantara.news, Jakarta – Publik lagi-lagi dibikin heboh, setelah dikabarkan hilang saat KPK hendak menjemput paksa ke rumahnya, keesokan harinya (Kamis, 16/11) mobil Fortuner B1732 ZLQ yang ditunggangi Setya Novanto, menabrak tiang listik di Jalan Permata Berlian, Jakarta Selatan. Terlepas peristiwa itu sandiwara lanjutan dari Novanto atau tidak, publik tak lantas menaruh simpati dan keprihatinan. Yang muncul malah rasa sukacita, satir, dan berbagai lelucon.

Lihat saja misalnya kehobohan warganet, alih-alih mencemaskan keadaan “sang papa”, yang ramai justru ungkapan mengejek. Para warganet berharap tiang listrik yang ditabrak mobil Novanto segera mendapatkan hadiah sayembara Rp10 juta yang dijanjikan, karena telah membuat Novanto akhirnya muncul setelah sempat menghilang seharian setelah dijemput KPK. Tagar #SaveTiangListrik bahkan jadi trending topic nomor satu di Twitter Indonesia. Banyak yang mendoakan agar tiang listrik itu baik-baik saja. Tentu saja itu hanyalah lelucon.

Sebelumnya, saat Novanto ditetapkan tersangka oleh KPK untuk pertama kalinya, lalu masuk rumah sakit sampai kemudian memenangkan prapradilan, orang pun ramai berkomentar. Dengan tagar #The Power of Setnov, publik meyakini politisi licin itu “manusia setengah dewa”, yang selalu lepas dari jerat hukum.

Simak beberapa di antaranya: “Setya Novanto bangun kesiangan, matahari yang minta maaf.“ Atau yang lain lagi, “Setnov dipatuk ular, ularnya yang keracunan.” Ada lagi, “Setya Novanto ikut uji nyali, yang kesurupan setannya.” Novanto menjadi politisi yang paling banyak ‘dihadiahi’ meme lucu-lucu.

Ada puluhan lebih sindirian, bahkan mungkin ratusan, dengan alegori serupa itu, yang intinya betapa superioritasnya Novanto. Ada paradoks, ada ironi, ada tawa, meski Novanto dipersepsikan ‘tokoh kuat’, tak tersentuh. Sejak kasus ia dan beberapa politisi Senayan pergi ke AS bertemu Donald Trump yang tengah kampanye dan kasus ‘Papa minta saham’ yang menghebohkan, Novanto memang selalu bebas ancaman sanksi.

Bahkan, kursi Ketua DPR yang semula lepas bisa kembali lagi. Namun, hingga KPK menetapkan sebagai tersangka lagi pada 10 November lalu, Novanto telah dipanggil KPK berkali-kali, baik sebagai saksi maupun tersangka dalam kasus korupsi KTP elektronik yang berpotensi merugikan negara Rp2,3 triliun. Sayangnya, berkali-kali pula Novanto mangkir dan berkelit. Ujunganya, semua itu mengantarkan Novanto menjadi sosok public enemy.

Menyedihkan memang. Ketua lembaga tinggi negara (DPR) sekaligus ketua partai besar (Golkar), menjadi bulan-bulanan rakyatnya. Berkelindan dengan itu, marwah parlemen dan partai politik sudah tentu dalam kehinaan yang makin parah. Publik pun bertanya-tanya, sistem politik macam apa yang melahirkan politisi seperti Novanto, terbelit banyak kasus tetapi kemudian menjadi pemimpin di lembaga terhormat? Bagaimana bisa seorang yang punya rekam jejak “cacat” dan tak patuh hukum, masih dipuja-puji sekutunya dan dipertahankan jabatannya?

Skandal, perselingkuhan, kebohongan, adalah prilaku memalukan yang kini begitu lekat memenuhi ruang-ruang kuasa di tengah era politik tebal muka. Para petinggi di pusat-pusat teladan selain Ketua DPR Setya Novanto, seperti ketua Mahkamah Konstitusi, sekretaris Mahkamah Agung, ketua Dewan Perwakilan Daerah, jaksa, polisi, dan para kepala daerah, juga terciduk KPK karena berbuat kejahatan paling hina itu.

Pun, kasus korupsi yang menimpa ketua umum partai, tak sekali ini saja. Sebelumnya pernah ada LHI (Presiden PKS), SDA (Ketua Umum PPP), dan AU (Ketua Umum Demokrat). Ketiganya memiliki sejarah “dramatik” sendiri-sendiri. Namun, yang paling dramatis dan heboh adalah pada kasus korupsi E-KTP yang menjerat ketua umum partai Golkar, Novanto.

Kondisi ini menandakan bahwa sistem ketatanegaraan, proses berdemokrasi, dan kehidupan kepartaian di negeri ini sedang mengalami “panen raya anomali”. Infrastruktur politik dan mesin-mesin perjuangan rakyat  nyaris seluruhnya telah rusak. Biang kerusakan itu tak lain karena menjamurnya budaya transaksional dan kuatnya oligarki.

Sementara di akar rumput, rakyat tak pandai menyaring pemimpin: lebih larut pada politik gincu dan tak belajar dari pengkhianatan elite yang berkali-kali. Cinta buta dan kultus massa awam pada figur penguasa, tak cukup menggedor kesadaran mereka untuk memukul balik kekuasaan yang mempersulit rakyat, bergaya otoriter, dan haus pajak. Barangkali, perkataan Ibnu Qayyim Al Jauziyah (seorang ulama yang juga hakim) bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya, ada benarnya.

Kembali ke masalah Novanto, seharusnya ia lebih menunjukan sikap seorang negarawan yang taat hukum. Hal demikian justru lebih terhormat sekaligus memberikan contoh elok bagi rakyat. Tak harus seperti ini: mangkir, melawan, membuat sejumlah drama, buron. Semua itu selain berdampak buruk bagi lembaga wakil rakyat, partai politik, dan citra bangsa di mata dunia, juga mempermalukan dirinya sendiri di muka umum. Kewibawaan dan nama besarnya sebagai ketua lembaga negara harus berakhir tragis: diperolok publik, diburu KPK.

Dan, tampaknya “riwayat kejayaan” Novanto pun akan segera berakhir. Para koleganya di istana, juga tangan-tangan orang kuat di sekitar dirinya mulai balik badan. Dari presiden hingga para ketua partai, satu persatu menyuarakan agar Novanto menyerahkan diri. Begitupun dengan KPK, kali ini tak akan memberi ampun, lebih-lebih kekalahannya di praperadilan dan tindakan berulang Novanto mengecoh aturan, jadi pelajaran KPK untuk tak melepaskannya dari jerat hukum.

Jangan tanya media dan sebagian besar masyarakat, umumnya menyuarakan perlawanan pada Novanto. Di sisi lain, para pengacara Novanto dan Novanto sendiri bahkan telah kehabisan akal. Uang, tahta, trik, dan segala tipu muslihat kini memasuki fase akhir, yaitu ketika kebuntuan tak bisa lagi dihindari. Ya, Novanto telah tamat (the end).

Semoga, tak lahir Novanto-Novanto berikutnya![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here