Siapa Capres Kejutan Pilpres 2019?

0
292

Nusantara.news, Jakarta – Kejutan mengenai sosok pasangan calon presiden sangat mungkin terjadi antara tanggal 4 sampai 9 Agustus 2018, atau jelang penutupan pendaftaran pasangan capres tanggal 10 Agustus 2018. Kejutan itu mungkin terkait nama munculnya nama calon presiden di luar nama yang sudah masuk bursa, atau nama yang diasumsikan sudah masuk kotak.

Ada beberapa hal yang berpotensi memicu munculnya kejutan. Pertama dipicu oleh terjadinya perubahan dalam koalisi partai. Kedua, dipicu oleh kekecewaan pihak tertentu karena batal menjadi calon wakil presiden. Ketiga, dipicu oleh munculnya isu baru semacam gerakan 212, salah satunya adalah bangkitnya si macan tidur generasi milenial yang mungkin hadir dengan isu yang dianggap aneh khas generasi milenial.

Kejutan

Sampai saat ini belum terdeteksi siapa tokoh yang akan bikin kejutan. Namun, dari 10 parpol yang berhak ikut dalam koalisi mengusung bakal pasangan capres, terbagi menjadi dua setengah kelompok atau dua setengah kubu. Yakni kubu pertama dalah kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kubu kedua, kubu Partai Gerakan Indonsia Raya (Gerindra). Kubu setengahnya lagi adalah kubu Partai Demokrat. Kubu yang yang setengah inilah yang  paling berpotensi memunculkan kejutan dalam pilpres 2019 mendatang.

Kubu PDIP dapat dipastian sudah utuh dalam pengertian dipastikan memenuhi presidential threshold 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional, syarat UU Pemilu untuk dapat mengusung satu pasang capres. Anggotanya, PDIP (109 kursi), Golkar (91 kursi), PPP (39 kursi), Nasdem (36 kursi), Hanura (16 kursi), dan PKB (47 kursi). Jumlah total kursinya mencapai 338 kursi, jauh di atas 112 kursi, syarat mengusung satu pasang capres.

Kubu Gerindra juga sudah utuh. Anggotanya  Gerindra (73 kursi) dan PKS (40 kursi). Jumlah kursi keduanya 113 kursi, atau lebih satu untuk mengusung satu pasang capres.

Kubu ketiga, yakni kubu Partai Demokrat. Kubu ini baru setengah utuh. Angggotanya Demokrat (61 kursi) dan PAN (48 kursi). Jumlah kursi keduanya 109, kurang 3 kursi untuk bisa mengusung satu pasang calon.

Berdasarkan peta kursi ini, hanya dua pasang capres yang bisa maju, yakni capres usungan kubu PDIP dan capres usungan kubu Gerindra.

Namun format koalisi berdasarkan tiga kubu berpotensi berubah. inilah salah satu yang kemungkinan akan memicu kejutan jelang penutupan pendaftaran pasangan capres tangghal 10 Agustus 2018 mendatang.

Kubu PDIP yang sudah menyatakan akan mengusung kembali Jokowi pada Pilpres 2019, saat ini gencar menggodok siapa calon wakil presiden.

Sejumlah nama sudah muncul, meliputi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Kepala BIN Budi Gunawan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menko Polhukam Wiranto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, juga Ketua Umum PAN  Zulkifli Hasan.

Dari sekian nama ini, hanya satu saja yang yang akan terpilih. Bagaimana dengan nama-nama yang tidak terpilih? Sikap mereka akan beragam. Tidak tertutup kemungkinan ada satu atau dua yang kecewa sebagaimana juga yang ada tokoh yang kecewa ketika gagal menjadi calon wakil Jokowi pada Pilpres 2014.

Jika Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang kecewa, maka 47 kursi PKB di DPR akan menjadi amunisi yang kuat untuk bernegosiasi dengan kubu Demokrat yang kekurangan kursi untuk bisa mengusung satu pasang capres.

Jika kubu Demokrat setuju Muhaimain Iskandar menjadi calon wakil, maka jumlah kursi koalisi Demokrat, PAN dan PKB mencapai 156,  lebih dari cukup untuk mengusung satu pasang bakal calon presiden. Dengan demikian, pilpres akan diikuti 3 pasang capres, masing-masing diusung kubu PDIP, Gerindra dan Demokrat.

Ada kemungkinan terbentuk formasi lain. Hal ini terkait munculnya wacana di mana Jokowi akan berpasangan dengan Prabowo Subianto. Jika skenario ini yang berjalan maka ada dua kemungkinan. Pertama, pilpres diikuti satu pasang capres di mana Jokowi dan Prabowo diusung oleh seluruh partai kecuali Demokrat dan  PAN. Karena dua partai terakhir ini tidak cukup kursi mengusung satu pasang calon, maka Jokowi-Panbowo akan bertanding dengan kotak kosong.

Tapi bisa juga muncul ada dua pasang calon, yakni Jokowi-Prabowo, diusung seluruh partai kecuali Demokrat, PAN dan PKB. Tiga partai sisanya memenuhi syarat dan akan mengusung satu pasang calon presiden siapa mereka, kemungkinannya adalah Gatot-AHY, atau AHY-Muhaimin Iskandar atau Gatot – Muhaimin Iskandar.

Perubahan juga berpotensi dipicu oleh berkembangnya isu baru yang besar seperti gerakan 212 pada masa Pilgub DKI Jakarta. Ada beberapa isu yang berpotensi berkembang dan bergulir seperti bola salju. Antara lain isu PKI, isu Kristenisasi, isu China. Isu ini memang sudah pudar seiring selesainya Pilgub DKI Jakarta.

Tetapi ada Isu lain. Yakni isu yang terkait generasi milenial.  Isu generasi milenial berpotensi menggelinding, karena generasi yang terlahir antara tahun 1980 sampai tahun 2000 ini, saat ini sedang banyak dibicarakan. Bukan hanya oleh bakal calon presiden, tetapi juga ramai dibicarakan oleh calon kepala daerah yang bertarung pada pilkada serentak yang digelar 27 Juni 2018 mendatang.

Belum diketahui isu apa yang kemungkinan akan menggelinding terkait generasi milenial. Namun, setelah pilkada nanti, diperkirakan akan banyak analisa mengenai pilihan generasi milenial dikaitkan dengan calon terpilih.

Jika misalnya Ridwan Kamil yang disebut-sebut disukai oleh generasi milenial, terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat, maka generasi milenial akan menjadi sasaran bidik semua capres.

Riset atau survey tentang generasi milenial diperkirakan akan makin banyak. Jika survey misalnya mengatakan generasi milenial mengidolakan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang disebut Jokowi muda dan ganteng, maka bisa jadi sebagian partai yang sekarang sudah menyatakan berkoalisi dengan kubu PDIP akan bergeser dan menjalin koalisi dengan kubu Demokrat.

Mengapa, karena jumlah generasi milenial sangat besar, mencapai sekitar 84,75 juta pemilih, atau sekitar 40 persen dari jumlah pemilih tetap (DPT) pada pilpres 2014  sebesar 190.307.134 pemilih.

Jumlah generasi milenial ini bahkan lebih besar dari perolehan suara Jokowi-JK saat memenangi Pilpres 2014. Jokowi-JK ketika itu memperoleh 70.997.85 suara, atau lebih kecil sekitar 14 juta dibanding jumlah generasi milenial.

Sedemikian rupa, politik masih cair, sehingga perubahan masih sangat mungkin terjadi. Semuanya akan ditentukan oleh perkembangan situasi, dan oleh sebab itu pula, formasi pasangan capres, dan jumlah pasangan capres berpotensi mengalami perubahan.

Semuanya akan final jelang penutupan pendaftaran pasangan capres, dan oleh sebab itu, kejutan akan datang jelang penutupan pendaftaran pasangan capres.

 Pengalaman Pilpres 2004 dan 2014

Sejak reformasi, sudah tiga dilaksanakan pemilihan presiden, yakni 2004, 2009 dan 2014. Dari tiga kali pilpres ini, dua kali diwarnai kejutan, yakni Pilpres 2004 dan Pilpres 2014.

Kejutan pilpres 2004 ditandai dengan majunya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon presiden. Kehadiran SBY dikatakan kejutan, karena ketika itu Partai Demokrat yang didirikan tahun 2001 belum ikut Pemilu 1999, sehingga belum punya kursi di DPR.

Selain itu, SBY masih menjabat Menteri Koordinator Politik Sosial dan Keamanan sampai Maret 2004, atau tiga bulan jelang pilpres yang digelar 5 Juli 2004. Keberadaanya sebagai menteri, membuat  namanya tidak banyak muncul dalam bursa capres.

Nama SBY ketika itu, juga dianggap kalah tenar dibanding nama-nama terutama Megawati Soekarnoputri yang ketika itu menjabat presiden, Amin Rais, Hamzah Haz, Wiranto, dan lain sebagainya. Kejutan terjadi tanggal 10 Mei 2004 ketika SBY-JK mendekalarasikan pencalonannya.

Kejutan Pilpres 2014 ditandai dengan majunya Jokowi sebagai calon presiden. Seperti SBY, nama Jokowi ketika itu juga diperkirakan tidak akan muncul jadi calon presiden. Selain bukan elite PDIP, Jokowi mejabat Gubernur DKI, di mana kepala daerah dianggap bukan sumber pemimpin nasional.

Sejumlah analisis terkait Jokowi juga cederung melihat Jokowi tidak akan maju. Kejutan terjadi ketika  pada 19 Mei 2014, Jokowi-JK menggelar deklarasi, di mana beberapa saat kemudian diikuti  deklarasi Prabowo-Hatta.

Siapa yang berpotensi membuat kejutan pada Pilpres 2019 mendatang? Mungkin mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo yang belakangan disebut-sebut sudah masuk kotak karena tidak mungkin masuk kubu PDIP maupun kubu Gerindra.

Gatot bisa menjadi pembuat kejutan karena tidak tertutup kemungkinan akan diusung oleh Demokrat yang disebut-sebut sedang mempersiapkan poros baru atau poros ketiga di luar poros Gerindra dan PDIP.

Nama lain yang juga berpotensi membuat kejutan tentu saja adalah nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang juga akan diusung oleh .poros baru atau poros ketiga tadi. Kejutan juga mungkin datang dari nama lain yang masih terpendam tetapi memiliki reputasi.

Seperti apa peluang  tokoh kejutan itu? Hitung-hitungan di atas kertas mungkin kalah, tetapi seperti SBY pada Pilpres 2004 dan Jokowi  pada Pilpres 2014, tokoh kejutan itu bisa keluar sebagai pemenang pada Pilpres 2019.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here