Siaga Virus Intoleransi, Wagub Jatim Sarankan Pemuka Agama “Kopi Darat”

0
140
Gus Ipul dalam sebuah acara di Kementerian Agama

Nusantara.News, Surabaya – Pertentangan antarkubu yang memancing intoleransi terus memanas akhir-akhir ini. Pemerintah yang diharapkan bisa jadi penyejuk terkadang justru memilih kebijakan yang bisa diibaratkan menyiramkan minyak di lingkaran api. Padahal Pancasila sebagai implementasi kearifan lokal masa lalu menyerukan musyawaraf mufakat yang mengedepankan dialog dalam menyelesaikan permasalahan.

Kekayaan budaya itu yang coba ditawarkan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf menyikapi situasi akhir-akhir ini. Tatap muka antarpemimpin agama menurut dia, bisa jadi landasan untuk rumuskan jalan keluar mencegah intoleransi merembet ke Jawa Timur. “Pemuka agama harus sering berkomunikasi ke dalam dan ke luar dengan mengadakan pertemuan-pertemuan,””katanya kepada wartawan ketika hadiri Seminar Wawasan Nusantara yang digelar DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Jatim di Surabaya, Selasa (17/1/2017).

Pemuka agama, terang pejabat yang akrab disapa Gus Ipul ini, punya pekerjaan rumah memberi pemahaman kepada umatnya tentang makna toleransi. Hal itu bisa terus dikembangkan, saling pengertian, menghargai dan menghormati melalui komunikasi makin intensif. “Beda keyakinan merupakan keragaman, tidak boleh dimaki-maki, hal itu tidak pantas, dan bisa menimbulkan ketegangan,” ucapnya.

Menariknya, Gus Pul menilai panasnya kondisi negeri tak lepas dari situasi politik nasional dan global. Menurut dia, pengelompokan yang terjadi saati ini membuat renggang dan saling pengertian sedikit berkurang, padahal seluruh ajaran agama di Indonesia mengembangkan toleransi, saling menghormati keyakinan agama lain.

Karenanya, dia menyarankan pemerintah dan pemuka agama bersinergi. Yakni menjadi suatu institusi dalam mengambil keputusan dan mampu menjaga keseimbangan. Jika perlu, ada agenda bersama mengawal generasi muda yang kerap jadi sasaran gesekan dengan catatan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai acuannya. “Saya bersyukur para pemuka agama, termasuk pendeta di API yang mau terlibat secara aktif merasa terpanggil dengan mengadakan pertemuan atau kopi darat seperti sekarang ini,” sanjungnya.

Ketua DPD API Jatim Djoni Setiono juga punya mimpi yang sama menyikapi kondisi akhir-akhir ini. “Harapannya, pemerintah ada keseimbangan dalam menangani permasalahan agama,” sebutnya.

Jangan Sampai Hilangkan Identitas Agama

Terkait panasnya situasi saat ini, Ketua PCNU Surabaya Achmad Muhibbin Zuhri mengingatkan identitas agama yang jadi dasar toleransi. Dia menegaskan jangan sampai ada pemaksaan identitas agama tertentu menjadi identitas agama lain. Akademisi Universitas Islan Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya tersebut mengatakan, simbol agama jangan sampai atas nama toleransi justru diminta untuk dilepas.

Menurut dia saat ini masyarakat menghadapi dua situasi terkait dengan toleransi. Pada satu sisi ada gerakan yang menegakkan akidah dengan bersikap intoleran dan mengabaikan kebinekaan, di sisi lain ada gerakan yang mengedepankan toleransi dan kebinekaan dengan mengabaikan akidah dan identitas agama. “Kedua situasi ini menjadi persoalan serius yang sedang kita hadapi. Ini harus mendapatkan perhatian bersama,” terangnya kepada wartawan.

Karena itu harus dipahami bahwa toleransi bukan berarti membenarkan semua agama, melainkan saling menghormati dan menghargai antarpemeluk agama. Sebab, tiap pemeluk agama pasti meyakini kebenaran ajaran agamanya masing-masing. Muhibbin mengatakan virus akut yang bisa memecahbelah NKRI harus segera diantisipasi. Baik melalui kegiatan kultural maupun kerjasama antaretnis dan agama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here