Siap-Siap Ribuan Pekerja Bank Bakal Tergusur Fintech

0
469
Suasana back office suatu bank swasta, pada saatnya peran mereka akan tergantikan oleh financial technologi (Fintech) sehingga PHK tak terelakkan

Nusantara.news, Jakarta – Nasib sumber daya manusia (SDM) perbankan dalam lima tahun ke depan diprediksi akan terpangkas sekitar 30%. Pemicunya adalah gencarnya pemanfaatan proses automasi atau lebih dikenal dengan financial technology (Fintech).

Adalah Vikram Pandit, mantan CEO Citigroup yang memprediksi dalam lima tahun ke depan 30% pekerjaan di bank bisa menghilang alias terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Tentu saja kabar ini cukup mengejutkan, tapi apakah PHK itu dipicu oleh krisis global?

Sama sekali bukan, menurutnya pemicu ancaman PHK itu dipicu oleh penggunaan Fintech yang semakin canggih. Sehingga tugas-tugas yang selama ini ditangani oleh karyawan, ke depan tugas itu akan tergantikan oleh mesin-mesin otomatis seperti alat bayar (teller), ATM setoran tunai, autodebet, mobile banking, sms banking dan lainnya.

Belum lagi peran aplikasi perbankan yang semakin canggih, sehingga tidak perlu lagi ada pelayan. Nasabah hanya memencet tombol-tombol dalam aplikasi yang di-install di-hanphone-nya, sehingga transaksi individual banking benar-benar ada dalam genggaman. Artinya, pelayan bank nyaris tidak diperlukan lagi pada ranah operasional bank.

“Ke depan ini (Fintech) nanti yang jadi porsi besar. Jadi pegawai porsi bank lebih banyak ke arah itu. Kami akan data, edukasi dan sertifikasi apa yang harus dilakukan,” kata dia.

 Vikram mengatakan ancaman terbesar teknologi datang dari kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan robot. Kedua teknologi ini akan menggantikan pegawai yang bekerja di back office.

“Saya melihat dunia perbankan beralih dari lembaga keuangan besar ke perusahaan yang sedikit lebih terdesentralisasi,” ujar Vikram seperti dilansir dari Bloomberg, akhir pekan lalu.

Citigroup sendiri diketahui telah mem-PHK sekitar 11.000 karyawan globalnya sampai 2017. Dan proses PHK itu akan terus berlanjut seiring makin canggihnya layanan Fintech.

Sebenarnya prediksi Vikram tidak seberapa, prediksi yang lebih menyeramkan dipaparkan oleh Anthony Jenkins, mantan CEO Barclays—bank terbesar di Inggris—pada 2015. Berbicara di Royal Institute of International Affairs, London, Jenkins memperkirakan jumlah bank tradisional akan turun 50%, dengan keuntungan yang juga akan terpangkas 60% dalam tempo 10 tahun ke depan.

Penyebab utamanya adalah kemunculan layanan Fintech yang menawarkan layanan perbankan berbasis aplikasi.

“Saat ini banyak bermunculan startup baru di area fintech yang menawarkan layanan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih mudah” ungkap Jenkins.

Pria yang mundur dari CEO Barclays Juli 2015 memperkirakan, ada banyak bank yang tidak mampu mengadopsi teknologi secepat start-up ini. Kalau pun mampu bertahan, perbankan tradisional dipaksa melakukan otomisasi proses bisnis, yang berujung pada penurunan jumlah cabang dan karyawan.

“Saya memperkirakan jumlah cabang dan karyawan di industri finansial akan turun sampai 50% dalam 10 tahun ke depan” tambah Jenkins.

Bukan cuma Jenkins yang memperkirakan hal ini. Survei yang dilakukan Temenos (salah penyedia software perbankan terkemuka) menunjukkan 27% petinggi bank telah menganggap fintech sebagai ancaman besar bagi sistem perbankan tradisional.

Ada beberapa fintech yang menonjol belakangan ini. Contohhnya adalah Lending Club, layanan peminjaman berdasarkan peer-to-peer. LendingClub menyediakan platform bagi semua orang untuk memberi maupun memohon pinjaman. Pemberi pinjaman akan mendapatkan return tinggi, sementara peminjam bisa mendapatkan pinjaman dengan mudah.

Ada pula TransferWise, layanan pengiriman uang antar negara. Saat Anda ingin mengirimkan uang ke teman Anda di negara lain (contohnya Singapura), Anda hanya perlu mentransfer uang tersebut secara lokal ke akun TransferWise. Setelah itu, akun TransferWise di Singapura secara otomatis akan mentransfer uang tersebut ke teman Anda. Tanpa adanya biaya manajemen bank, biaya transfer mengunakan TransferWise akan jauh lebih murah.

Menggeliatnya Fintech juga tidak terlepas dari dua fenomena yang mendorong momentum. Fenomena pertama adalah krisis perbankan yang melanda dunia pada tahun 2008. Fenomena lain adalah membuat infrastruktur start-up kini semakin terjangkau, sehingga barrier to entry bagi pendatang baru di industri finansial semakin rendah.

Lalu bagaimana agar perbankan mampu bertahan dari tsunami Fintech ini? Jenkins menyodorkan tiga cara. Namun dalam konteks teknologi adalah dengan menghilangkan strategi teknologi. “Yang harus ada adalah strategi dengan teknologi sebagai intinya” ungkap Jenkins. Artinya teknologi tidak lagi hanya membantu proses bisnis, namun teknologi harus menjadi tulang punggung pengembangan bisnis perbankan ke depan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri diketahui tengah mendata berapa banyak karyawan yang terlibat di industri perbankan. Sambil menengok teknologi baru yang digunakan bank, sehingga memungkinkan nasabah melakukan transaksi tanpa harus ke kantor cabang.

“Itu fakta yang dihadapi. Semua beralih ke arah kemudahan. Orang sudah mulai malas ke kantor cabang. Penggunaan e-banking saja naik terus,” kata Direktur Penelitian Bank Umum OJK Antonius Harie.

Kegelisaan OJK dapat dimaklumi mengingat konsekuensi dari maraknya penggunaan Fintech, akan ada pemangkasan terhadap karyawan yang perannya bisa tergantikan. Itu sebabnya OJK sejak dini menyiapkan konsekuensi logis dibalik penggunaan Fintech.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here